Tradisi Mepe Kasur, Ritual Bersih Desa yang Penuh Makna
Tradisi Mepe Kasur merupakan salah satu warisan budaya unik yang masih dilestarikan oleh masyarakat Suku Osing di Banyuwangi. Tradisi ini dilaksanakan setiap 1 Dzulhijah sebagai bagian dari ritual bersih desa menjelang Idul Adha. Prosesi ini tidak hanya sekadar aktivitas rutin, tetapi juga penuh makna filosofis dan spiritual.
Sejarah dan Asal Usul Tradisi Mepe Kasur
Mepe Kasur berasal dari kata “mepe” yang berarti menjemur dan “kasur” yang merujuk pada tempat tidur. Dalam bahasa setempat, tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai simbol pembersihan diri, tolak bala, serta mempererat rasa kebersamaan antar warga. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi identitas budaya masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Dilansir dari sumber lokal, Mepe Kasur tidak hanya sekadar menjemur kasur, tetapi juga menjadi sarana simbolis untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk dan menjaga harmonisasi kehidupan masyarakat.
Rangkaian Prosesi Mepe Kasur
Prosesi Mepe Kasur dimulai pada pagi hari ketika warga secara serentak menjemur kasur di depan rumah masing-masing. Kasur dijajar rapi hingga matahari terbit dan dibiarkan hingga sore hari. Selain itu, warga juga memukul kasur menggunakan alat khusus untuk menghilangkan debu. Mereka juga membaca doa dan memercikkan air bunga ke arah kasur sebagai simbol pembersihan dari penyakit dan marabahaya.
Ada aturan dalam tradisi ini, yaitu kasur harus segera dimasukkan sebelum sore hari. Jika terlambat, dipercaya bahwa khasiat pembersihan tersebut akan berkurang atau hilang.
Setelah prosesi menjemur selesai, warga melanjutkan dengan arak-arakan barong keliling desa. Diikuti dengan ziarah ke makam Buyut Cili, yang diyakini sebagai leluhur penjaga desa. Puncak acara adalah Tumpeng Sewu, sebuah selamatan yang digelar pada malam hari dengan menyajikan ribuan tumpeng khas Osing, yaitu pecel pitik.
Suasana semakin khidmat dengan penyalaan obor di depan rumah warga, menciptakan nuansa sakral sekaligus kebersamaan.
Filosofi Warna Kasur Abang Cemeng
Salah satu keunikan dari Mepe Kasur adalah warna kasur yang seragam, yaitu merah dan hitam atau dikenal sebagai kasur Abang Cemeng. Menurut sumber lokal, warna hitam melambangkan tolak bala atau perlindungan dari bahaya, sedangkan merah melambangkan keberanian dan keabadian rumah tangga. Selain itu, warna tersebut juga dimaknai sebagai simbol kasih sayang dan kelanggengan.
Kasur ini juga dipercaya menjadi simbol penting dalam kehidupan keluarga. Bahkan, setiap pasangan pengantin baru di Desa Kemiren biasanya akan diberikan kasur tersebut sebagai bekal rumah tangga.
Makna dan Nilai Filosofis
Tradisi Mepe Kasur tidak hanya bermakna membersihkan kasur secara fisik, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang mendalam. Bagi masyarakat Osing, kasur dianggap sebagai benda yang paling dekat dengan manusia. Oleh karena itu, kasur yang merupakan tempat tidur manusia perlu dibersihkan agar terhindar dari penyakit.
Mepe Kasur juga dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari penyakit sekaligus tolak bala. Masyarakat Osing meyakini bahwa tradisi ini menjadi bentuk refleksi untuk menjaga kebersihan lahir dan batin. Lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan gotong royong warga.
Pemandangan kasur yang dijemur serentak mencerminkan kekompakan dan keharmonisan masyarakat Desa Kemiren.
Daya Tarik Budaya dan Pariwisata
Pemerintah daerah turut mengapresiasi keberlangsungan tradisi ini, yaitu dengan menjadikan Mepe Kasur sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus daya tarik wisata daerah. Tradisi ini juga masuk dalam rangkaian agenda budaya seperti Banyuwangi Festival, yang bertujuan memperkenalkan kekayaan lokal ke tingkat nasional hingga internasional.
Warisan Leluhur yang Tetap Hidup
Hingga kini, Mepe Kasur tetap menjadi tradisi yang dijaga oleh masyarakat Suku Osing sebagai warisan leluhur. Lebih dari sekadar ritual tahunan, tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap budaya dan alam.
Keberadaannya menjadi bukti bahwa di tengah arus modernisasi, masyarakat Banyuwangi tetap mampu menjaga identitas budaya mereka agar terus lestari dari generasi ke generasi.






