Kehidupan Aiptu Pudiyanto, Polisi yang Menjadi Dukun Ular
Aiptu Pudiyanto, seorang polisi di Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Jakenan, Pati, Jawa Tengah, memiliki kisah hidup yang unik dan luar biasa. Selain menjalankan tugasnya sebagai anggota kepolisian, ia juga dikenal sebagai seorang “dukun ular” yang mampu menyembuhkan korban gigitan ular tanpa pamrih.
Pada tahun 1996, suasana di Polsek Jakenan mendadak mencekam. Ratusan warga datang menggeruduk kantor polisi karena kabar simpang siur bahwa seseorang dari Desa Mantingan Tengah dibawa ke sana. Saat itu, situasi sosial-politik sedang sensitif, dan masyarakat cenderung bereaksi keras terhadap hal-hal yang tidak jelas.
Namun, ketegangan itu segera berubah menjadi tawa keheranan. Warga mengetahui bahwa pria tersebut bukanlah pelaku kejahatan atau korban represi aparat, melainkan korban gigitan ular saat kerja bakti membersihkan saluran air. Rekan korban membawanya ke kantor polisi karena tahu ada seorang polisi muda yang memiliki kemampuan menyembuhkan korban bisa ular.
Aiptu Pudiyanto menjelaskan bahwa saat itu, istri korban panik dan melapor ke kepala desa. Sang kades bingung mengapa warganya yang digigit ular justru dilarikan ke kantor polisi. Hal itulah yang memicu gelombang massa datang menggeruduk Mapolsek. Setelah penjelasan dari Cipud, warga pun pulang dengan perasaan lega sekaligus takjub.
Bagi Cipud, 1996 merupakan tahun pertamanya berdinas di Polsek Jakenan, dan warga Desa Mantingan Tengah tersebut menjadi pasien pertama dalam lembaran kariernya sebagai polisi. Keterampilan pengobatan tradisional ini adalah warisan turun-temurun dari ayahnya, Sukarno, yang ia pelajari sejak masih remaja.
Sejak peristiwa penggerudukan itu, nama Aiptu Pudiyanto kian tersohor di seantero Pati, khususnya di wilayah Kecamatan Jakenan dan Juwana, sebagai tabib spesialis bisa ular yang sangat ampuh. Keampuhan metode tradisional Cipud bahkan melompati batas-batas medis modern, di mana tidak jarang fasilitas kesehatan formal justru “merujuk” pasien ke Polsek Jakenan.
Pengalaman unik seperti ini dialami oleh Sutopo (68), warga Desa Dukuhmulyo, Kecamatan Jakenan. Saat musim penghujan tahun lalu, taring ular hijau ekor merah mendadak menancap di pangkal jari tengah kanan Sutopo saat ia sedang membabat rumput liar di halaman belakang rumah. Dalam kondisi tubuh digerogoti rasa sakit tak tertahankan, keluarga langsung melarikan Sutopo ke Puskesmas setempat. Namun, pihak Puskesmas justru memberikan saran tidak biasa, yakni menyuruhnya segera menemui Cipud di kantor polisi.
Kebetulan saat itu Aiptu Pudiyanto sedang berjaga, sehingga tindakan penyelamatan darurat bisa langsung dilakukan. Sutopo menceritakan bahwa saat itu tangannya langsung dibelek atau disayat sedikit, kemudian racunnya disedot langsung oleh Cipud menggunakan mulut. Tidak ada obat-obatan kimia yang diberikan, melainkan hanya menggunakan media air kembang. Setengah jam berselang, sebuah keajaiban kecil terjadi. Rasa sakit yang tadinya meremukkan seluruh tubuh Sutopo berangsur-angsur sirna dan ia sembuh total dalam waktu relatif singkat.
