Seminar Ekumenisme di Yogyakarta: Memperkuat Persaudaraan Lintas Iman

Pada malam Kamis, 8 Januari 2026, Gereja Kristus Raja Baciro dipenuhi oleh berbagai latar belakang keagamaan. Di dalam ruangan itu, umat Katolik, jemaat Kristen dari berbagai denominasi, para pendeta, romo, hingga siswa-siswi SMA hadir dengan rasa ingin tahu dan semangat untuk berkumpul. Mereka tidak datang untuk merayakan perbedaan, melainkan untuk menempatkan perbedaan tersebut sejenak dan berdoa bersama. Di sana, istilah ekumenisme—yang sering dianggap abstrak—dibumikan melalui percakapan, kesaksian, dan rencana bersama.
Seminar Ekumenisme yang diselenggarakan pada hari itu menjadi langkah awal menuju Pekan Doa Sedunia 2026, yang akan digelar pada Rabu (21/1) mendatang. “Ekumenisme mendorong gereja-gereja untuk berjalan bersama tanpa mempersoalkan denominasi,” kata Pendeta Jozef M. Hehanussa, pendeta GPIB sekaligus dosen teologi di Universitas Kristen Duta Wacana. “Kita semua satu di dalam Kristus, meski cara beribadah dan tradisinya berbeda.”
Gerakan Panjang yang Berakar Seabad Lebih

Romo Martinus Joko Lelono, Romo Paroki Santo Mikael Pangkalan TNI AU Adi Sutjipto dan pengajar teologi, menjelaskan bahwa Pekan Doa Sedunia bukanlah agenda baru. “Ini adalah rangkaian panjang yang dilakukan di seluruh dunia sejak 1908,” ujarnya. Sejak awal abad ke-20, gereja-gereja Kristen dan Katolik di berbagai negara memperingati satu pekan khusus untuk mendoakan kesatuan umat Kristiani—sebuah respons atas sejarah panjang perpecahan internal gereja sejak abad-abad awal Kekristenan.
Di Yogyakarta, ibadah ekumenis ini telah rutin dilaksanakan sejak sekitar 2014 dan berpindah-pindah dari satu gereja ke gereja lain. Tahun ini, Gereja Kristus Raja Baciro menjadi tuan rumah utama.
Belajar Sebelum Berdoa
Seminar yang diikuti sekitar 130 peserta ini bukan sekadar formalitas pembuka. Menurut Bonifatius Aditya Kurniawan, koordinator penyelenggara, kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar. “Banyak umat yang sebenarnya belum sungguh-sungguh tahu apa itu Pekan Doa Sedunia dan apa makna ekumenisme,” katanya. “Seminar ini memastikan umat memahami tujuannya, sehingga ibadat puncak nanti dijalani dengan kesadaran.”
Peserta seminar berasal dari berbagai latar: lingkungan Paroki Baciro, komunitas orang muda, umat lintas gereja, hingga siswa SMA Kristen dan Katolik seperti SMA Stella Duce 1, Stella Duce 2, dan SMA Bopkri. Kehadiran generasi muda menjadi perhatian khusus panitia. “Kami ingin anak-anak muda menjadi kader persaudaraan,” ujar Romo Martinus. “Bukan hanya di lingkup gereja, tapi juga di masyarakat yang lebih luas.”
Ibadah Tanpa Batas Liturgi

Dalam ibadah ekumenis, perbedaan tata ibadah tidak dihapus, tetapi diramu. Liturgi yang digunakan bersifat umum—tanpa Ekaristi Katolik atau tata ibadah khas denominasi Protestan tertentu. Doa bersama, pembacaan sabda, homili, dan nyanyian menjadi pusat perayaan. “Lagu-lagunya lagu rohani populer yang bisa dinyanyikan semua,” kata Pendeta Jozef. “Bahkan ada lagu-lagu yang sebenarnya sama, hanya liriknya sedikit berbeda di Katolik dan Protestan.”
Pekan Doa Sedunia 2026 di Baciro akan menghadirkan paduan suara lintas komunitas: OMK Paroki Baciro, Paroki HKTY Pugeran, SMA Bopkri 2, hingga paduan suara anak GKJ Gondokusuman. Panitia menargetkan kehadiran hingga 1.000 umat pada ibadah puncak 21 Januari nanti.
Pertama Kali Masuk Gereja “Sebelah”

Bagi sebagian peserta muda, pengalaman ini terasa personal. “Jujur ini pertama kali aku ikut ibadah ekumenis,” kata Winih, siswi SMA Stella Duce 1 asal Bogor. “Aku baru tahu kalau Katolik dan Kristen bisa kolaborasi seperti ini.” Sergio, siswa SMA Stella Duce 2 asal Pekanbaru, merasakan hal serupa. “Kami belajar bahwa perbedaan itu tidak menutup kemungkinan bahwa kita satu saudara,” ujarnya. “Kita menyembah Tuhan yang sama, meski caranya berbeda.”
Romo Martinus menyebut momen-momen semacam itu sebagai inti ekumenisme. “Ada umat yang berkata, ‘Ini pertama kali saya menginjakkan kaki di gereja Katolik,’ atau sebaliknya,” katanya. “Yang diperpendek bukan jarak fisik, tapi jarak hati.”
Lebih dari Sekadar Doa

Baik Romo Martinus maupun Pendeta Jozef sepakat bahwa ekumenisme tidak berhenti di altar. Spiritnya justru diuji di ruang publik—ketika gereja-gereja bersama-sama merespons isu lingkungan, ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan persoalan kemanusiaan lain. “Oikumene bukan hanya soal berdoa dan bernyanyi,” kata Pendeta Jozef. “Tapi bagaimana gereja-gereja bergerak bersama menghadapi masalah nyata di masyarakat.”
Di Yogyakarta, kota yang dikenal plural dan dinamis, Pekan Doa Sedunia menjadi pengingat bahwa persaudaraan lintas iman bisa dimulai dari langkah sederhana: duduk bersama, mendengarkan, dan berdoa dalam satu ruang yang sama. Dari sana, harapannya, kesatuan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjelma menjadi tindakan bersama.




