Presiden Prabowo Subianto Hadiri Panen Jagung Raya di Tuban

Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalam acara Panen Jagung Raya yang diselenggarakan oleh Polri di Dusun Kedung Sari, Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada hari Sabtu (16/5). Acara ini tidak hanya menjadi momen penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Presiden untuk menyampaikan pidato yang penuh makna.
Pujian Terhadap Kapolri

Dalam pidatonya, Presiden mengucapkan pujian terhadap Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ia menilai bahwa program-program yang dilakukan oleh Kapolri selalu berhasil terlaksana dengan baik. “Ini saya lihat Pak Listyo ini berhasil. Aku mau ngomong apa? MBG aku lihat hebat, paling bersih, tertib. Ini bukan saya sok muji-muji loh, aku pelit juga tuh kalau kasih penghargaan, tapi saya ingin objektif,” ujarnya.
Selain itu, Presiden menyebutkan bahwa selalu ada inovasi yang dilakukan oleh Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit. “Dan selalu ada bukti inovasi-inovasi. Ya bagaimana, saya gembira, bukan saya pura-pura,” jelasnya.
Janji Penghargaan Bintang Mahaputera

Presiden juga menyatakan keinginannya untuk memberikan penghargaan Bintang Mahaputera kepada Kapolri. Penghargaan ini adalah salah satu penghargaan tertinggi di Indonesia setelah Bintang Republik Indonesia. “Saya lihat Polri ini berprestasi, berprestasi. Kapolri belum pernah menerima Bintang Mahaputera, belum. Ya nanti Presiden Prabowo yang kasih. Panglima TNI belum terima juga, kau. Presiden Prabowo memberi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemberian penghargaan ini dilakukan secara objektif. “Ni saya lihat Pak Listyo ini berhasil ya. Bagaimana aku mau ngomong apa? Iya kan? MBG aku lihat hebat, paling bersih, tertib. Ini bukan saya sok muji-muji loh. Aku pelit juga tuh kalau kasih penghargaan. Tapi saya ingin objektif,” tambahnya.
Apresiasi terhadap Kinerja Polri

Presiden juga mengapresiasi kinerja institusi Polri dalam menjalankan perannya di bidang swasembada pangan. Menurutnya, peranan Polri yang baik dilandasi sosok leadership dari pimpinannya. “Peran Polri luar biasa. Saya kira karena leadership kepemimpinan. Kalau bagus ya kita akui bagus. Kalau organisasi baik, pemimpinnya baik, maka kontrak diperpanjang. Kalau tidak beres copot,” katanya.
Ia juga menyinggung posisi Polri yang kerap mendapat kritikan dari masyarakat. Namun, mereka tetap bergerak menyukseskan inovasi bagi swasembada pangan. “Kalian sering dicaci maki sedikit-sedikit. ‘Polri begini, Polri begitu.’ Benar enggak? Minta reformasi. Iya kan, tapi sekarang kalian buktikan,” ucapnya.
Perbandingan dengan Klub Sepak Bola

Usai memuji Jenderal Sigit dan Polri, Presiden kemudian mengumpamakan organisasi seperti klub sepak bola. Menurutnya, tim yang baik berasal dari manajer dan pelatih yang baik. “Kalau bagus ya kita harus akui bagus. Kalau baik kita akui baik. Dan dalam organisasi, kalau organisasinya baik berarti pemimpinnya baik. Iya kan? Kalau tim kesebelasan sepak bola menang, ya manajernya baik, pelatihnya baik, kapten kesebelasannya baik. Benar enggak?” kata Presiden.
Menurutnya, tim hingga manajer tim tersebut layak diapresiasi dengan memperpanjang kontrak. Sebaliknya, jika timnya buruk akan mendapat sanksi. “Kontrak diperpanjang. Benar kan? Kalau enggak beres, copot. Sederhana. Benar enggak? Ini namanya hidup, Saudara-saudara. Jadi jangan kau ingin jadi kapten kesebelasan sepak bola, kalah kalah kalah ingin diperpanjang terus. Ya enggak,” ujar Presiden.
Dampak Positif Program MBG dan Kopdes Merah Putih

Presiden merespons banyaknya kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau Kopdes. Ia mengatakan dampak positif kedua program itu baru akan terasa di masa mendatang. “Saudara akan lihat apa yang kita buat tahun 2025, tahun 2026 ini. Jangan sekarang, jangan 2029, nanti 20 tahun lagi saudara nilai apa yang kita buat hari ini. Yang kita buat adalah hal-hal yang mendasar. Kita bikin MBG, mendasar,” kata Presiden.
Ia menjelaskan peredaran uang di desa berkat program MBG dan Kopdes. “Artinya adalah bahwa tiap hari di desa beredar uang. 3.000 kali Rp15.000, Rp45 juta kali 3.000. Saya ulangi, Rp15.000 kali 3.000. Ada yang lebih, ada yang sedikit berkurang, dan sebagainya. 3.000 kali Rp15.000, Rp45 juta tiap hari. Tiap hari. Dan di situ ada lima hari seminggu kali empat, 20. Dua puluh hari kali Rp45 juta berarti Rp900 juta tiap bulan. Kali 12 berarti Rp10,8 miliar beredar di desa itu.”
Pernyataan Kapolri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membeberkan capaian panen raya jagung yang mencapai berton-ton. Ini adalah upaya Polri ikut serta di bidang panen raya, sebagai bagian mewujudkan ketahanan swasembada pangan. “Pada tahun 2025 kami merealisasikan penanaman jagung 661,112 ribu hektare dengan hasil panen 3,9 juta ton untuk meningkatkan produksi jagung 1,8 juta ton,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya pada 2026 memiliki potensi lahan seluas 1,37 juta hektare di seluruh Indonesia. Selanjutnya, pada 8 Januari 2026 pihaknya telah melakukan panen kuartal pertama pada lahan 91 ribu hektare dengan hasil panen 884.129 ton. “Hari ini kami akan panen raya jagung kuartal kedua dengan lahan 189.760 hektare dengan potensi hasil panen 1,23 juta ton,” terangnya.





