Sejarah dan Perkembangan Stasiun Gambir
Stasiun Gambir, yang kini menjadi salah satu gerbang utama perjalanan kereta api di Indonesia, telah berusia 155 tahun. Dari awalnya sebagai Halte Koningsplein pada tahun 1871, stasiun ini berkembang menjadi stasiun layang modern yang melayani kereta api jarak jauh. Di tengah hiruk-pikuk pusat Ibu Kota, Stasiun Gambir tetap menjadi simpul transportasi penting, mencerminkan perubahan wajah Jakarta dari masa ke masa.
Perkembangan Stasiun Gambir
Sejarah Stasiun Gambir dimulai pada tahun 1871 dengan nama Halte Koningsplein. Pada masa itu, fasilitas tersebut menjadi bagian dari perkembangan awal jaringan kereta api di kawasan Batavia. Seiring berkembangnya aktivitas kota, halte tersebut ditingkatkan menjadi Stasiun Weltevreden pada tahun 1884. Pada dekade 1930-an, stasiun kembali mengalami pembaruan dan dikenal sebagai Batavia Koningsplein dengan gaya arsitektur Art Deco yang menjadi ciri khas bangunan kolonial saat itu.
Setelah Indonesia merdeka, nama Gambir semakin melekat sebagai identitas stasiun yang berada di pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat Jakarta. Transformasi besar terjadi pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an melalui pembangunan jalur layang Manggarai–Jakarta Kota. Pada 5 Juni 1992, bangunan baru Stasiun Gambir diresmikan sebagai stasiun layang dengan desain atap bergaya joglo dan dominasi warna hijau yang hingga kini menjadi ciri khasnya.
Kinerja dan Layanan Stasiun Gambir
Berdasarkan data KAI, jumlah pelanggan yang naik dan turun di Stasiun Gambir selama periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 2.603.087 pelanggan. Angka tersebut meningkat 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 2.325.271 pelanggan. Dari jumlah tersebut, pelanggan yang berangkat dari Stasiun Gambir mencapai 1.342.160 orang atau naik 11,86 persen dibandingkan Januari-Mei 2025 sebanyak 1.199.828 pelanggan. Sementara itu, pelanggan yang tiba di Stasiun Gambir mencapai 1.260.927 orang atau meningkat 12,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 1.125.443 pelanggan.
Sepanjang tahun 2025, total pelanggan yang naik dan turun melalui Stasiun Gambir tercatat mencapai 5.990.911 orang. Menurut Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, angka tersebut menunjukkan peran penting Gambir sebagai gerbang perjalanan masyarakat dari dan menuju pusat Jakarta, baik untuk kepentingan pekerjaan, bisnis, pemerintahan, pendidikan, wisata, maupun kunjungan keluarga.
Fasilitas dan Pengalaman Pelanggan
Saat ini, Stasiun Gambir difokuskan sebagai stasiun keberangkatan dan kedatangan kereta api jarak jauh. Posisi tersebut menjadikannya sebagai etalase layanan antarkota KAI yang melayani perjalanan menuju berbagai kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Seiring perkembangan zaman, fasilitas di Stasiun Gambir juga terus diperbarui untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan.
Selain ruang tunggu, area komersial, pusat informasi, musala, toilet, area parkir, dan layanan pelanggan, stasiun ini kini dilengkapi fasilitas modern seperti Shower & Locker, Rail Transit Suite, ruang tunggu premium, hingga beragam tenant makanan dan minuman. Di era digital, pelanggan juga dapat memesan tiket melalui aplikasi Access by KAI dan kanal resmi KAI, melakukan check-in mandiri, serta memperoleh informasi perjalanan secara lebih cepat dan praktis.
Masa Depan Stasiun Gambir
Anne menegaskan KAI terus berupaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang nyaman bagi pelanggan sejak tiba di stasiun hingga naik ke dalam kereta. “Bagi sebagian orang, Gambir adalah awal perjalanan kerja. Bagi yang lain, Gambir adalah jalan pulang ke keluarga. Ada juga yang datang untuk berwisata, menghadiri agenda penting, atau menjemput orang terdekat. Karena itu, KAI terus menjaga agar pengalaman pelanggan di Stasiun Gambir terasa aman, tertib, bersih, mudah dipahami, dan nyaman,” ujarnya.
KAI juga mengimbau pelanggan untuk merencanakan perjalanan dengan baik, memastikan data diri sesuai tiket, datang lebih awal ke stasiun, serta memanfaatkan aplikasi Access by KAI untuk mengelola kebutuhan perjalanan. “Gambir telah melewati banyak zaman, tetapi perannya tetap sama yaitu menghubungkan pelanggan dengan tujuan, keluarga, pekerjaan, dan harapan. KAI akan terus merawat nilai sejarahnya, memperkuat layanannya, dan menjaga Gambir sebagai gerbang perjalanan yang membanggakan bagi Indonesia,” tutup Anne.





