Duka Mendalam Menyelimuti Sekolah dan Keluarga Siswa

Infomalangraya.net, Batam –

Duka mendalam menyelimuti lingkungan SMPIT Insan Harapan Tembesi Sagulung Batam. Tiga siswa terbaik sekolah ini, Rino Arif Bakhtiar kelas 8B, Safaraz Akma kelas 9B, serta Ruhalzan Syakir kelas 9B, meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di jalan Trans Barelang, Minggu (5/4) pagi saat sedang pergi memancing ikan.

Ketiga korban dikenal sebagai siswa yang sopan, rajin beribadah, dan memiliki perilaku baik. Mereka selalu menjadi contoh bagi teman-temannya dalam hal disiplin dan kesopanan.

Kepala Sekolah SMPIT, Sri Nurhayati, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian ketiga siswa tersebut. Ia mengatakan bahwa kehilangan tiga siswa sekaligus sangat memukul sekolah dan para siswa lainnya.

“Kami keluarga besar melalui yayasan menyampaikan duka mendalam kepergian ananda, siswa terbaik kami. Mereka adalah anak-anak yang rajin dan pintar. Semoga keluarga diberi ketabahan,” ujar Sri Nurhayati saat ditemui Tribun Batam di sekolah, Senin (6/4) siang.

Suasana sekolah pada hari itu tampak biasa, dengan aktivitas belajar mengajar berjalan lancar. Namun, ruang kelas Safaraz dan Ruhalzan terlihat hening. Di sana, teman-temannya sedang mengikuti ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA). Seharusnya, dua siswa ini juga hadir bersama teman-temannya, namun nasib berkata lain.

“Anak-anak, teman kelas ananda (alm) harusnya ikut ujian TKA dua hari sampai besok,” kata Sri Nurhayati.

Proses Penerimaan Kabar Duka

Pihak sekolah pertama kali menerima kabar duka ini melalui telepon dari orang tua salah satu korban, Safaraz, pada sekitar pukul 11.00. Orang tua dari Ananda Aras menelepon dan memberitahu bahwa anaknya mengalami kecelakaan dan telah meninggal dunia.

“Pada saat itu, orang tua dari Ananda Aras menelepon kami sekitar jam 11.00, menginformasikan bahwa anaknya mengalami kecelakaan dan telah meninggal dunia,” tuturnya dengan nada berat.

Begitu menerima kabar, seluruh guru langsung bergerak. Mereka mendampingi proses identifikasi di rumah sakit hingga pemakaman selesai dilaksanakan.

“Kami dari jam 11.30 diinformasikan. Sampai ke jenazah, ke rumah sakit, sampai dimakamkan, kami stand by di situ, guru-guru semuanya,” ujar Kepala Sekolah.

Identifikasi Jenazah yang Menyedihkan

Identifikasi jenazah di rumah sakit berlangsung tidak mudah. Pihak sekolah yang pertama tiba sempat tidak dapat mengenali wajah para korban karena kondisinya telah berubah.

“Kami awalnya memang tidak mengenali wajahnya. Ketika Ustaz Zawadi, wali kelasnya, datang, barulah dia mengenali satu anak,” jelas Kepala Sekolah.

Satu korban lainnya baru berhasil diidentifikasi setelah teman-teman sekelas mereka datang ke kamar jenazah, mengenali dari baju kelas yang dipakai korban seragam khas kelas 8 yang menjadi tanda pengenal terakhir.

Perilaku Siswa yang Baik

Salah satu korban, Rino, tercatat sebagai siswa kelas 8B. Kepala Sekolah menggambarkan ketiga korban sebagai siswa yang menonjol bukan dari sisi prestasi akademis, melainkan dari akhlak dan keseharian mereka.

“Sehari-hari, mereka memang sopan, baik, ibadahnya juga bagus. Makanya kami ketika mendengar kejadian ini langsung merasa kehilangan banget, sedih banget,” ungkapnya.

Sebelum kejadian, ketiga siswa berpamitan dengan alasan hendak memancing, ini sebuah kegiatan positif yang memang menjadi hobi mereka.

“Daripada nongkrong enggak jelas, kami mancing aja, hasil tangkapannya kadang dijual, uangnya ditabung,” cerita Kepala Sekolah menirukan kebiasaan para siswa tersebut.

Mereka awalnya memancing di danau belakang rumah Rino, di kawasan arah Sidomulio. Ada saksi yang melihat mereka sempat di lokasi itu sebelum kemudian berpindah tempat.

Yang membuat pihak sekolah terkejut, ketiga siswa ternyata pergi berboncengan bertiga dengan satu sepeda motor.

“Kami pun tidak menyangka mereka berboncengan bertiga. Biasanya tidak seperti itu,” imbuh Kepala Sekolah.

Tragedi Terjadi Jelang Ujian

Tragedi ini terjadi hanya dua hari sebelum pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA merupakan asesmen pengukuran kemampuan dasar literasi dan numerasi tingkat SMP. Bukan ujian kelulusan, namun menjadi penting bagi siswa yang ingin masuk ke jenjang berikutnya melalui jalur prestasi.

Pagi hari saat ujian berlangsung, wali kelas langsung merasakan ada yang berbeda. “Wali kelasnya datang pagi-pagi sudah menangis, karena masuk kelas dan dua orang tidak ada,” kenang Kepala Sekolah dengan suara bergetar.

Upaya Pencegahan yang Dilakukan Sekolah

Pihak sekolah menegaskan bahwa larangan membawa motor ke sekolah sudah lama diterapkan dan sosialisasi keselamatan berkendara dilakukan secara rutin setiap bulan.

“Himbauan kami memang tidak mengizinkan anak-anak mengendarai motor. Ke sekolah pun tidak diizinkan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa tepat pada hari Senin sebelum kejadian, materi halaqah sekolah sudah membahas tentang risiko dan konsekuensi berkendara di jalan.

“Di Senin kemarin pas awal masuk, materinya pun sama, terkait bawa motor di jalan dan konsekuensinya ketika terjadi kecelakaan, itu sudah dijelaskan,” ungkap Kepala Sekolah.

Sekolah juga secara berkala mengundang pihak kepolisian dan Puskesmas untuk memberikan edukasi langsung kepada siswa. Sebelum liburan pun, sekolah telah menyebarkan surat edaran agar siswa menjaga keselamatan diri menjelang pelaksanaan TKA.

Respons Keluarga dan Dukungan dari Sekolah

Meski berduka, orang tua ketiga korban dikabarkan telah menerima musibah ini dengan lapang dada. Pihak sekolah pun hadir langsung memberikan dukungan moril kepada seluruh keluarga, termasuk mengunjungi rumah duka.

“Orang tuanya baik-baik semua. Alhamdulillah, mereka menerima dengan ikhlas,” kata Kepala Sekolah.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version