Dinamika Hubungan Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, memberikan analisis tajam mengenai hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam sebuah bincang-bincang politik terbaru, ia menyampaikan bahwa ada sinyal ketidakpuasan dari pihak Prabowo terhadap pendampingnya saat ini.
Ketidakharmonisan dalam Pemerintahan
Menurut Said Didu, ketidakharmonisan ini muncul di tengah kencangnya manuver partai politik seperti PAN, PKB, dan Golkar untuk mendorong Prabowo kembali maju pada Pilpres 2029. Namun, posisi calon wakil presiden yang akan mendampinginya masih menjadi teka-teki.
Beberapa alasan utama yang mendasari penilaian tersebut adalah sebagai berikut:
-
Gibran Jarang Dilibatkan dan Sering Berada di Belakang
Said Didu menilai Gibran, putra sulung mantan Presiden Jokowi, tidak terlalu dilibatkan oleh Prabowo. Ia mencontohkan momen saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 2 Juni 2025, ketika Gibran tampak berjalan mengekor di belakang Prabowo dan Megawati Soekarnoputri.
“Tapi begini terkait dengan saya melihat, saya melihat ininya bahwa memang kelihatannya Pak Prabowo tidak terlalu happy dengan pasangan sekarang ini, gitu kan? dari fakta politik kan enggak pernah diajak, kalau ada acara di belakang,” kata Said. -
Dianggap Tidak Terbantu Secara Kinerja
Said Didu menyimpulkan, Prabowo merasa tidak mendapatkan dukungan kinerja yang signifikan dari pendampingnya saat ini. Hal ini terlihat dari keengganan Prabowo membahas masa depan politiknya di 2029 dan lebih memilih fokus pada tugas saat ini.
“Jadi maksud saya begini, sekarang ini ada dua kubu politik, dan sepertinya Pak Prabowo, kalau saya membaca, dia tidak happy dengan pasangan sekarang gitu karena dia tidak terbantu sama sekali,” jelasnya. -
Tekanan Faktor Jokowi dan Dinasti Politik
Alasan ketiga adalah posisi Prabowo yang terjepit di antara dua kubu politik. Satu kubu mendukungnya tanpa nama Gibran, sementara kubu lain terutama melalui PSI desakan agar duet tersebut berlanjut sangat kuat.
Said menyoroti bagaimana Prabowo tidak merespons instruksi Jokowi kepada PSI. “Nah, artinya ini ada keinginan bahwa Prabowo harus [menggandeng Gibran], dan Prabowo tidak pernah merespon itu,” jelasnya.
Prabowo Belum Terpikir Maju 2029 dan Pilih Fokus Kerja
Meskipun dukungan mulai mengalir, Said Didu menangkap sinyal Prabowo sendiri belum terpikir untuk kembali maju di 2029. Hal ini didasari pada pernyataan Prabowo yang mengaku hanya ingin fokus bekerja demi rakyat.
“Saya nangkap dari sini, sepertinya dia [Prabowo] tidak suka membahas-bahas tentang 2029 dengan pernyataan, ‘Saya tidak, saya akan bekerja penuh untuk rakyat dan saya tidak berpikir untuk selanjutnya, dan kalau saya gagal dan rakyat merasa saya salah, maka saya bersedia mendapat hukuman dari rakyat,'” tutur Said Didu menirukan ucapan Prabowo.
Manuver Partai Politik: Dukungan dari PAN, PKB, hingga Golkar
Di sisi lain, narasi mengenai Pilpres 2029 semakin menguat seiring manuver terbuka dari sejumlah partai besar sejak awal Februari 2026:
- PAN: Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno dan Ketua Umum Zulkifli Hasan (Zulhas) telah memastikan dukungan untuk Prabowo di 2029. Bahkan, PAN mendorong Zulhas sebagai cawapres pendamping Prabowo.
- PKB: Ketua Umum Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) bersama jajaran DPP PKB seperti Daniel Johan dan Syaiful Huda menyatakan dukungan langsung di Istana untuk Prabowo dua periode. Muncul pula wacana untuk mendorong Cak Imin sebagai pendamping Prabowo.
- Golkar: Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, pada Jumat (13/2/2026), mencetuskan gagasan koalisi permanen. “Seluruh kebijakan Fraksi Partai Golkar harus mendukung astacita Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kita sudah membangun satu koalisi dan kita mendorong sebenarnya agar terjadi koalisi permanen,” kata Sarmuji, dalam acara HUT ke-58 Fraksi Partai Golkar di Senayan, Jakarta.
Gerindra Buka Pintu bagi Semua Tokoh
Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra Ahmad Muzani menegaskan semua tokoh yang memenuhi syarat berpeluang mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029, seiring menguatnya wacana Prabowo dua periode.
Pernyataan itu disampaikan Muzani saat ditemui di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, Aceh, Selasa (10/2/2026). Menurut Muzani, Partai Gerindra bersama partai-partai pengusung membuka ruang bagi siapa pun yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo pada Pilpres 2029.
“Ya semua orang, semua tokoh yang memenuhi syarat berpeluang untuk bisa mendampingi Pak Prabowo,” ujar Muzani.
Survei dan Tingkat Kepuasan Publik
Survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Minggu (8/2/2026) mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen. Di tengah menguatnya wacana Prabowo dua periode, bursa calon pendamping masih terbuka lebar. Satu hal yang ditegaskan Gerindra: siapa pun bisa berpeluang, selama memenuhi syarat dan dinamika politik mengarah ke sana.
