Konferensi Konsorsium IFAR 2026: Mengupas Dinamika Ketimpangan di Asia Tenggara
Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok akan menjadi tuan rumah Konferensi Konsorsium IFAR 2026 yang bertajuk “Contours of Inequality: Power, Protest, and Privilege in Southeast Asia” (Kontur Ketimpangan: Kekuasaan, Protes, dan Hak Istimewa di Asia Tenggara). Acara ini akan digelar pada 12–14 Agustus 2026 dan diharapkan menjadi ajang diskusi akademis internasional yang penting.
Konferensi ini diinisiasi oleh Institute for Advanced Research (IFAR) UIII dengan dukungan penuh dari Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF). Tujuan utama dari acara ini adalah untuk memperdalam dialog kritis mengenai berbagai isu ketimpangan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di kawasan Asia Tenggara.
Peneliti Dunia Hadir dalam Konferensi Ini
Selama konferensi, para peserta akan membahas bagaimana ketimpangan berhubungan langsung dengan pembentukan negara, pembangunan ekonomi, globalisasi, politik identitas, perubahan iklim, tata kelola sumber daya alam, hingga disrupsi teknologi. Antusiasme komunitas akademik internasional terhadap gelaran ini sangat tinggi. Dari total 173 abstrak yang masuk, sebanyak 88 makalah dinyatakan lolos seleksi ketat untuk dipresentasikan.
Peserta konferensi berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Mereka akan berbagi perspektif mereka tentang urgensi forum ini dalam menangani isu-isu yang muncul di kawasan tersebut.
Rektor UIII Menjelaskan Urgensi Forum
Prof. Jamhari, Rektor UIII sekaligus Direktur IFAR UIII, menjelaskan bahwa ketimpangan telah menjadi faktor utama dalam menentukan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, serta suara dalam demokrasi. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan ini mendesak di mana-mana, terutama di Asia Tenggara, di mana pertumbuhan pesat seringkali berjalan bersamaan dengan kesenjangan yang terus-menerus.
“Pertemuan semacam ini adalah forum yang tepat untuk menerapkan penelitian yang cermat pada masalah yang menuntut pemikiran kita yang paling serius,” ujarnya.
Sesi Utama Berkelas Dunia
Salah satu sesi utama dalam konferensi ini adalah kuliah pembuka yang akan dibawakan oleh Prof. Vivek Chibber, seorang sosiolog politik terkemuka dari New York University (NYU). Pakar ini akan membahas topik kebijakan industri serta dampaknya terhadap peta ketimpangan.
Konferensi ini juga akan diisi oleh beragam forum akademik, seperti kuliah umum, diskusi panel, presentasi makalah, hingga dialog kebijakan. Tiga panel utama yang disiapkan meliputi:
- Politik Ketimpangan di Asia Tenggara
- Politik Iklim dan Sumber Daya di Asia Tenggara
- Ketimpangan di Indonesia
Sesi-sesi tersebut akan mempertemukan peneliti dari lembaga bergengsi dunia, antara lain Australian National University, Cambridge University, Chiang Mai University, Mahidol University, ISEAS–Yusof Ishak Institute, Northwestern University, Seoul National University, Universitas Indonesia, hingga UIII sendiri.
Hasil yang Diharapkan dari Konferensi
Melalui luaran berupa rekomendasi kebijakan, riset kolaboratif, dan publikasi ilmiah terpilih, UIII menegaskan komitmennya dalam memajukan kesarjanaan yang relevan secara global serta menjawab tantangan zaman. Konferensi ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih nyata bagi perumusan kebijakan global dan memperkuat jaringan peneliti yang berdedikasi untuk studi ketimpangan.





