Amalan Penting Sebelum Melaksanakan Salat Idul Adha
Salat Idul Adha merupakan salah satu ibadah penting dalam agama Islam yang dilaksanakan oleh seluruh umat Muslim. Tidak hanya sekadar melaksanakan salat, namun ada sejumlah amalan sunnah yang perlu diperhatikan agar ibadah tersebut lebih sempurna dan penuh makna.
1. Mandi Sebelum Melaksanakan Shalat Idul Adha
Mandi adalah bagian dari membersihkan diri dari segala hadas. Hadas merujuk pada keadaan tidak suci secara syariat yang menyebabkan seseorang tidak boleh melakukan ibadah tertentu seperti salat atau menyentuh mushaf Al-Qur’an.
Muslim disunnahkan untuk mandi sebelum melaksanakan shalat Idul Adha. Selain membersihkan hadas, mandi juga menjadi bentuk persiapan diri dalam keadaan suci dan segar. Para ulama menjelaskan bahwa Rasulullah SAW juga mandi sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
2. Memakai Pakaian Terbaik dan Wewangian untuk Shalat Idul Adha
Umat Islam dianjurkan memakai pakaian terbaik, baik itu pakaian baru maupun yang sudah dimiliki. Pakaian harus bersih, rapi, dan pantas digunakan untuk beribadah. Selain itu, penggunaan wewangian juga disunnahkan sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan atas datangnya hari raya.
Dalam sebuah hadis, Ali bin Abi Thalib RA berkata bahwa Rasulullah SAW memerintahkan umatnya memakai pakaian dan wewangian terbaik pada dua hari raya.
3. Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha
Berbeda dengan Idul Fitri yang dianjurkan makan terlebih dahulu sebelum shalat Id, pada Hari Raya Idul Adha umat Islam disunnahkan menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat Idul Adha.
Rasulullah SAW biasa tidak makan sebelum berangkat shalat Idul Adha dan baru makan setelah pulang dari shalat. Hal ini bertujuan agar umat Islam dapat menikmati makanan dari daging kurban setelah ibadah selesai dilaksanakan.
4. Berjalan Kaki ke Tempat Shalat Idul Adha
Rasulullah SAW mencontohkan berjalan kaki ketika berangkat menuju tempat shalat Idul Adha. Sunnah ini memiliki banyak hikmah, di antaranya mempererat silaturahmi karena dapat bertemu sesama Muslim di perjalanan.
Selain itu, berjalan kaki juga menjadi kesempatan untuk memperbanyak takbir dan dzikir sepanjang perjalanan menuju tempat shalat Id.
5. Mengumandangkan Takbir
Mengumandangkan takbir merupakan salah satu syiar terbesar pada Hari Raya Idul Adha. Takbir Idul Adha dimulai sejak fajar tanggal 9 Dzulhijjah atau Hari Arafah hingga akhir hari tasyrik pada tanggal 13 Dzulhijjah.
Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT. Suara takbir yang berkumandang di masjid, rumah, maupun jalan-jalan menciptakan suasana penuh kebesaran dan kebahagiaan dalam menyambut hari raya.
6. Pergi dan Pulang Shalat Idul Adha Mengambil Jalan Berbeda
Rasulullah SAW mencontohkan mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari shalat Id. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa Nabi SAW melalui jalan berbeda saat pergi dan pulang shalat Id.
Para ulama menjelaskan sunnah ini memiliki banyak hikmah, seperti memperluas syiar Islam, memperbanyak silaturahmi, serta agar lebih banyak tempat menjadi saksi amal ibadah seorang Muslim pada hari kiamat.
Pelaksanaan Salat Idul Adha
Salat Idul Adha dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah dari terbit sampai tergelincirnya matahari. Hukum melaksanakan salat Idul Adha yakni sunah muakkadah.
Tata cara pelaksanaan salat Idul Adha meliputi niat, takbiratul ihram, doa iftitah, membaca al-Fatihah, membaca surat Alquran, dan salam. Khutbah Idul Adha juga menjadi bagian penting dalam salat ini.
Khutbah pertama membaca takbir sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua membaca takbir tujuh kali. Apabila salat Idul Adha dikerjakan berjamaah di rumah dan ada yang memiliki kemampuan menyampaikan khutbah, maka sebaiknya disertai dengan khutbah.
Adapun khutbah salat Idul Adha berisi penerangan tentang ibadah haji dan hukum kurban.



