Solusi TPA: Mengurangi Beban Tempat Pembuangan Akhir
Pengelolaan sampah anorganik, khususnya plastik, sering kali menjadi masalah besar di perkotaan. Sampah plastik yang tidak bisa terurai menjadi salah satu penyumbang utama sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Madiun. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun, kapasitas TPA Kota Madiun hampir penuh. Pemkot Madiun harus melakukan berbagai rekayasa dan perlakuan khusus agar TPA yang berada di Kecamatan Manguharjo tetap bisa menampung sampah warga.
Di tengah situasi darurat sampah, warga di Jalan Pesanggrahan, Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kota Madiun menciptakan inovasi dengan mengolah sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis. Dari kelompok Program Kampung Iklim (Proklim), sampah plastik disulap menjadi berbagai produk seperti nampan, tempat sampah, sapu, hingga mebel dan perabotan rumah tangga lainnya.
Dari Sampah Murah Jadi Produk Bernilai Jutaan
Ketua Workshop 3Re (Reduce, Reuse, Recycle) Labs Proklim Pesanggrahan, Kurnia Fidya Wati, menjelaskan bahwa program ini baru berjalan sekitar satu tahun, meski Bank Sampah Pesanggrahan telah berdiri sejak 2017. Awalnya, sampah plastik hanya dijual ke pengepul dengan harga rendah. Kondisi ini membuat kelompok Proklim berpikir untuk meningkatkan nilai tambah dari sampah yang ada.
“Kalau kita hanya menjual ke pengepul, nilainya memang tidak banyak. Satu kilogram hanya sekitar Rp 1.000 sampai Rp 1.500. Padahal volumenya besar. Dari situ kami berpikir bagaimana sampah ini bisa punya nilai lebih,” ujar Fifid.
Berbekal ide tersebut, mereka mulai berinovasi dengan cara melelehkan botol plastik secara manual, lalu mencetaknya menjadi berbagai produk fungsional. Seiring waktu, variasi produk pun semakin berkembang.
Inovasi Mendapatkan Perhatian
Inovasi tersebut mendapatkan perhatian dari sejumlah kalangan, salah satunya Pertamina Patra Niaga yang menyalurkan tanggung jawab sosial perusahaan berupa alat pencacah plastik dan oven peleleh plastik. Dengan bantuan alat tersebut, kapasitas pengolahan sampah plastik semakin besar. Dalam sehari, kelompok tersebut mampu mengolah lebih dari 10 kilogram sampah plastik, tergantung permintaan pasar.
Dari jumlah tersebut, berbagai produk berhasil dihasilkan, termasuk wadah sampah pilah yang menjadi salah satu produk terbaru. “Untuk satu wadah sampah saja bisa membutuhkan sekitar 2 kilogram plastik. Jadi dalam sehari kami bisa produksi lebih dari 10 kilogram, bahkan bisa maksimal kalau permintaan tinggi,” jelasnya.
Penjualan Sampah dengan Harga Lebih Tinggi
Inovasi tersebut juga menarik perhatian bank sampah dari wilayah lain. Sedikitnya 10 bank sampah dari berbagai kelurahan di Kota Madiun rutin menyetorkan sampah plastik ke Pesanggrahan. Sampah tersebut tidak disetorkan secara cuma-cuma. Bank Sampah Pesanggrahan membelinya dengan harga lebih tinggi dibanding pengepul, yakni antara Rp2.500 hingga Rp4.500 per kilogram, tergantung kondisi dan tingkat pemilahan.
“Kalau masih campur, kita beli sekitar Rp2.500 sampai Rp3.000 per kilogram. Kalau sudah dipilah, bisa Rp4.000 sampai Rp4.500,” imbuhnya.
Layanan Digital dan Kesadaran Masyarakat
Kelompok ini juga mengembangkan inovasi layanan berbasis digital melalui aplikasi bernama “Sok Rosok”. Aplikasi tersebut memungkinkan masyarakat untuk meminta penjemputan sampah secara langsung, layaknya layanan ojek online. Melalui pendekatan ini, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah perlahan mulai meningkat. Nasabah bank sampah pun terus bertambah, seiring edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Awalnya memang tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Tapi sekarang mulai terlihat perubahan. Warga sudah mulai memilah sampah dan menyetorkannya ke bank sampah,” jelas Fifid.
Permintaan Produk Terus Meningkat
Permintaan produk pun terus berdatangan, salah satunya pesanan tutup biopori yang dibuat dari limbah tutup botol plastik yang dilebur kembali. Bahkan Fifid sempat mendapatkan pesanan meubeler dari bahan daur ulang plastik dengan nilai Rp 1,5 juta.
“Alhamdulillah permintaan terus ada. Tapi kami masih terkendala di proses finishing karena sebagian besar masih dikerjakan manual, jadi belum bisa produksi massal,” katanya.
Pemasaran dan Pengembangan Pasar
Dari sisi pemasaran, produk daur ulang ini masih didominasi pasar lokal Madiun. Meski demikian, pihaknya mulai mengembangkan promosi melalui media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Harapan Masa Depan
Ke depan, pihaknya berharap inovasi sederhana ini bisa menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Harapannya, ini bisa menginspirasi. Bahwa dari tingkat RT atau RW pun bisa mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai tanpa harus menunggu skala besar,” terangnya.
Tanggapan dari Dinas Lingkungan Hidup
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Madiun, Ansar Rasidi, mengatakan Bank Sampah Pesanggrahan merupakan potret manajemen pengelolaan sampah tingkat kota yang paripurna. Gerakan yang dilakukan di Bank Sampah Pesanggrahan secara bertahap akan disebarkan secara merata ke seluruh kota.
“Di rumah kompos ini ada gabungan program P2L dari Dinas Pertanian dan juga pengelolaan sampah. Di sini, secara bersama-sama tiga RT membuang sampah organik dan anorganiknya di satu titik. Termasuk ada pemrosesan botol plastik hingga tutup botolnya yang bisa diolah menjadi mebel (furniture),” jelas Ansar.
Ansar menyebutkan produksi sampah Kota Madiun sekitar 130 ton per hari. Sementara itu, kapasitas TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Kota Madiun diperkirakan hanya mampu bertahan beberapa bulan ke depan karena sudah hampir penuh atau over capacity.
Jika sistem Bank Sampah ini berjalan maksimal di Kota Madiun, ia optimistis bisa menekan antara 60 persen sampai 70 persen volume sampah yang masuk ke TPA.
“Sampah organik saja komposisinya sudah 60 persen dari total 130 ton tersebut. Jika organik terserap habis di tingkat rumah tangga dan anorganik diproses di bank sampah, maka yang benar-benar lolos ke TPA hanya tersisa sedikit sekali,” pungkasnya.
