Chef Juna dan Kontroversi Terkait Etos Kerja SDM Indonesia

Chef Juna, yang dikenal sebagai salah satu tokoh kuliner ternama di Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan pernyataan yang memicu pro dan kontra di media sosial. Pernyataannya tersebut terkait dengan etos kerja Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dalam sebuah diskusi bersama Raditya Dika.

Dalam obrolan tersebut, Chef Juna menyinggung pengalaman seorang karyawan yang meminta izin tidak masuk kerja karena menjaga anak yang sakit. Ucapan ini kemudian ditafsirkan oleh sebagian publik sebagai kritik terhadap pekerja yang dianggap terlalu bergantung pada alasan keluarga, hingga muncul anggapan bahwa SDM saat ini lebih “manja”. Perdebatan pun berkembang di media sosial, dengan sebagian warganet mengecam pandangan Chef Juna karena dinilai kurang empati terhadap peran ayah dalam mengurus anak, terutama saat kondisi darurat.

Buntut dari ramainya kritik, Chef Juna disebut membatasi kolom komentarnya di Instagramnya, @junarorimpandeyofficial. Menanggapi komentar tersebut sekaligus polemik yang berkembang, Chef berusia 50 tahun ini memberi respons singkat. Ia mengisyaratkan bahwa banyak orang tidak menangkap utuh maksud dari pernyataan yang disampaikannya dalam podcast.

“Banyak yang tidak mendengar dengan baik,” balas Chef Juna, dikutip Tribunnews, Sabtu (23/5/2026).

Pernyataan yang Menuai Kontroversi

Perdebatan terkait pernyataan Chef Juna bermula saat dirinya hadir dalam podcast milik Raditya Dika dan membahas tantangan menjalankan bisnis kuliner, khususnya tekanan di dapur profesional. Dalam perbincangan itu, Juna menilai industri kuliner tak hanya membutuhkan kemampuan memasak, tetapi juga disiplin tinggi serta komitmen terhadap tanggung jawab pekerjaan.

“Manja. SDM kita manja, firm manja,” ucap Juna dengan nada tegas, dikutip Tribunnews, Sabtu (23/5/2026). Ia kemudian menjelaskan bahwa pandangan tersebut merujuk pada lingkungan professional kitchen, yang menurutnya memiliki standard kerja berbeda dibanding bidang lain.

Berbekal pengalaman bekerja di restoran ternama di Jepang hingga Amerika Serikat, Juna menganggap budaya kerja di Indonesia masih cenderung lebih longgar. “Memang orang kita agak manja, saya ngomong profesional kitchen ya,” lanjutnya.

Juna juga menyoroti kondisi yang menurutnya kerap terjadi di dapur profesional, yakni ketika pekerja mendadak meminta izin karena urusan keluarga, termasuk saat anak sedang sakit. Menurutnya, absennya satu orang dapat berdampak besar karena setiap posisi di dapur memiliki tanggung jawab spesifik yang saling berkaitan.

“Posisi dalam kitchen itu sudah megang tanggung jawab masing-masing, apalagi udah sekelas Chef de Partie, CDP, itu bisa loh pagi-pagi ‘Chef sorry saya tidak bisa berangkat kerja, anak saya panas, sakit,'” ungkapnya. Juna mengaku masih sulit memahami alasan tersebut, terutama jika kondisi keluarga dinilai masih bisa ditangani pihak lain di rumah.

“Call me heartless, yang sakit kan anaknya. Istrinya ada di rumah. Terus ngapain kamu ikut-ikutan di rumah? Emang kamu ikutan di rumah, anakmu sembuh gitu tiba-tiba?” katanya. Ia berpandangan bahwa saat seseorang memilih bekerja secara profesional, maka tanggung jawab terhadap pekerjaan juga perlu menjadi prioritas.

Selain itu, Juna menilai izin mendadak berpotensi merugikan pekerja itu sendiri karena dapat memengaruhi pendapatan. “Kenapa? Anak sudah sakit, perlu biaya pengobatan, kamu izin lagi tiba-tiba kan potong gaji. Itu kan bukan bagian dari cuti,” jelasnya.

Untuk menggambarkan pentingnya peran setiap individu di dapur profesional, Juna membandingkannya dengan sebuah pertunjukan orkestra yang membutuhkan semua pemain agar berjalan seimbang. “Chaotic. Karena profesional kitchen boleh disamakan dengan orkestra,” ujar Juna. “Masing-masing alat musik ada yang pegang, tiba-tiba yang megang flute enggak masuk, mau ngapain,” lanjutnya.

Meski memiliki pandangan demikian, Juna mengaku tetap berusaha memahami kondisi tersebut karena budaya kerja di Indonesia berbeda dengan negara lain tempat ia pernah bekerja. “Mau enggak mau, karena itu culture di sini,” katanya. “Jadi, agak berat juga,” pungkasnya.

Kesan Stephanie

Ajang kompetisi memasak paling populer di Indonesia, MasterChef Indonesia sudah rampung. Babak Grand Final digelar pada Minggu 15 Maret 2026, dimana Stephanie Meyerson, peserta asal Pontianak, Kalimantan Barat menjadi juaranya.

Meski sudah tak lagi bersaing, namun atmosfer persaingan ketat dan profesionalisme yang kuat masih begitu melekat di benak Stephanie. Bahkan, kebiasaan berada di lingkungan demikian membuat perubahan tersendiri pada Stephanie. Stephanie mengaku kini terbiasa perfeksionis khususnya soal cara mengorganisasi dapur. Bahkan, Ia menduga dirinya kini mengalami OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

“Jadi pengalaman masak di MasterChef ya ada sedikitlah yang terbawa sampai di luar sini. Contoh salah satunya mungkin lebih ke kayak organize,” kata Stephanie di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, dikutip dari Grid.id, Sabtu (9/5/2026). Bagi Stephanie, melihat barang yang tidak pada tempatnya kini menjadi “pemandangan buruk” yang sulit ia toleransi.

Ia merasa ada perubahan yang besar setelah berbulan-bulan ditempa dengan aturan waktu yang ketat dan standar kebersihan yang tinggi di Galeri MasterChef. “Jadi kalau misalkan sekarang melihat sesuatu di rumah atau lagi masak melihatnya berantakan itu sekarang kayak agak greget, jadi ada mungkin OCD-nya jadi terbawa di situ, mungkin iya,” akunya.

Tak cuma soal kebiasaan di dapur, Stephanie juga mengaku, wibawa para juri selama Ia jadi peserta ajang MasterChef masih sangat membekas di benaknya. Bahkan saat bertemu kembali dengan Chef Juna dalam sebuah acara usai kompetisi, ia mengaku masih merasa canggung. “Ya, jadi begini ya guys walaupun sudah selesai kompetisi, aura Chef Juna itu, jadi tetep aja ada berasa segannya karena memang wibawa seorang Chef Juna itu mungkin setiap orang yang bertemu dengan dia pasti akan merasakannya,” tuturnya.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version