Ringkasan Berita
Pada tahun 2026, keberangkatan jemaah Haji akan dimulai pada 22 April secara bertahap. Jemaah dengan usia senja juga akan melaksanakan ibadah Haji bersama rombongan lainnya. Di Kabupaten Bantul, DIY, terdapat jemaah Haji tertua berusia 100 tahun, yaitu Mardijiyono Karto Sentono.
Setiap musim Haji, jemaah tertua sering kali menjadi perhatian publik, tidak hanya karena usianya yang sangat tua tetapi juga karena perjuangan panjang mereka hingga bisa berangkat ke Tanah Suci. Dari menabung selama belasan tahun hingga menunggu antrean yang cukup lama. Kisah-kisah ini datang dari berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pada tahun 2026, warga Kabupaten Bantul, DIY, yakni Mardijiyono Karto Sentono akan menunaikan ibadah Haji di usia senja. Mardijiyono adalah jemaah Haji tertua di wilayahnya yang berusia lebih dari 1 abad. Ia mendaftar haji pada 2020 dan mendapat kuota prioritas lansia, sehingga berangkat lebih awal.
Selain Mbah Mardiyono, jemaah Haji yang berusia senja adalah Harsono, asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ia akan berangkat Haji 2026 ketika usianya memasuki 90 tahun. Harsono memiliki niat berhaji sejak 2013. Untuk mewujudkan keingannya, ia menabung, menyisihkan uang dari hasil memelihara dan menjual lembu setiap tahun.
Diketahui, pemberangkatan jemaah Haji akan dimulai pada 22 April 2026 secara bertahap. Sehari sebelumnya, jemaah Haji kloter pertama sudah memasuki asrama Haji masing-masing pada 21 April.
Daftar Sementara Jemaah Haji Tertua 2026 di Jawa Tengah
- Mbah Mardiyono Asal Bantul, 103 Tahun
- Mbah Dalimin dari Klaten, 94 Tahun
- Harsono dari Karanganyar, 90 Tahun
- Miatin dari Sukoharjo, 88 Tahun
- Nikmah dari Batang 86, Tahun
Sosok dan Kisah Jemaah Haji Tertua 2026
Mbah Mardijiyono Asal Bantul 103 Tahun, Tunaikan Wasiat Istri
Mardijiyono Karto Sentono atau Mbah Mardiyono merupakan warga yang tinggal di Jalan Randusari-Karanganom, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY. Lansia berusia 103 tahun tersebut, tercatat menjadi calon jemaah haji tertua dari DIY pada tahun 2026. Rencananya, Mbah Mardiyono akan berangkat ke Arab Saudi pada 1 Mei 2026.
Ia melaksanakan ibadah Haji tanpa didampingi pihak keluarga. Hal tersebut, disampaikan Dewi Rusmala (33), cucu dari Mbah Mardijiyono. Meski begitu, Mbah Mardijiyono tetap akan mendapatkan pendampingan khusus dari petugas Haji. Sebab, usianya sudah lanjut, mengalami gangguan pendengaran dan keterbatasan berjalan.
“Mbah kan kakinya sakit karena sempat jatuh waktu lagi di rumah anaknya yang ada di Jakarta,” ucapnya di rumahnya, Jumat (17/4/2026). Wasiat Istri Mardijiyono Lebih lanjut, Dewi menjelaskan, keberangkatan sang kakek ke Tanah Suci tak lepas dari wasiat dari neneknya. Pada akhir Desember 2019 silam, neneknya mengalami sakit hingga meninggal dunia. Sebelum berpulang, ternyata sang nenek berwasiat agar suaminya, yakni Mbah Mardijiyono melaksanakan ibadah Haji.
“Mbah putri enggak mau (ikut berangkat haji). Katanya Mbah Kakung saja yang berangkat. Waktu itu karena mungkin Mbah Putri sudah tidak sehat juga, sudah sakit-sakitan, tapi Mbah Kakung masih sehat,” cerita Dewi. Pesan tersebut, akhirnya dilaksanakan oleh Mardijiyono. Pada 2020, Mardijiyono mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah Haji dan dijadwalkan berangkat pada tahun 2045. Namun, ia mendapatkan kuota Haji lansia dan dijadwalkan berangkat lebih awal, yakni tahun 2026.
Biaya Haji dari Bekerja sebagai Petani dan Peternak Dalam mewujudkan Haji, berbagai perjuangan pun dilakukan Mardijiyono. “Waktu pendaftaran itu sempat jual sapi sekitar Rp10 juta. Terus kekurangannya berhasil ditambahin, jadi dapat kursi.” “Karena Mbah kan, dulu selain jadi petani juga beternak sapi. Tapi Mbah itu melihara sapi bareng dengan teman-temannya,” ucap Dewi. Selanjutnya, pihak keluarga terus mendampingi Mbah Mardijiyono untuk mengurus kebutuhan dan perlengkapan menuju ibadah haji 2026. Termasuk saat melaksanakan latihan manasik haji. Bahkan, Dewi turut menggendong Mardijiyono untuk latihan manasik haji di DIY. Keluarga pun berharap, sang kakek dapat melaksanakan ibadah Haji dengan lancar dan selamat. Mardijiyono diketahui memiliki delapan anak dan Dewi menjadi salah satu cucu paling besar di keluarga tersebut.
