Kecelakaan Kereta Bandara Soekarno-Hatta dengan Truk Kontainer di Poris Tangerang
Kereta Bandara Soekarno-Hatta mengalami kecelakaan setelah menabrak truk kontainer di kawasan Poris, Tangerang. Peristiwa ini terjadi pada Jumat (20/2/2026) sekitar pukul 06.05 WIB, tepatnya di perlintasan sebidang JPL 21 lintas Rawa Buaya-Batuceper, Kawasan Poris, Tangerang.
Truk besar yang sedang membawa muatan tertabrak oleh rangkaian kereta api tersebut dan terpental sejauh 100 meter dari lokasi kejadian. Truk kontainer berwarna orange tersebut rusak parah akibat benturan keras dengan Kereta Api (KA) Bandara Soekarno-Hatta di perlintasan kereta Stasiun Poris, Kota Tangerang, Banten.
Berikut adalah lima fakta terkait kecelakaan antara KA Bandara dan truk kontainer di Poris Tangerang hari ini:
1. Sopir Diperiksa
Polisi telah memeriksa sopir truk kontainer serta petugas palang pintu perlintasan di kawasan Poris, Kota Tangerang. Pemeriksaan dilakukan untuk menyelidiki penyebab insiden serta memastikan apakah ada unsur kelalaian.
Kasat Lantas Polres Metro Tangerang Kota AKBP Nopta Histaris Suzan menjelaskan bahwa polisi telah meminta keterangan dari sejumlah pihak yang berada di lokasi saat kejadian. “Yang jelas ada driver-nya, kemudian kernet-nya, kemudian saksi-saksi petugas palang pintu. Nanti kita dalami kembali, kita laporkan lebih lanjut kepada media,” ujar Nopta saat ditemui di lokasi, Jumat.
Berdasarkan keterangan saksi dan rekaman CCTV di lokasi, polisi mendapati palang pintu pelintasan masih dalam kondisi terbuka ketika truk melintas. Namun demikian, sirine peringatan telah dibunyikan sebelum kereta melintas. “Dari keterangan saksi, sopir, ataupun kami melihat langsung dari CCTV yang ada di lokasi, artinya palang pintu belum ada upaya penutupan, masih terbuka lebar,” kata dia.
Meski palang pintu disebut belum tertutup, Nopta menambahkan, petugas pelintasan telah berupaya memberikan peringatan. “Sirene tadi keterangan dari petugas, dia sempat lakukan upaya-upaya untuk memberitahu masinis dan sirine sudah dibunyikan,” jelas Nopta.
Kendati demikian, truk kontainer tetap melintas di perlintasan rel yang berada tidak jauh dari Stasiun Poris.
2. Tak Ada Korban Jiwa
Polisi memastikan tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan antara Kereta Bandara Soekarno-Hatta dan truk kontainer di perlintasan Stasiun Poris, Kota Tangerang, Jumat (20/2/2026).
Kasat Lantas Polres Metro Tangerang Kota AKBP Nopta Histaris Suzan mengatakan, rangkaian kereta tersebut dalam kondisi kosong, tidak mengangkut penumpang. “Tidak ada. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa karena kereta api tadi masih tidak ada muatan atau penumpang,” ujar Nopta dikutip dari Kompas.com, Jumat.
3. Detik-detik Kecelakaan
Detik-detik kecelakaan antara Kereta Api (KA) Bandara Soekarno-Hatta dan truk kontainer di perlintasan sebidang Poris, Kota Tangerang, terekam kamera pengawas (CCTV). Dalam rekaman CCTV, terlihat sebuah truk kontainer berwarna putih hendak melintasi perlintasan rel menuju arah Daan Mogot.
Pada pukul 06.02 WIB, truk kontainer yang mengangkut satu kapsul penyelamat itu terlihat tersangkut di pelintasan. Posisi kendaraan melintang dan menutup hampir seluruh badan jalan, terutama jalur menuju Daan Mogot. Hanya sepeda motor yang masih dapat melintas di sisi kanan dan kiri truk. Saat truk tersangkut, terlihat dua pria berada di sekitar kendaraan.
