Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Masih Rendah Pasca-Gencatan Senjata
Setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih menunjukkan penurunan yang signifikan. Menurut data pelacakan maritim, hanya sekitar 10 kapal yang melintasi selat tersebut setelah kesepakatan damai diberlakukan.
Jumlah Kapal yang Melintasi Selat Hormuz
Dari jumlah tersebut, empat kapal tanker dan enam kapal kargo curah tercatat melintasi selat. Namun, hanya satu kapal tanker yang berasal dari luar Iran. Kapal berbendera Gabon bernama “MSG” diketahui melintasi selat dengan mengangkut sekitar 7.000 ton bahan bakar minyak dari Uni Emirat Arab menuju India.
Sementara itu, sekitar selusin kapal lainnya diperkirakan akan melintasi selat, namun mayoritas dari mereka masih terkait dengan Iran atau negara-negara yang tidak bermusuhan dengan Teheran.
Kondisi Selat Hormuz Setelah Gencatan Senjata
Pemimpin Redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, mencatat bahwa kondisi selat tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan sebelum rencana gencatan senjata diumumkan. “Selat ini tetap terbuka atau tertutup seperti sebelumnya,” ujarnya.
Analis Lloyd’s List Intelligence, Bridget Diakun, menambahkan bahwa lalu lintas dalam sepekan terakhir turun hingga 90 persen dari level normal. “Hampir sepenuhnya (lalu lintas) didorong oleh perdagangan Iran,” kata Diakun.
Senada dengan itu, Analis Kpler, Ana Subasic, memperkirakan jumlah pelayaran hanya akan mencapai 10 hingga 15 kapal per hari, dengan syarat gencatan senjata bertahan.
Penetapan Rute Alternatif oleh Iran
Minimnya lalu lintas tersebut juga dipengaruhi oleh kebijakan Iran yang mengumumkan rute alternatif pelayaran di Selat Hormuz dengan dalih adanya risiko ranjau laut di jalur utama. Garda Revolusi Iran (IRGC) menetapkan rute yang melintasi dekat Pulau Larak. IRGC juga menyatakan bahwa setiap kapal hanya dapat melintas dengan koordinasi bersama angkatan laut Iran.
Beberapa laporan mengindikasikan adanya pembiayaan untuk kelancaran pelayaran. Financial Times melaporkan Iran berpotensi mengenakan biaya satu dolar AS per barel minyak yang melintas, yang dibayarkan melalui mata uang kripto. Selain itu, beredar rumor bahwa kapal harus masuk dalam daftar yang disetujui, atau negara asal kapal akan diberi peringkat, dengan perlakuan khusus bagi negara yang bersahabat dengan Iran.
Ratusan Kapal Terjebak di Teluk
Ketidakpastian keamanan ini membuat banyak pemilik kapal enggan segera kembali beroperasi. Jakob Larsen dari asosiasi pelayaran internasional BIMCO menegaskan bahwa “Meninggalkan Teluk saat ini tidak disarankan” tanpa adanya koordinasi dari AS dan Iran.
Sejak perang pecah pada 28 Februari, sekitar 800 kapal dilaporkan masih terjebak di kawasan Teluk. Perusahaan pelayaran asal Jerman, Hapag-Lloyd, bahkan memastikan belum akan melanjutkan operasinya di rute tersebut.
Data Kpler mencatat sekitar 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan masih terapung di laut kawasan itu, yang tersebar di 187 kapal tanker.
Catatan Insiden Penyerangan
Meski serangan berkurang dan belum ada laporan baru sejak gencatan senjata dimulai, catatan insiden sebelumnya masih membayangi. IRGC mengklaim telah melakukan tiga serangan antara Sabtu hingga Selasa, dengan satu insiden di antaranya dikonfirmasi oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Secara keseluruhan, sejak awal Maret, total 30 kapal komersial, termasuk 13 kapal tanker, dilaporkan menjadi sasaran atau mengalami insiden di kawasan tersebut.




