Perempuan WNI Jadi Tentara Amerika Serikat
Media sosial kini sedang diramaikan oleh seorang perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi tentara Amerika Serikat (AS). Sebuah video yang memperlihatkan momen haru seorang ibu melepas anak perempuannya yang akan berangkat tugas menarik perhatian publik. Dalam video tersebut, perempuan muda itu tampak mengenakan seragam militer AS dan berhijab, sambil berpamitan dengan keluarganya.
Video ini cepat viral dan memicu rasa penasaran publik, terutama setelah diketahui bahwa sosok dalam video tersebut adalah WNI. Lantas bagaimana awal mula perempuan WNI jadi tentara Amerika? Berikut kisahnya.
Awal Mula Perempuan WNI Jadi Tentara Amerika
Seorang perempuan dalam video tersebut adalah Kezia Syifa, WNI asal Tangerang, Banten, yang kini bergabung sebagai anggota Garda Nasional atau Army National Guard Amerika Serikat. Usianya baru 20 tahun, namun keputusannya menempuh jalur militer di negeri orang langsung menyita perhatian warganet.
Kezia Syifa merupakan bagian dari keluarga diaspora Indonesia yang kini menetap di Amerika Serikat. Bersama orang tuanya, Syifa tinggal di negara bagian Maryland sejak pertengahan 2023. Keluarga ini pindah ke AS dengan status green card atau izin tinggal tetap, yang membuka akses legal bagi Syifa untuk menempuh pendidikan dan pilihan karier di sana.
Proses Keputusan Bergabung dengan Army National Guard
Sebelum bergabung dengan Garda Nasional, Syifa telah lebih dulu mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Lingkungan pendidikan dan kesempatan pengembangan diri di sana kemudian mendorongnya mencari jalur yang dinilai mampu membentuk disiplin, kemandirian, serta tanggung jawab.
Keputusan bergabung lewat diskusi keluarga. Ibunda Syifa, Safitri, mengungkapkan, keputusan sang putri untuk bergabung dengan Army National Guard tidak diambil secara tiba-tiba. Prosesnya melalui diskusi panjang bersama keluarga, dengan mempertimbangkan aspek pendidikan, masa depan, serta kesiapan mental.
“Motivasi utamanya adalah pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan diri. Karena tinggal dan bersekolah di Amerika, Kezia memilih jalur yang tersedia secara legal di sana. Keputusan ini bukan semata-mata soal militer, tetapi tentang masa depan dan kedisiplinan,” ujar Safitri saat dihubungi.
Sebagai orang tua, Safitri mengaku bangga dengan pilihan anaknya, meski rasa cemas tetap ada. Namun, keluarga meyakini Syifa berada dalam sistem yang resmi, profesional, dan terstruktur.
Apa Itu Army National Guard?
Army National Guard merupakan komponen cadangan militer Amerika Serikat yang berada di bawah kendali negara bagian, namun dapat dikerahkan secara nasional oleh pemerintah federal saat diperlukan, baik untuk pertahanan maupun penanganan keadaan darurat.
Berbeda dengan pasukan aktif, anggotanya berstatus prajurit cadangan yang menjalani kehidupan sipil. Mereka masih bisa bekerja atau menempuh pendidikan sembari mengikuti pelatihan militer paruh waktu.
Didirikan sejak 1636, Garda Nasional dikenal sebagai pasukan warga negara dengan peran fleksibel. Mereka dapat ditugaskan untuk membantu penanganan bencana, operasi keamanan dalam negeri, misi tempur di luar negeri, hingga kegiatan rekonstruksi.
Dalam kondisi normal, prajurit bertugas di negara bagian asal, menjalani latihan rutin satu akhir pekan setiap bulan serta pelatihan tahunan selama dua pekan, dan siap dipanggil oleh gubernur atau presiden kapan saja sesuai kebutuhan negara.
Status dan Peran Syifa di Garda Nasional
Saat ini, Kezia Syifa telah terdaftar secara resmi sebagai anggota Army National Guard di negara bagian Maryland sejak 2025. Meski demikian, ia masih berada dalam tahapan pendidikan dan pelatihan militer.
Dalam struktur tugas, Syifa ditempatkan di bagian administrasi atau office, bukan di unit tempur. Penugasan ini sejalan dengan jalur yang dipilihnya, yang menitikberatkan pada pengembangan kemampuan, kedisiplinan, serta pengalaman profesional.
Status green card yang dimiliki keluarga memungkinkan Syifa bergabung dengan Army National Guard secara sah, meski ia masih berstatus WNI. Dalam sistem militer AS, warga non-negara yang memiliki izin tinggal tetap memang diperbolehkan mengikuti rekrutmen, selama memenuhi syarat hukum dan administratif.
Kisah Kezia Syifa pun menjadi sorotan publik, bukan hanya karena statusnya sebagai WNI, tetapi juga karena menggambarkan pilihan jalan hidup diaspora Indonesia di luar negeri antara pendidikan, disiplin, dan pencarian masa depan di tengah sistem yang berbeda.





