Pengumuman Presiden Trump Mengenai Penangguhan Proyek Kebebasan di Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa militer AS akan menangguhkan sementara “Proyek Kebebasan” yang sebelumnya diluncurkan untuk memastikan kembali kebebasan navigasi bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Keputusan ini diambil atas permintaan Pakistan dan beberapa negara lain, sekaligus menyoroti kemajuan kesepakatan dengan Iran.

Trump menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena adanya “kesuksesan militer yang luar biasa” dalam serangan AS terhadap Iran, serta fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran. Ia menulis di platform Truth Social miliknya pada hari Selasa (5/5/2026), bahwa Proyek Kebebasan akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat agar kesepakatan tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani.

Latar Belakang Proyek Kebebasan

Sebelumnya, Trump mengumumkan “Proyek Kebebasan” sebagai inisiatif yang berkomitmen mengawal kapal-kapal dagang melalui Selat Hormuz. Namun, Iran menegaskan bahwa setiap pelayaran di jalur strategis tersebut harus mendapatkan izin dari Teheran terlebih dahulu. Di sisi lain, Iran juga mengumumkan mekanisme baru untuk mengatur transit kapal di Selat Hormuz, yang mencakup pemberitahuan melalui email dari alamat yang dikaitkan dengan Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) berisi aturan transit.

Kapal-kapal yang ingin melintasi selat harus mematuhi kerangka tersebut sebelum memperoleh izin pelayaran. Trump menyatakan bahwa AS telah meyakinkan negara-negara yang kapalnya terjebak karena perang bahwa AS akan membimbing kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari Selat Hormuz.

Keterlibatan Militer AS

Pemerintahan Trump mengklaim bahwa hampir 23.000 pelaut di kapal-kapal yang mewakili 87 negara telah terdampar di Teluk Persia karena penutupan Selat Hormuz secara de facto oleh Iran. Komando Pusat AS mengatakan bahwa militer akan mengerahkan “kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tak berawak multi-domain, dan 15.000 anggota layanan” untuk mendukung Proyek Kebebasan.

Iran menanggapi Proyek Kebebasan dengan permusuhan yang diperbarui. Uni Emirat Arab melaporkan bahwa mereka diserang dengan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang berasal dari Iran, mengakibatkan tiga orang terluka. Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, mengatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran “meluncurkan sejumlah rudal jelajah, drone, dan perahu kecil ke arah kapal-kapal yang kami lindungi.”

Perang AS-Israel Vs Iran

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bermula dari eskalasi ketegangan yang meledak pada 28 Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran. Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dan digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan Majelis Ahli.

Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir AS–Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Sejak lama, Washington dan Tel Aviv menuduh Teheran tengah mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.

Ketegangan tersebut dengan cepat berubah menjadi konflik terbuka. Iran merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah. Di saat yang sama, Teheran juga menghentikan proses perundingan nuklir dan memberlakukan blokade di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global—yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan krisis energi dunia.

Gencatan Senjata dan Upaya Perundingan

Memasuki hari ke-40 konflik, Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang mulai berlaku pada 8 April. Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang jelas. Sejak 13 April, Amerika Serikat juga disebut telah menerapkan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di wilayah tersebut.

Pada 25 April, rencana AS untuk mengirim delegasi ke Islamabad guna membuka kembali negosiasi dibatalkan setelah Iran menolak dialog langsung. Di tengah kebuntuan diplomasi, Iran terus menjalin komunikasi dengan Pakistan sebagai mediator untuk menyampaikan posisi dan tuntutannya sebagai syarat penghentian perang.

Pada 1 Mei, Teheran bahkan mengajukan proposal baru kepada Washington melalui perantara tersebut. Namun, prospek kelanjutan perundingan kembali terhambat setelah AS meluncurkan “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz, yang kembali memanaskan situasi di kawasan strategis itu.

Di tengah upaya perundingan, Trump mengumumkan pada hari Selasa bahwa Proyek Kebebasan dihentikan untuk sementara hingga Iran dan AS menyelesaikan perundingan.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version