Penyakit Super Flu yang Sedang Merebak di Indonesia
Beberapa waktu terakhir, penyakit super flu sedang menjadi perhatian masyarakat di Indonesia. Penyakit ini menjangkiti puluhan orang dari berbagai daerah, dengan sebagian besar korban adalah anak-anak dan perempuan. Situasi ini memicu kekhawatiran karena baru beberapa tahun lalu, kita menghadapi pandemi COVID-19 yang menewaskan ribuan nyawa.
Banyak orang mulai bertanya-tanya apakah penyakit super flu bisa berkembang menjadi pandemik? Apakah penyakit ini lebih parah dibandingkan dengan virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19? Berikut penjelasannya:
Super Flu Bukanlah Penyakit Baru
Flu merupakan penyakit yang cukup umum terjadi. Karena seringnya muncul, kita cenderung menganggapnya sebagai penyakit biasa. Namun, apa itu super flu? Super flu disebabkan oleh virus subclade K, yang merupakan subkelompok baru dari virus flu musiman influenza A H3N2. Di Indonesia, super flu baru menyebar pada akhir tahun 2025 kemarin.
Sebenarnya, virus ini sudah terdeteksi sejak Juni 2025 di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat. Seperti flu biasa, super flu juga mudah menular melalui udara saat penderitanya batuk atau bersin. Selain itu, virus ini bisa menempel di permukaan benda. Jika seseorang menyentuh benda tersebut, virus akan masuk ke tubuh melalui hidung dan mulut.
Gejala Super Flu Lebih Parah Dibanding Flu Biasa

Gejala super flu umumnya mirip dengan flu biasa, seperti demam tinggi (lebih dari 38 derajat Celsius), nyeri otot, kelelahan, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan hidung tersumbat. Namun, gejala super flu muncul lebih cepat dan semakin parah dalam hitungan jam. Ketika gejalanya memburuk, pasien bisa mengalami sesak napas, nyeri dada, hingga dehidrasi.
Selain itu, super flu membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Hal ini disebabkan oleh mutasi virus subclade K yang berbeda dari varian H3N2 lainnya. Ditambah lagi, beberapa tahun terakhir manusia jarang terpapar virus ini, sehingga sistem kekebalan tubuh kurang mengenali dan meresponsnya. Akibatnya, pasien butuh waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk pulih sepenuhnya.
Benarkah Super Flu Lebih Parah dari COVID-19?

Pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu membuat banyak orang trauma. Mengingat jumlah korban yang begitu besar, tak heran jika orang menjadi waspada terhadap berita tentang penyebaran penyakit. Termasuk dengan merebaknya penyakit super flu awal tahun ini. Namun, benarkah super flu lebih parah dari COVID-19?
Kedua penyakit ini disebabkan oleh virus yang berbeda. COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, sedangkan super flu disebabkan oleh subclade K. Meskipun gejala keduanya mirip, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius seperti radang paru-paru, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), hingga gagal jantung yang berujung pada kematian.
Di sisi lain, meskipun gejala super flu terasa lebih berat, penyakit ini tetap termasuk penyakit musiman yang muncul saat cuaca dingin atau musim hujan. Kasus kematian memang ada, tetapi sangat jarang terjadi. Beberapa kasus super flu membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, namun kebanyakan kasus ringan bisa diobati di rumah.
Jika masih khawatir, kamu bisa berkunjung ke rumah sakit dan melakukan vaksinasi flu. Vaksin flu dapat memberikan perlindungan hingga 75 persen pada anak-anak dan 39 persen pada orang dewasa.