Seorang pria berupaya memperbaiki atau mengatasi posisi truk yang terjebak, sementara pria lainnya membantu mengatur arus lalu lintas di lokasi. Sirene berbunyi, palang belum turun. Pada pukul 06.03 WIB, sirene peringatan mulai berbunyi. Namun, dalam rekaman tersebut palang pintu perlintasan belum terlihat turun.
Beberapa detik kemudian, tampak seorang pria mengenakan jas hujan plastik berwarna biru dan helm hitam terlihat panik sambil melambaikan tangan, diduga memberi isyarat peringatan. Tak lama berselang, rangkaian KA Bandara melaju dari arah Duri menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Kereta melintas dengan kecepatan tinggi dan menghantam bagian samping truk kontainer. Akibat benturan tersebut, truk terseret sejauh kurang lebih 100 meter dari titik awal tabrakan.
4. Penumpang Terima Refund
KAI Commuter memberikan pengembalian dana (refund) sebesar 100 persen kepada penumpang Commuter Line Basoetta yang telah membeli tiket menuju Bandara Soekarno-Hatta. VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan bahwa refund diberikan kepada seluruh pengguna yang terdampak perubahan pola operasi akibat kejadian tersebut.
“Bagi pengguna Commuter Line Basoetta yang telah memiliki tiket dapat melakukan refund dengan pengembalian 100 persen di stasiun-stasiun pemberhentian Commuter Line Basoetta,” ujar Karina. Selain pengembalian dana, KAI Commuter juga menyediakan transportasi pengganti bagi penumpang rangkaian Nomor 806 untuk melanjutkan perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Sementara itu, calon penumpang yang hendak menuju bandara untuk sementara waktu disarankan menggunakan moda transportasi alternatif. “Untuk sementara, bagi calon pengguna Commuter Line Basoetta yang akan menuju bandara, disarankan untuk mencari alternatif transportasi lainnya,” tuturnya.
5. Penumpang Tekor
Sejumlah calon penumpang terpaksa mengeluarkan biaya hingga empat kali lipat untuk mencapai Bandara Soekarno-Hatta setelah layanan Kereta Bandara dihentikan sementara akibat insiden tabrakan dengan truk di Poris, Tangerang, Jumat (20/2/2026). Perjalanan Commuter Line Basoetta dihentikan setelah rangkaian No. 806 anjlok usai tertemper truk di pelintasan sebidang JPL 21 lintas Rawa Buaya–Batuceper.
Pantauan Kompas.com di Stasiun Manggarai, calon penumpang yang semula hendak menggunakan kereta bandara tampak membatalkan perjalanan setelah mendapat informasi bahwa layanan tidak tersedia. Sementara Sejumlah penumpang terlihat meninggalkan area transit sambil memesan ojek online demi mengejar jadwal penerbangan.
Salah satu calon penumpang, Michael (35), mengaku memilih kereta bandara karena tarifnya lebih terjangkau. “Ya, harus rogoh kocek lebih dalam ya. Ini milih kereta juga kan karena harganya terjangkau,” kata Michael dikutip dari Kompas.com, Jumat (20/2/2026). Jika menggunakan ojek online, Michael harus membayar sekitar Rp 280.000 di luar tarif tol. Sementara dengan kereta bandara, ia hanya perlu membayar Rp 70.000.
“Bedanyakan lumayan, jauh banget. Kalau ada kereta pasti milih kereta,” ucap Michael. Hal serupa diungkapkan Dadan (47). Ia tampak menghubungi keluarganya setelah mengetahui layanan kereta bandara tidak beroperasi. Dadan semula menargetkan tiba di bandara sekitar pukul 14.00 WIB.
“Milih kereta jugakan karena harganya. Anak saya nyaranin buat naik kereta aja soalnya masih puluhan ribu harganya kan,” ungkap Dadan. Menurut dia, waktu tempuh kereta seharusnya lebih cepat dan pasti. Namun, kondisi darurat membuatnya harus mencari alternatif transportasi.
“Estimasi kereta kan jauh lebih cepat, tapi apa daya. Namanya musibah itu juga bukan karena kesalahan di pihak keretanya,” kata Dadan. Ia pun berencana beralih ke transportasi daring. “Ya, minta anak pesenin ojek online aja, sudah mepet waktunya,” kata Dadan.
