Wedangan Sakéca: Ruang Santai dengan Nuansa Tradisional di Tengah Kota Surakarta
Di tengah maraknya coffee shop dan tempat nongkrong yang bertebaran di kota Surakarta, Jawa Tengah, Wedangan Sakéca hadir sebagai alternatif yang unik. Berada di kawasan perkampungan, tepatnya di Jalan Brigjend Katamso No 103, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Wedangan Sakéca menawarkan suasana wedangan yang lekat dengan nuansa tradisional, sekaligus menjadi ruang berkumpul yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.
Bangunan ini memiliki nuansa tradisional yang kuat. Sebuah bangunan joglo menjadi bagian utama dari Wedangan Sakéca, dilengkapi dengan ornamen-ornamen kayu serta meja dan kursi berbahan kayu yang menciptakan kesan sederhana namun hangat bagi pengunjung.
Wedangan Sakéca berdiri sejak tahun 2025 dengan tujuan untuk memperkenalkan kembali minuman berbahan rempah-rempah kepada berbagai kalangan, terutama anak muda. Di tengah tren nongkrong di coffee shop yang semakin populer, minuman rempah dan sajian rumahan dinilai mulai jarang dikenal oleh generasi muda. Hal inilah yang melatarbelakangi kehadiran Wedangan Sakéca sebagai ruang untuk mengenalkan kembali cita rasa minuman rempah dan masakan rumahan kepada masyarakat.
Nama “Sakéca” diambil dari ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggambarkan kenyamanan dan rasa santai. Nama tersebut menjadi gambaran suasana yang ingin dihadirkan oleh Wedangan Sakéca, yakni tempat bersantai dan menikmati hidangan yang disajikan.
Menu Khas dan Konsep Penyajian Unik
Wedangan Sakéca menyediakan berbagai makanan khas wedangan yang bisa menemani pengunjung saat bersantai. Salah satu menu khas adalah nasi jangan ndeso yang disajikan menggunakan gerabah agar tetap hangat. Penyajian menggunakan gerabah bukan tanpa alasan. Konsep tersebut terinspirasi dari kebiasaan masyarakat desa zaman dulu yang menyantap nasi dengan sayur sederhana. Dari kebiasaan itu, Wedangan Sakéca kemudian menyajikan jangan ndeso menggunakan gerabah.
“Zaman dulu kalau di desa makan nasi dikasih jangan, itu kayak ada intipnya. Kita idenya dari situ. Nanti gerabahnya dibakar, jadi nasinya sedikit lengket di gerabah. Jadi seperti intip. Kemudian dikasih jangan ndeso dan tetap hangat,” ujar pengelola Wedangan Sakéca.
Selain nasi jangan ndeso, bakmi Jawa dan nasi goreng juga menjadi menu andalan yang banyak ditawarkan kepada pengunjung. Ketiganya menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati sajian bercita rasa rumahan.
Wedangan Rempah dan Penyajian yang Unik
Selain makanan, Wedangan Sakéca juga menawarkan aneka wedangan berbahan rempah-rempah. Menu minuman andalan dari Wedangan Sakéca ini adalah Wedangan Sakéca dan wedangan seger waras. Racikan rempah tersebut menghadirkan cita rasa yang mengingatkan pada minuman tradisional di rumah, sekaligus menjadi bagian dari upaya Wedangan Sakéca memperkenalkan kembali minuman rempah kepada pengunjung.
Tak hanya racikannya, penyajian wedangan disajikan dengan cara yang unik, yaitu minuman disajikan menggunakan teko dan gelas blirik dan lengkap dengan pilihan gula merah dan gula batu yang ditambahkan sendiri oleh pengunjung sesuai dengan tingkat kemanisan yang diinginkan.
Target Pasar yang Luas
Awalnya, Wedangan Sakéca menyasar anak muda sebagai target utama, Tujuannya agar generasi muda lebih mengenal minuman berbahan rempah-rempah yang mulai jarang menjadi pilihan ketika berkumpul. Namun, seiring berjalannya waktu, Wedangan Sakéca justru mulai dikenal oleh berbagai kalangan. Tidak hanya anak muda, pengunjung dari kalangan orang tua hingga keluarga turut datang menikmati sajian yang ditawarkan.
“Ternyata sekarang semua kalangan oke dengan wedangan, jadi kita ya welcome saya untuk semua kalangan,” tegas pengelola Wedangan Sakéca.
Pengalaman Pengunjung
Bagi pengunjung, daya tarik Wedangan Sakéca tidak hanya pada menu yang disajikan tetapi juga dari konsep dan interiornya. Seperti pengunjung Hanu Padantya (25) yang mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Wedangan Sakéca. Awalnya ia tertarik karena interiornya yang menarik. Menurutnya salah satu yang membuat Wedangan Sakéca berbeda dengan tempat nongkrong lain adalah harganya yang terjangkau.
“Biasanya ada wedangan yang konsepnya sejenis ini, tapi harganya cenderung mahal, dan disini penyajiannya unik-unik,” ujar Hanu.
Meski sebelumnya pernah menemukan makanan dan minuman serupa di tempat lain, ia menilai minuman di Wedangan Sakéca memiliki racikan yang cukup lengkap karena dipadukan dengan berbagai rempah. Hal tersebut menjadi salah satu alasan membuatnya kembali.
Tak hanya soal sajian, suasana Wedangan Sakéca yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota juga menjadi alasan lain. Lokasinya yang masuk melalui gang, justru membuat tempat tersebut terasa lebih tenang untuk berbincang dan menghabiskan waktu.
“Karena tempatnya yang tersembunyi. Akses jalannya masuk ke gang. Setelah sampai ternyata tempatnya sangat bagus, jauh melebihi ekspektasi,” pungkas Hanu.





