Wisata Air Kali Pangus, Destinasi Baru di Kabupaten Semarang
Kabupaten Semarang kini memiliki tempat wisata baru yang sedang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Tempat tersebut adalah wisata air di Kali Pangus, yang berada di perbatasan antara Desa Kalisidi dan Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat. Wisata ini mulai viral di media sosial dan menawarkan pengalaman bermain air di aliran sungai dengan pemandangan alam hijau yang menenangkan.
Suasana yang Menyenangkan
Gemericik air yang mengalir di antara bebatuan besar menjadi musik alami yang menyambut setiap pengunjung di Kali Pangus. Pada Jumat (5/6/2026) sore, suasana di sungai yang menjadi batas alami antara dua desa ini tampak begitu hidup. Sejumlah anak terlihat asyik bermain air di aliran sungai yang jernih, sementara tawa mereka berpadu dengan suara arus yang memecah bebatuan di sepanjang sungai.
Beberapa pengunjung duduk santai di bebatuan besar sembari menikmati suasana angin sepoi-sepoi. Dari lokasi ini, mata dimanjakan hamparan pepohonan hijau dan sawah terasering yang bertingkat mengikuti kontur lereng, menciptakan panorama khas pedesaan yang menenangkan.
Pengunjung asal Nyatnyono Ungaran, Oni Maeyati, tampak menikmati kesejukan Kali Pangus bersama cucunya. Sesekali, ia menggandeng sang cucu yang bermain di aliran sungai dangkal, sementara anggota keluarga lain duduk santai di tepi sungai dengan menggelar tikar sembari menikmati suasana sore.
Menurut Oni, Kali Pangus menjadi pilihan wisata keluarga karena menawarkan aliran sungai yang jernih dengan kondisi yang relatif aman untuk anak-anak. Selain itu, panorama yang masih alami membuat pengunjung betah berlama-lama.
“Pemandangannya bagus, airnya juga jernih. Cocok untuk wisata keluarga, terutama anak-anak,” ujarnya. “Tidak berbahaya karena alirannya tidak terlalu dalam, jadi orang tua bisa lebih tenang saat mendampingi anak bermain air.”
Viral di Media Sosial
Wisata keceh Kali Pangus belakangan tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Popularitas Kali Pangus terus meroket setelah berbagai unggahan di media sosial menampilkan keindahan aliran sungai, bebatuan alami, panorama pepohonan hijau, dan sawah terasering di sekitarnya.
Tak heran, setiap hari, kawasan ini dipadati pengunjung. “Sebenarnya, sebelum viral, saya sudah tahu tempat ini dan sering ke sini. Sekarang karena ramai di media sosial, saya ajak anak dan cucu bermain ke sini. Nyaman di sini,” ujarnya.
Lokasi wisata keceh Kali Pangus berada tidak jauh dari pusat Kota Ungaran. Pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota menuju Kali Pangus yang berada di perbatasan Desa Lerep dan Desa Kalisidi. Terdapat dua akses yang dapat digunakan pengunjung untuk menuju lokasi. Akses pertama melalui Desa Lerep yang selama ini dikenal sebagai desa wisata. Sementara, akses lain, dapat ditempuh melalui Desa Kalisidi.
Meski baru ramai dalam beberapa pekan terakhir, kawasan Kali Pangus sebenarnya sudah lama dikenal warga sekitar sebagai bagian dari aliran sungai yang berhulu di kawasan Indrokilo dan Curug Lawe.
Pengelolaan Bersama Dua Desa
Meningkatnya jumlah pengunjung mendorong warga dari dua desa untuk mulai menata kawasan wisata tersebut agar lebih nyaman dan berkelanjutan. Retribusi kebersihan rencananya diterapkan sebesar Rp2.000 mulai Sabtu (6/6/2026). Sedangkan, penitipan motor sebesar Rp2.000.
“Kamis sudah koordinasi dua pihak desa yaitu Kalisidi dan Lerep. Kami akan kelola agar kebersihan tetap terjaga. Retribusi buat beli plastik sampah perawatan dan lain-lain. Jadi, kita koordinasi dengan pengelola antara Kalisidi dan Lerep agar sama. Kami buat Sidokarep yaitu Kalisidi dan Lerep,” terangnya.
Dalam waktu dekat, sejumlah fasilitas penunjang akan dibangun, mulai dari warung, kamar mandi, hingga kolam terapi ikan. Kepala Desa Kalisidi Dimas Prayitno Putra menambahkan, Pemerintah Desa Kalisidi dan Desa Lerep melalui Kelompok Kerjasama Antar Desa (KKAD) telah sepakat melakukan pengelolaan bersama agar aktivitas wisata di kawasan sungai tetap tertata.
“Yang penting, saat ini, ada pengendalian bersama, terutama soal sampah dan aturan yang harus dipahami pengunjung,” ujarnya. Dimas menjelaskan, sebagian besar lahan di sekitar lokasi wisata merupakan milik warga. Karena itu, pengembangan fasilitas dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat.
Warga yang memiliki lahan di sekitar sungai, lanjutnya, bersedia memanfaatkan lahannya sebagai area pendukung wisata, seperti tempat parkir, toilet, ruang ganti, hingga penitipan barang. Pengelolaannya pun dilakukan langsung oleh warga dengan tarif yang telah disepakati bersama.
Ia berharap, keberadaan wisata sungai tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai ruang rekreasi alam yang terjangkau.
“Harapannya masyarakat bisa mengakses tempat ini dengan aman, biaya murah, dan kebersihannya tetap terjaga,” ucapnya.





