Pengalaman Batin dalam Visualisasi Jalan Salib
Pada hari Jumat, 3 April 2026, Gereja Katolik Paroki St Theresia Bongsari di Jalan Puspowarno No.9, RT.06/RW.03, Bojongsalaman, Semarang Barat, Kota Semarang, menyelenggarakan visualisasi jalan salib yang berjudul Kisah Sengsara Tuhan Yesus. Acara ini digelar secara khidmat sebagai puncak perenungan umat Katolik dalam rangkaian Tri Hari Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah.
Visualisasi ini menjadi momen penting bagi umat untuk merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus. Dalam acara ini, puluhan pemuda dan pemudi gereja menanggalkan identitas sehari-hari mereka dan mengambil peran dalam drama rohani yang menyentuh hati. Mereka tidak hanya tampil, tetapi juga menghidupkan kembali kisah yang berusia lebih dari dua milenium. Kisah ini menceritakan luka, penolakan, kejatuhan, dan cinta tanpa syarat—sebuah pengorbanan yang diyakini sebagai puncak kasih Tuhan bagi umat manusia.
Dalam rangkaian adegan yang disusun menyerupai kisah Injil, umat diajak menyaksikan kembali perjalanan sengsara dari deraan, ejekan, hingga penyaliban. Tidak sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai pengalaman batin yang hidup. Sosok Yesus berjalan tertatih, memanggul salib, dikelilingi sorakan dan tekanan yang terasa nyata. Beberapa umat memilih diam, sebagian menunduk, dan melihat dengan mata yang berkaca-kaca, sementara yang lain mengikuti setiap langkah dengan mata yang tak lepas.
Peran Yesus dibawakan oleh Alex Devin Christoffels, mahasiswa sekaligus anggota teater di Universitas Katolik Soegijapranata. Ini menjadi pengalaman pertamanya memerankan tokoh sentral dalam kisah sengsara. Alex mengaku melakukan persiapan tidak hanya secara fisik, tetapi juga spiritual. Ia menjalani puasa selama tiga minggu sebelum pementasan, sebagai bentuk penghayatan terhadap peran yang dibawakannya.
“Secara fisik saya puasa, dan secara rohani juga berdoa. Puasanya sekitar tiga minggu,” ujar Alex. Ia mengaku tantangan terbesar bukan pada fisik, melainkan mental. “Semua pukulan, ejekan, dan lemparan itu harus diterima dengan kasih. Itu yang sulit, karena saya manusia biasa,” katanya.
Selama sekitar satu bulan lebih, Alex menjalani proses latihan yang cukup intens. Ia juga melakukan puasa selama tiga minggu sebagai bagian dari persiapan fisik dan spiritual, disertai doa untuk menjaga fokus dan penghayatan peran. Referensi yang ia gunakan beragam, mulai dari film The Passion of the Christ hingga bacaan teks religius. Namun, menurutnya, yang paling menentukan tetap pada bagaimana ia bisa memahami makna pengorbanan itu sendiri.
“Awalnya ada rasa takut, kalau gagal akan mengecewakan banyak orang. Tapi setelah dijalani, saya merasa lega,” katanya.
Visualisasi ini melibatkan sekitar 50 orang pemain lintas usia, mulai dari remaja hingga orang tua. Sutradara Emmanuel Darryl Girvan menyebut proses persiapan berlangsung sekitar dua hingga dua setengah bulan, terdiri dari tahap casting dan latihan. Tahun ini, panitia membuka kesempatan lebih luas melalui sistem open casting. Hasilnya, banyak peserta yang terlibat tanpa latar belakang teater.
“Sebagian besar memang bukan dari dunia teater. Itu jadi tantangan tersendiri, karena kami harus mengejar kemampuan akting mereka dalam waktu relatif singkat,” ujarnya. Meski demikian, ia melihat antusiasme dan komitmen para pemain justru menjadi kekuatan utama dalam pementasan kali ini.
“Talenta mereka muncul selama proses. Itu yang membuat visualisasi tahun ini terasa lebih hidup,” tambahnya.
Bagi Romo Synesius Suyitna, Kepala Paroki, visualisasi Jalan Salib memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar peragaan cerita. Menurutnya, selama ini umat telah akrab dengan kisah sengsara melalui bacaan. Namun, ketika divisualisasikan, pengalaman itu menjadi lebih konkret dan menyentuh.
“Melalui visualisasi ini, umat tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan apa yang dialami Yesus,” jelasnya. Ia menekankan bahwa inti dari kisah tersebut bukan semata penderitaan, melainkan kasih yang tetap hadir bahkan dalam situasi paling sulit.
“Kasih itu yang ingin ditangkap. Bahkan kepada yang menyakiti,” katanya.
Lebih jauh, pesan Paskah yang dihidupi di Keuskupan Agung Semarang mendorong umat untuk tidak berhenti pada praktik iman personal, tetapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sosial.
“Iman itu harus berdampak. Bagaimana kita membangun relasi yang baik dan membawa kesejahteraan bagi sesama,” ujarnya.
Ketika adegan penyaliban mencapai puncaknya, suasana sempat terdiam. Beberapa jemaat gereja bersimpuh dan berdoa, melipat tangannya di dada sambil menghadap salib yang sebelumnya digunakan untuk visualisasi. Di momen itu, visualisasi tak lagi terasa sebagai pertunjukan. Namun berubah menjadi cermin tentang pengampunan, dan kasih yang tetap bertahan.