Mbah Dalimin dari Klaten Usia 94 Tahun
Cerita haru juga datang dari warga Desa Kupang, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Dalimin Bujo Martoyo akan berangkat ke Tanah Suci sebagai calon jemaah haji (CJH) tertua di Klaten. Saat ini, Dalimin hampir satu abad, yakni 94 tahun. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kakanhaj) menyampaikan, Dalimin menjadi jemaah tertua di daerah tersebut.
Dalimin mendaftar Haji dimulai pada tahun 2018. Keputusan tersebut, tidak lepas dari dorongan keluarga, terutama anak-anaknya yang lebih dulu menunaikan ibadah Haji. “Daftar haji itu 2018, itu adik saya di Kulonprogo pulang haji terus bapak didaftarkan. Itu sebelum Covid,” cerita Anak Dalimin, Widodo, kepada TribunSolo.com, Kamis (16/4/2026). Pihak keluarga pun memberikan semangat agar Dalimin dapat menyusul ke Tanah Suci. Dalimin diketahui pernah bekerja sebagai tenaga tata usaha (TU) di sekolah teknik (ST) di Sukoharjo pada tahun 1980-an. Setelah pensiun, Dalimin bertani. Di usia senjanya, kini Dalimin memiliki kesempatan menunaikan rukun Islam kelima. Ia tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 61. Dalimin mulai memasuki asrama haji pada 11 Mei 2026 dan berangkat ke Tanah Suci pada 12 Mei 2026.

Harsono dari Karanganyar Usia 90 Tahun
Jemaah Haji tertua lainnya, yakni Harsono, warga RT 1/RW 6, Dusun Tunggul Rejo, Desa Salam, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Ia menjadi calon haji (calhaj) tertua di Kabupaten Karanganyar, berusia 90 tahun. Di Kabupaten Karanganyar, ada 588 calhaj yang akan berangkat ibadah haji tahun 2026. Harsono dan rombongan bakal berangkat menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Mariyem (66), pada tahun ini.
Dalam keterangannya, Harsono ingin melaksanakan ibadah haji sejak tahun 2013. “Awal mula saya ingin berangkat haji tahun 2013 dan alhamdulillah saya dan istri saya berangkat tahun ini,” kata Harsono, Jumat (17/4/2026). Masih mengutip TribunSolo.com, Harsono menceritakan, ia memutuskan menunaikan ibadah Haji setelah menuntaskan tugasnya sebagai orang tua, yaitu membimbing anak-anaknya hingga jenjang pernikahan. Harsono dan istri pun mendaftarkan diri menjadi peserta haji pada tahun 2020. “Saya putuskan untuk bisa berangkat ke Mekkah dan Madinah serta menunaikan ibadah haji setelah anak saya yang paling kecil menikah,” ungkap Harsono.
Sisihkan Uang dari Jual Lembu Harsono melalui perjuangan yang tak mudah untuk bisa menunaikan ibadah Haji. Ia menyisihkan uang dari hasil jualan lembu. Setiap tahunnya, Harsono memelihara dua ekor lembu dan saat Idul Adha, lembu tersebut dijual. Hasil penjualan tersebut, dibelikan lembu lagi dan sebagian kecil ia sisihkan untuk ditabung. “Saya memelihara dua lembu, kemudian saya jual saat kurban setiap tahun. Keuntungan dari penjualan lembu itu saya tabung dengan menitipkan uangnya ke anak saya,” ungkapnya. Lantas, pada tahun 2020, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri dan istrinya sebagai calon peserta haji. Beberapa tahun berikutnya, tepatnya pada 2025, Harsono dipanggil untuk menjadi peserta haji asal Indonesia tahun 2026.
Miatin dari Sukoharjo, Usia 88 Tahun
Miatin Maniyo berasal dari Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo juga akan berangkat Haji tahun ini. Miatin akan menunaikan Haji di usia yang tak lagi muda, yakni 88 tahun lebih 11 bulan. Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Sukoharjo, Abdul Rochman, mengatakan jemaah lanjut usia atau lansia memerlukan perhatian ekstra. Terutama terkait kondisi fisik yang lebih rentan terhadap kelelahan maupun penyakit selama menjalankan rangkaian ibadah Haji yang cukup padat. Oleh karena itu, jemaah usia lanjut akan menjadi prioritas dalam pemantauan kesehatan. “Mulai dari keberangkatan hingga kepulangan, kondisi mereka akan terus diawasi agar tetap stabil selama menjalankan ibadah di Tanah Suci,” ucapnya, Sabtu (18/4/2026).
Nikmah dari Batang 86 Tahun
Nikmah yang berusia 86 tahun menjadi jemaah tertua tahun 2026 yang berasal dari Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Pemerintah Kabupaten Batang pun memberikan perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia, termasuk Nikmah. Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menjelaskan bahwa jumlah jemaah haji asal Kabupaten Batang tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, tercatat sekitar 720 jemaah dari Batang, maka pada 2026 jumlahnya mencapai lebih dari 900’an orang.
Secara resmi, M. Faiz Kurniawan, melepas 951 jemaah haji Kabupaten Batang tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi di Pendopo Kabupaten Batang, Jumat (17/4/2026). Para jemaah terbagi dalam empat kelompok terbang (kloter), yakni Kloter 15: gabungan dengan Kota Pekalongan, Kloter 16 dan 17 merupakan jemaah penuh dari Kabupaten Batang, serta Kloter 18 yang bergabung dengan Kabupaten Kendal. Dikutip dari berita batangkab.go.id, Faiz turut mendoakan seluruh jemaah agar diberikan kesehatan dan kelancaran selama menjalankan ibadah Haji sampai kembali ke Tanah Air.





