Kasus Pemerasan yang Melibatkan Banyak Pihak
Kasus dugaan pemerasan yang menjerat Haji Hartini kian memicu perhatian publik. Video penyerahan uang tunai sebesar Rp500 juta di sebuah hotel di Kota Ambon tidak hanya menunjukkan keterlibatan oknum aparat, tetapi juga mengungkap adanya keterlibatan sejumlah pihak sipil. Termasuk dalam daftar tersebut adalah oknum Bhayangkari, Novita Fitriani A. Baadia, istri dari Bripka Irvan. Selain itu, terdapat sosok seorang perempuan pengusaha minyak bernama Wanda yang terekam dalam video tersebut.
Video tersebut kini menjadi bukti kunci dalam laporan ke SPKT Polda Maluku. Keduanya disebut memiliki peran penting dalam pertemuan yang terekam dalam video. Wanda, pengusaha minyak yang terekam di lokasi, tampak dalam rekaman yang diperlihatkan oleh kuasa hukum M. Nur Latuconsina. Dalam rekaman tersebut, suasana di kamar hotel saat uang ratusan juta rupiah dihitung secara terbuka terlihat jelas.
Di antara sejumlah orang yang berada di ruangan tersebut, tampak seorang perempuan berbaju abu-abu yang diidentifikasi sebagai Wanda, pengusaha minyak di Kecamatan Salahutu. Kehadirannya dalam momen krusial tersebut memunculkan banyak tanda tanya besar. Pasalnya, ia bukan bagian dari struktur aparat penegak hukum, namun justru berada di lokasi saat proses penyerahan dan penghitungan uang berlangsung. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa praktik yang terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan jaringan yang lebih luas, termasuk kalangan pengusaha.
Selain Wanda, dalam video juga terlihat sejumlah nama lain seperti Kompol Soleman hingga Ketua Umum Team Garuda 08 Prabowo-Gibran, Steven Samuel Lee Lahenko bersama istrinya.
Peran Novita dalam Pertemuan
Jika Wanda terlihat dalam video, maka Novita Fitriani A. Baadia disebut sebagai sosok kunci di balik layar. Dalam pengakuannya, Haji Hartini menegaskan bahwa pertemuan di hotel tersebut diatur oleh Novita, yang merupakan istri dari Bripka Irvan. Peran Novita menjadi krusial karena ia diduga sebagai penghubung yang mempertemukan berbagai pihak dalam transaksi yang kini disorot sebagai bagian dari dugaan pemerasan.
“Pertemuan itu diatur oleh Novita,” ungkap Hartini. Keterlibatan Novita membuka dimensi baru dalam kasus ini, yakni dugaan adanya peran keluarga aparat dalam proses yang seharusnya berjalan secara profesional dan transparan.
Video sebagai Bukti Kunci
Kuasa hukum Hartini menegaskan bahwa video tersebut memperlihatkan secara terang proses penyerahan uang, lengkap dengan wajah para pihak yang terlibat. “Ini bukti kuat. Uang diserahkan, dihitung, dan orang-orangnya terlihat jelas,” tegas M. Nur Latuconsina. Menurutnya, nilai Rp500 juta tersebut merupakan bagian dari total tekanan finansial yang dialami kliennya. Hartini mengaku telah mengeluarkan hingga miliaran rupiah dalam kasus yang berkaitan dengan dugaan transaksi sianida.
Desakan untuk Usut Tuntas
Kasus ini tak lagi sekadar perkara kepemilikan bahan kimia berbahaya, tetapi telah berkembang menjadi dugaan serius praktik pemerasan yang melibatkan berbagai pihak. Kuasa hukum mendesak Kapolda Maluku Irjen Pol. Prof. Dadang Hartanto untuk segera mengambil langkah tegas, termasuk memeriksa semua pihak yang terekam dalam video, tanpa terkecuali. Sorotan juga diarahkan pada lambannya respons aparat, yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret meski bukti telah diserahkan.
Fenomena “no viral no justice” pun kembali mencuat, mencerminkan kekhawatiran publik terhadap penegakan hukum yang dinilai baru bergerak setelah mendapat tekanan.
Ujian Besar Penegakan Hukum
Di tengah polemik ini, nama Wanda dan Novita menjadi simbol penting dalam mengurai benang kusut perkara. Keduanya mewakili dua sisi berbeda, pelaku yang terlihat langsung di lokasi dan sosok yang diduga mengatur pertemuan. Kasus ini kini menjadi ujian besar bagi transparansi dan profesionalisme aparat penegak hukum di Maluku.
Hingga berita ini diterbitkan, Infomalangraya.net telah berupaya mengkonfirmasi keduanya namun belum direspon. Publik menanti, apakah seluruh pihak yang terlibat, termasuk Wanda dan Novita, akan diperiksa secara objektif, atau justru kasus ini akan kembali tenggelam di tengah kompleksitas kepentingan. Satu hal yang pasti, video Rp500 juta itu telah membuka pintu bagi pengungkapan fakta yang lebih besar.





