Situasi Kasus DBD di Kabupaten Lamongan
Hingga awal April 2026, tercatat sebanyak 96 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Lamongan. Mayoritas dari kasus tersebut menunjukkan gejala ringan tanpa adanya korban meninggal dunia. Meski demikian, situasi ini tetap menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pihak dinas kesehatan setempat.
Penyebab Peningkatan Kasus DBD
Peningkatan jumlah kasus DBD disebabkan oleh curah hujan yang tinggi serta genangan air yang menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Genangan air ini sering kali ditemukan di lingkungan permukiman, seperti bak mandi, drum, ember, atau barang bekas yang menampung air hujan. Nyamuk-nyamuk ini menjadi pembawa virus dengue yang menyebabkan penyakit DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lamongan, dr. Yani Khoirurahmahwati, menjelaskan bahwa dari total 96 kasus yang tercatat, sebagian besar pasien mengalami gejala ringan. Sebanyak 48 orang mengalami infeksi virus dengue ringan, sedangkan 11 orang lainnya menunjukkan gejala klinis awal demam berdarah.
Upaya Pencegahan dan Edukasi
Untuk mencegah penularan, Dinkes Lamongan mengimbau masyarakat agar menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti 3M, yaitu Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
- Masyarakat diminta untuk rutin menguras bak mandi dan tempat penampungan air setidaknya seminggu sekali.
- Menutup rapat wadah air agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
- Mendaur ulang atau membuang barang bekas seperti kaleng, botol, ban bekas, dan wadah plastik yang bisa menampung air hujan.
Selain itu, penggunaan obat anti jentik nyamuk pada tempat-tempat yang sulit dikuras juga dianjurkan. Penggunaan obat anti nyamuk, pemasangan kawat kasa di ventilasi rumah, serta menjaga kebersihan saluran air juga menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan
Dr. Yani menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. “Jangan menunggu ada anggota keluarga yang sakit baru melakukan pembersihan lingkungan,” ujarnya.
Masyarakat juga diharapkan segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, muntah, lemas, atau munculnya bintik merah di kulit. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kondisi pasien menjadi lebih parah.
Tindakan Darurat: Fogging
Dinkes Lamongan juga mulai melakukan pengasapan atau fogging di sejumlah kawasan permukiman padat penduduk. Fogging dilakukan terutama di wilayah yang ditemukan kasus DBD maupun lingkungan yang dinilai berpotensi tinggi menjadi lokasi penyebaran nyamuk.
Fogging dilakukan tidak hanya di lingkungan rumah warga, tetapi juga di area saluran got dan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Tujuannya adalah untuk memutus rantai penyebaran nyamuk Aedes aegypti sekaligus menekan kemungkinan munculnya kasus baru.
Namun, Dr. Yani menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama. “Fogging hanya salah satu upaya tambahan. Yang paling penting tetap menjaga kebersihan lingkungan dan rutin menjalankan 3 M,” tegasnya.
Harapan Dinkes Lamongan
Dinkes Lamongan berharap seluruh masyarakat dapat terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan kasus DBD di Lamongan tidak terus bertambah selama tahun 2026.




