Kehilangan yang Menyedihkan: Kisah Nur Watirih, Pekerja Migran Indonesia yang Meninggal Dunia di Arab Saudi
Seorang perempuan asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Nur Watirih (49), dilaporkan meninggal dunia secara tragis di Arab Saudi setelah diduga menjadi korban kekerasan di tempat kerjanya. Kejadian ini menimpa seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Informasi mengenai kematian Nur Watirih baru sampai kepada keluarganya setelah bertahun-tahun mereka kehilangan kontak dengannya.
Nur Watirih merupakan warga Blok Bedug, Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Ia berangkat ke Arab Saudi pada tahun 2022 untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Namun, keberangkatannya dilakukan melalui jalur tidak resmi. Awalnya, ia masih sempat berkomunikasi dengan keluarga dan bahkan beberapa kali mengirimkan uang untuk membantu kebutuhan orang tuanya serta anaknya yang kini berusia 11 tahun.
Namun, setelah beberapa waktu, komunikasi dengan keluarga tiba-tiba terputus. Keluarga mengaku tidak lagi menerima kabar dari Watirih sejak sekitar dua tahun terakhir. Berbagai upaya dilakukan oleh keluarga untuk mencari informasi tentang keberadaannya, namun tidak membuahkan hasil.
Kepastian mengenai nasib Nur Watirih akhirnya diterima keluarga pada 15 Februari 2026. Saat itu, keluarga mendapatkan informasi dari pihak terkait di Arab Saudi bahwa Watirih telah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 9 Februari 2026.
Kabar tersebut tentu saja mengejutkan sekaligus menghancurkan harapan keluarga yang selama ini menanti kabar baik dari perantauan. Yang membuat keluarga semakin terpukul adalah kondisi jenazah korban saat ditemukan. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, tubuh Watirih ditemukan dalam kondisi mengenaskan di dekat tong sampah yang berada di depan apartemen tempat ia bekerja.
Lokasi penemuan jenazah tersebut diduga tidak jauh dari tempat tinggal majikan yang mempekerjakannya sebagai pekerja rumah tangga. Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan bahwa korban diduga menjadi korban penganiayaan oleh majikan perempuannya. Dugaan tersebut diperkuat oleh kondisi tubuh korban yang mengalami sejumlah luka serius.
Menurut laporan yang diterima keluarga dari petugas di Arab Saudi, tubuh Watirih ditemukan dengan sejumlah luka tusuk serta sayatan yang diduga berasal dari benda tajam. Bahkan wajah korban disebut mengalami kerusakan cukup parah akibat tindakan kekerasan tersebut.
Kasus kematian tragis ini kini sedang ditangani oleh pihak kepolisian Arab Saudi. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, pihak berwenang setempat telah menangkap terduga pelaku yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan tersebut.
Keluarga korban di Indramayu berharap agar proses hukum terhadap pelaku dapat berjalan secara adil dan transparan. Mereka meminta agar pelaku mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya.
Adik korban, Maghfuroh, mengatakan bahwa keluarga sebenarnya telah berusaha mengikhlaskan kepergian kakaknya. Namun mereka tidak dapat menerima jika kematian tersebut terjadi akibat tindakan kekerasan.
“Kami ikhlas kalau memang sudah takdir. Tapi kami tidak ikhlas kalau kakak kami meninggal karena dianiaya,” ujar Maghfuroh.
Sementara itu, jenazah Nur Watirih diketahui telah dimakamkan di Arab Saudi pada 6 Maret 2026. Keputusan pemakaman di luar negeri tersebut membuat keluarga di kampung halaman tidak dapat melihat langsung untuk terakhir kalinya.
Peristiwa tragis ini kembali menjadi pengingat tentang risiko besar yang dihadapi para pekerja migran yang berangkat ke luar negeri melalui jalur tidak resmi. Tanpa perlindungan hukum yang jelas, para pekerja rentan mengalami berbagai bentuk eksploitasi dan kekerasan.
Kasus yang menimpa Nur Watirih juga menambah daftar panjang peristiwa tragis yang dialami PMI di luar negeri. Oleh karena itu, berbagai pihak mendorong agar masyarakat lebih berhati-hati dan memastikan proses keberangkatan ke luar negeri dilakukan melalui jalur resmi agar mendapatkan perlindungan hukum yang memadai.




