Inggris Kirim Kapal Induk ke Timur Tengah, Trump Kritik Sikap London
Kementerian Pertahanan Inggris telah mengumumkan penugasan kapal induk andalan mereka, HMS Prince of Wales, untuk bertugas di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap Amerika Serikat (AS) dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, langsung memberikan komentar terkait tindakan Inggris tersebut. Ia menyampaikan sindiran terhadap hubungan diplomatik antara AS dan Inggris, terutama setelah sebelumnya pihak Inggris sempat menolak dukungan militer langsung terhadap AS.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyebut bahwa AS tidak lagi membutuhkan bantuan kapal induk dari Inggris, terutama dalam menghadapi eskalasi konflik dengan Iran. Ia juga menyampaikan pernyataan dengan nada ancaman terhadap PM Inggris, Keir Starmer.
“Britania Raya, yang dulu merupakan sekutu hebat kita mungkin yang terhebat, akhirnya mulai serius mempertimbangkan pengiriman dua kapal induk ke Timur Tengah,” tulis Trump dalam unggahannya, Sabtu (7/3/2026), mengutip Al Jazeera.
Trump bahkan menegaskan bahwa AS tidak membutuhkan bantuan dari pihak yang baru bergabung dalam perang saat konflik sudah hampir selesai. Ia menambahkan bahwa negaranya akan selalu mengingat sikap Inggris yang dianggap tidak suportif.
Sebelumnya, pemerintahan Starmer sempat menuai kritik dari kubu konservatif AS karena dinilai ragu-ragu dalam memberikan dukungan militer langsung. Meskipun Inggris akhirnya mengizinkan penggunaan pangkalan untuk operasi pertahanan terbatas, Trump tampaknya belum melupakan sikap awal London yang dianggap tidak mendukung.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Downing Street belum memberikan komentar resmi terkait serangan verbal terbaru dari Presiden AS.
Situasi di Timur Tengah Memanas
Di sisi lain, situasi di Timur Tengah kian memanas dengan laporan korban jiwa yang terus bertambah akibat eskalasi serangan udara di wilayah tersebut.
Trump mengklaim bahwa Iran kini telah “keok” dan menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara tetangganya setelah terus-menerus digempur oleh kekuatan militer AS dan Israel. Dalam unggahannya di akun Truth Social miliknya, Sabtu (7/3/2026), Trump menyebut Teheran kini tidak berdaya akibat operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Washington dan sekutu regionalnya.
Menurutnya, tekanan tersebut memaksa Iran untuk mundur dari ambisinya menguasai kawasan. “Iran, yang saat ini sedang dihajar habis-habisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada tetangganya di Timur Tengah. Mereka berjanji tidak akan lagi meluncurkan serangan,” tulis Trump, mengutip Middle East Monitor.
Trump menegaskan bahwa perubahan sikap Iran ini bukan karena diplomasi sukarela, melainkan dampak langsung dari serangan udara dan rudal yang tak henti-hentinya dilakukan oleh pasukan AS dan Israel. Ia bahkan mengeklaim pencapaian ini sebagai momen bersejarah yang belum pernah terjadi selama ribuan tahun.
“Ini pertama kalinya Iran kalah dari negara-negara tetangganya dalam ribuan tahun sejarah mereka. Dulu mereka ingin menguasai Timur Tengah, sekarang mereka menyerah,” lanjutnya.
Trump juga mengeklaim banyak pemimpin negara di kawasan tersebut yang menghubungi dirinya untuk mengucapkan terima kasih. Meski menyebut Iran telah menyerah, Trump tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengendurkan serangan.
Sebaliknya, ia justru mengeluarkan peringatan mengerikan tentang adanya target-target baru yang lebih mematikan. Ia memberikan sinyal bahwa militer AS sedang mempertimbangkan target yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar operasi.
“Hari ini Iran akan dipukul sangat keras! Kami sedang mempertimbangkan penghancuran total terhadap wilayah dan kelompok tertentu yang selama ini belum pernah kami targetkan,” tegas Trump.