Jika dibedah, ramuan pengobatan tradisional milik pria yang telah tiga dekade berdinas di Polsek Jakenan ini sebenarnya tergolong sangat bersahaja. Cipud memaparkan bahwa sarana yang ia butuhkan hanyalah air hangat, sebilah silet kecil, dan kembang telon yang terdiri atas bunga kenanga, gading, serta melati sebagai syarat wewangian. Prosesnya dimulai dengan membersihkan luka menggunakan air hangat, disusul tindakan menyayat kecil bekas gigitan. Tanpa ada rasa ragu atau jijik sedikit pun, Cipud akan menempelkan mulutnya ke luka tersebut untuk mengisap keluar racun mematikan dari aliran darah pasien, lalu membuangnya, meski tidak jarang darah yang diisapnya sudah bercampur dengan nanah. Langkah terakhir adalah merendam kembang telon ke dalam air bersih, merapalkan doa kebaikan, lalu meminta pasien meminumnya sebagai penawar.
Aiptu Pudiyanto bersyukur lantaran selama ini seluruh pasien yang datang kepadanya berhasil disembuhkan, termasuk mereka yang kondisinya cukup kritis akibat gigitan ular kobra. Menurutnya ini adalah karunia luar biasa dari Tuhan Yang Mahakuasa. Kendati demikian, khusus untuk korban ular kobra, Cipud tetap menerapkan batas rasionalitas medis. Ia akan memberikan pertolongan pertama dalam waktu satu jam untuk menyelamatkan nyawa pasien dari penyebaran bisa, namun tetap menyarankan mereka ke rumah sakit untuk merawat bekas luka guna mengantisipasi terjadinya pembusukan jaringan kulit.
Manfaat dari ketulusan tangan Cipud kini telah berdampak luas, tidak hanya bagi warga lokal Pati, melainkan merambah ke luar daerah, bahkan menembus batas negara. Ia mengisahkan pernah ada seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang menghubunginya karena sang majikan di luar negeri dipatuk ular. Berbekal niat tulus menolong, Cipud mencoba memandu proses pengobatan tersebut secara jarak jauh melalui panggilan video. Pasien di luar negeri itu pun bisa sembuh.
Satu hal yang membuat sosok polisi ini begitu dicintai adalah prinsip hidupnya yang teguh memegang amanah sang ayah untuk tidak pernah memasang tarif atau mengomersialkan kemampuannya. Niatnya harus murni menolong secara ikhlas, bahkan tidak jarang jika ada pasien kurang mampu yang datang, Cipud justru merogoh kocek pribadi demi memberi mereka ongkos pulang.
Di balik dedikasinya, mayoritas orang yang diselamatkan oleh Cipud adalah para petani yang kerap kali bertaruh nyawa melawan risiko gigitan ular saat menggarap sawah, terutama ketika musim penghujan tiba. Bagi masyarakat agraris, datangnya hujan adalah berkah sekaligus alarm waspada, karena saat air menggenangi liang-liang tanah, ular-ular akan terusik, keluar dari sarangnya, dan menyerang manusia sebagai bentuk pertahanan diri.
Agar rantai kebaikan ini tidak terputus, Aiptu Pudiyanto yang dahulu menerima ilmu ini pada usia 17 tahun, sesuai syarat tradisi turun-temurun keluarga, kini telah mengestafetkan keahlian tersebut kepada anak ketiganya yang baru saja menginjak usia 17 tahun pada tahun lalu. Kepada sang anak, Cipud menekankan amanah sakral keluarga untuk tetap menolong tanpa pamrih, tulus ikhlas, dan percaya penuh bahwa urusan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT.
Selagi hayat masih dikandung badan, polisi teladan ini berkomitmen selalu siap sedia membantu siapa saja yang membutuhkan jasanya, baik saat ia sedang mengenakan seragam dinas di Polsek Jakenan maupun saat berada di rumah pribadinya di Juwana. Ketika ditanya mengenai motivasi di balik semua aksi heroik yang menguras energi dan waktu ini, Cipud sempat terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengutarakan sebuah harapan yang sederhana namun menyentuh hati.
“Mudah-mudahan bisa menebus dosa-dosa saya. Selain itu juga membawa kebaikan untuk saya, keluarga saya, dan institusi Polri,” pungkasnya.
