Peluang Emas dari Pelemahan Rupiah untuk Wisatawan Mancanegara
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) memberikan peluang emas bagi Jawa Barat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, mengungkapkan bahwa situasi ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata.
Hingga akhir Mei 2026, nilai tukar rupiah mencapai Rp17.823 per dollar AS. Angka ini terus melemah sejak akhir Februari 2026. Dengan kondisi ini, biaya akomodasi, transportasi, hingga kuliner di Jawa Barat menjadi lebih kompetitif dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
“Jawa Barat memiliki modal yang cukup kuat untuk menarik minat wisatawan mancanegara, mulai dari kekayaan alam, budaya, hingga kuliner khas daerah,” ujar Iendra kepada Infomalangraya.net.
Berdasarkan data Disparbud Jabar, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Kertajati pada tahun 2025 tercatat sebanyak 3.293 kunjungan. Wisatawan asal Singapura menjadi penyumbang terbesar dengan porsi sekitar 35 persen, disusul Malaysia sebesar 9 persen.
Iendra menyatakan bahwa jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan, terutama ketika pelemahan rupiah membuat biaya perjalanan di Indonesia menjadi lebih terjangkau. “Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya akomodasi, transportasi, hingga kuliner di Jawa Barat menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing. Ini menjadi peluang yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara,” katanya.
Momentum ini juga telah disoroti oleh pemerintah pusat. Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menyebut bahwa wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia memiliki daya beli yang lebih besar ketika berlibur ke Indonesia saat rupiah melemah. Kondisi ini membuat berbagai produk dan layanan di Indonesia, termasuk sektor pariwisata, menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan negara asal wisatawan.
Potensi Wisata Jawa Barat yang Menarik Minat Wisman
Iendra menilai Jawa Barat dapat memanfaatkan situasi ini melalui penyusunan paket wisata dengan harga yang kompetitif. Tidak hanya destinasi wisata, tetapi juga pengalaman wisata secara keseluruhan, mulai dari penginapan, kuliner, hingga aktivitas budaya.
“Jawa Barat memiliki banyak destinasi yang bisa dikemas menjadi paket wisata menarik dengan biaya yang relatif terjangkau bagi wisatawan asing,” ujarnya.
Berdasarkan survei Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kuliner menjadi alasan utama wisatawan asing berkunjung ke Indonesia. Setelah itu disusul seni dan budaya khas daerah, sementara wisata alam berada di urutan berikutnya. Tren tersebut dinilai sejalan dengan potensi yang dimiliki Jawa Barat.
“Selain memiliki destinasi alam seperti Kawah Putih, Gunung Papandayan, dan Geopark Ciletuh, Jawa Barat juga dikenal dengan budaya Sunda yang masih terjaga serta ragam kuliner tradisional,” kata Iendra.
Wisatawan asing tidak hanya mencari pemandangan alam, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik. Iendra mencontohkan, rumah adat, pakaian tradisional, kesenian daerah, hingga berbagai upacara adat menjadi daya tarik yang banyak diminati.
“Kuliner, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal justru menjadi pengalaman yang banyak dicari wisatawan asing saat berkunjung ke suatu daerah,” ujarnya.
Sejumlah kawasan wisata pedesaan seperti Pangalengan dan Ciwidey juga dinilai memiliki potensi besar karena menawarkan kombinasi panorama alam dan aktivitas masyarakat yang masih khas.
Tantangan yang Perlu Diperkuat
Meski demikian, Iendra menilai masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diperkuat agar Jawa Barat semakin kompetitif di pasar internasional.
“Yang perlu diperkuat adalah promosi digital berbahasa asing, konektivitas penerbangan internasional, dan standar layanan ramah wisman di destinasi-destinasi unggulan tersebut,” tambahnya.
Menurut dia, ketiga aspek tersebut menjadi faktor penting untuk mengubah ketertarikan wisatawan menjadi kunjungan nyata.





