Kecelakaan Memilukan yang Menewaskan Siswa SD di Lombok Timur
Sebuah kejadian memilukan terjadi di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seorang bocah laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 1 SD meninggal dunia setelah diduga meniru aksi freestyle yang viral di media sosial dan terinspirasi dari permainan daring Free Fire (FF).
Korban yang diketahui berinisial HIW atau akrab dipanggil Nizan menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 3 Mei 2026, setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat cedera serius di bagian kepala. Kasus ini langsung menjadi perhatian publik karena diduga berkaitan dengan tren gerakan ekstrem yang belakangan ramai ditiru anak-anak.
Kronologi Kejadian
Menurut Kapolsubsektor Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, korban mengalami benjolan di kepala setelah melakukan aksi freestyle yang sedang viral di kalangan anak-anak. Gerakan tersebut diduga terinspirasi dari konten permainan daring yang menampilkan aksi ekstrem.
“Korban masih duduk di kelas 1 SD dan meninggal dunia pada 3 Mei kemarin. Dia meninggal setelah mempraktikkan aksi freestyle yang lagi viral,” ujar Yogi.
Setelah mengalami cedera, korban awalnya hanya mengalami demam dan sakit kepala. Karena keluarga tidak mengetahui adanya cedera serius, korban sempat hanya diberi obat sakit kepala dan obat demam di rumah. Namun kondisi anak tersebut perlahan memburuk.
Pihak sekolah mengungkapkan korban sempat tidak masuk sekolah selama sekitar satu minggu. Saat itu, keluarga mengira kondisinya hanya sakit biasa. Belakangan, kondisi korban semakin parah hingga beberapa bagian tubuhnya mengalami gangguan gerak yang menyerupai gejala stroke.
Korban kemudian dirujuk ke RSUD Selong sebelum akhirnya mendapatkan perawatan intensif di ICU. Ia bahkan sempat menjalani operasi dan direncanakan menjalani operasi kedua. Sayangnya, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan.
“Pas operasi kedua ini katanya, nyawanya gak bisa tertolong,” ungkap wali kelas korban, Sakiatun Nisa.
Penjelasan Sekolah
Di tengah viralnya kasus ini, pihak sekolah memberikan klarifikasi terkait berbagai informasi yang beredar di media sosial. Wali kelas korban, Sakiatun Nisa, menegaskan bahwa insiden tersebut sama sekali tidak terjadi di lingkungan sekolah. Ia menyebut korban dikenal sebagai anak yang pendiam dan lugu.
“Saya tegaskan, kejadian ini di rumah, bukan di sekolah,” kata Sakiatun.
Ia juga mengaku baru mengetahui istilah freestyle setelah kasus muridnya viral di media sosial. Menurut keterangan keluarga, korban memang cukup sering bermain telepon genggam hingga larut malam. Bahkan, korban disebut kerap terlambat bangun sehingga beberapa kali tidak masuk sekolah.
Korban sendiri diketahui diasuh oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Disinformasi yang Beredar

Kasus ini semakin ramai diperbincangkan setelah muncul berbagai unggahan media sosial yang menyandingkan foto korban dengan gambar aksi freestyle menggunakan seragam sekolah. Padahal, menurut pihak sekolah, foto yang diunggah wali kelas hanyalah dokumentasi kenang-kenangan biasa untuk muridnya.
“Yang saya unggah hanya foto biasa untuk kenangan di dinding kelas. Tapi oleh konten kreator lain disandingkan dengan foto-foto freestyle,” ujar Sakiatun.
Narasi yang berkembang membuat banyak orang salah mengira bahwa kejadian tersebut berlangsung saat kegiatan sekolah.
Awal Mula Tren Freestyle Free Fire
Fenomena freestyle yang diduga ditiru korban sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun lalu, media sosial sempat diramaikan aksi anak-anak yang menirukan emote push-up dari game Free Fire. Gerakan itu viral karena dilakukan saat salat di masjid dalam posisi sujud.
Banyak video di TikTok, Instagram, hingga Twitter memperlihatkan anak-anak mengangkat kaki ke atas sambil bertumpu pada tangan, mirip gerakan akrobatik. Dalam game Free Fire sendiri, emote merupakan fitur animasi gerakan unik yang bisa digunakan karakter di dalam permainan.
Namun, tren tersebut sempat menuai kritik karena dianggap berbahaya dan tidak pantas dilakukan di tempat ibadah. Saat fenomena itu viral pada 2021, pihak Garena selaku pengembang Free Fire Indonesia pernah mengeluarkan imbauan resmi agar pemain tidak meniru gerakan tersebut di dunia nyata.
Garena menegaskan bahwa emote dibuat hanya untuk digunakan di dalam permainan, bukan dipraktikkan secara langsung.
Peringatan untuk Orang Tua dan Guru
Kasus meninggalnya bocah SD di Lombok Timur menjadi pengingat keras tentang pentingnya pengawasan terhadap aktivitas digital anak-anak. Pihak kepolisian maupun sekolah sama-sama mengimbau orang tua untuk lebih ketat mengawasi tontonan, tren media sosial, hingga permainan daring yang dikonsumsi anak.
“Kami imbau kepada masyarakat untuk tetap mengawasi anak-anak dengan ketat, baik di rumah maupun di sekolah,” tegas Ipda Alam Prima Yogi.
Sekolah juga mengaku telah mulai melakukan sosialisasi kepada siswa dan wali murid terkait bahaya gerakan ekstrem serta pentingnya penggunaan gawai secara bijak.
Di era ketika tren viral dapat menyebar sangat cepat melalui media sosial, pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi benteng utama agar anak-anak tidak meniru aksi yang membahayakan keselamatan mereka sendiri.



