Kenaikan Harga Minyak Akibat Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memicu kenaikan tajam pada harga minyak mentah dunia. Peristiwa ini terjadi setelah kedua negara saling melancarkan serangan di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama pengiriman minyak dan gas alam global.
Menurut laporan Al Jazeera, harga minyak mentah Brent sempat naik hingga 7,5 persen dalam perdagangan Kamis sebelum akhirnya sedikit mereda saat pasar Asia dibuka pada Jumat pagi. Harga Brent tercatat berada di level 101,12 dolar AS per barel setelah sebelumnya menyentuh puncak harian di angka 103,70 dolar AS. Sementara itu, CNBC melaporkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga ikut naik menjadi sekitar 95,64 dolar AS per barel.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena lebih dari seperlima pasokan minyak serta gas alam global biasanya melewati kawasan tersebut setiap hari. Bentrokan terbaru pecah setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menuduh Iran menyerang tiga kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil. Militer AS kemudian melancarkan serangan balasan yang mereka sebut sebagai tindakan pertahanan diri.
Di sisi lain, Iran justru menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyebut pasukan AS menyerang kapal tanker minyak Iran serta beberapa kapal lain di sekitar Selat Hormuz. Iran juga menuduh AS menargetkan wilayah sipil, termasuk kawasan Pulau Qeshm.
Arab Saudi Berperan dalam Penangguhan Operasi Project Freedom
Ketika Presiden AS Donald Trump tiba-tiba menghentikan Project Freedom atau “Proyek Kebebasan”, yang bertujuan mengawal kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz, ia mengatakan keputusan itu diambil untuk melancarkan negosiasi dengan Iran atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan proyek tersebut dihentikan karena sekutu AS di Teluk, yakni Arab Saudi dan Kuwait, menolak mengizinkan pesawat tempur Amerika menggunakan pangkalan atau wilayah udara mereka dalam operasi tersebut.
Hambatan itu, kini disebut telah teratasi setelah Presiden AS dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemimpin de facto Arab Saudi, menyelesaikan masalah tersebut dalam percakapan telepon pada Rabu malam. Hal ini membuka jalan bagi pemerintahan Trump untuk memulai kembali operasi pengawalan kapal-kapal komersial dengan dukungan angkatan laut dan udara. Namun, belum jelas apakah dan kapan hal itu akan dilakukan, meskipun para pejabat Pentagon dalam wawancara dengan WSJ memperkirakan operasi dapat dimulai paling cepat pekan ini.
CIA: Iran Mampu Bertahan Hadapi Blokade Trump selama 3-4 Bulan dan Masih Memiliki 70 Persen Rudal
Berbeda dengan optimisme Presiden AS Donald Trump mengenai perang yang disebut akan segera berakhir, CIA menilai Iran mampu bertahan menghadapi blokade Amerika setidaknya selama tiga hingga empat bulan, menurut laporan The Washington Post.
Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA membagikan analisis rahasia kepada para pembuat kebijakan yang bertentangan dengan pernyataan publik Trump mengenai kemampuan rudal Iran. Dalam penilaian tersebut, Iran disebut masih mempertahankan sekitar 70 persen rudalnya dan 75 persen peluncur bergeraknya. Namun secara terbuka, Trump mengatakan Iran hanya memiliki sekitar 18-19 persen rudal yang tersisa dan mengklaim kemampuan rudal negara itu telah sebagian besar hancur.
Seorang pejabat mengatakan kepada The Washington Post bahwa terdapat bukti Iran mampu memulihkan dan membuka kembali hampir seluruh fasilitas penyimpanan bawah tanahnya, memperbaiki sejumlah rudal yang rusak, bahkan merakit rudal baru yang sebelumnya hampir selesai saat perang dimulai. Pejabat lain mengatakan kemampuan Iran untuk bertahan menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan ternyata jauh lebih besar daripada perkiraan CIA sekalipun.
Video AI Trump Terjebak di ‘Selat Hormuz’ Viral, Diunggah Kedubes Iran
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memanas, namun kali ini perang narasi berlangsung melalui video parodi berbasis kecerdasan buatan (AI) di media sosial. Salah satu unggahan yang menjadi perhatian publik datang dari Kedutaan Besar Iran di Hungaria.
Misi diplomatik tersebut membagikan video parodi hasil AI yang menampilkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang kesulitan mengemudikan kendaraan kecil bergaya Tesla Cybertruck di lorong sempit yang dianalogikan sebagai Selat Hormuz. Video berdurasi sekitar 34 detik itu terinspirasi dari adegan film Austin Powers: International Man of Mystery, ketika tokoh Austin Powers terjebak dengan kendaraan kecil di lorong sempit dan gagal keluar meski berkali-kali mencoba maju dan mundur.
Dalam versi parodi yang diunggah Iran, Trump digambarkan memasuki jalur sempit dengan percaya diri sebelum kendaraan tersebut tersangkut dan tidak bisa bergerak bebas. Ia kemudian diperlihatkan terus bermanuver secara canggung tanpa hasil. Unggahan itu disertai keterangan bernada sindiran, “Upaya Trump melewati Selat Hormuz!”, lengkap dengan emoji tertawa.
Rusia-China Kompak Akan Veto Resolusi PBB soal Selat Hormuz
Upaya Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Teluk untuk mendorong resolusi Dewan Keamanan PBB tentang krisis Selat Hormuz kini menghadapi hambatan besar. Al Jazeera melaporkan Rusia dan China diperkirakan akan memveto rancangan resolusi tersebut dalam pemungutan suara Dewan Keamanan PBB.
Rancangan resolusi itu sebelumnya mendapat dukungan luas dari negara-negara Teluk dan sejumlah anggota Dewan Keamanan. AS dan Bahrain menjadi pengusul utama draft tersebut. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar juga ikut menjadi sponsor bersama resolusi tersebut. Isi rancangan resolusi berfokus pada prinsip kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Namun, menurut sumber diplomatik yang dikutip Al Jazeera, Rusia dan China telah memberi sinyal kuat akan menolak rancangan tersebut dalam bentuknya saat ini. Kedua negara menilai draft resolusi terlalu menyudutkan Iran. Selain itu, Rusia dan China juga menolak karena teks resolusi tidak secara spesifik menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang memulai perang. Belum ada kepastian kapan pemungutan suara resmi akan dilakukan. Namun, Al Jazeera melaporkan voting mungkin berlangsung awal pekan depan.





