Galeri Rumah Batik Cikuya: Pelestarian Budaya dan Kembang Kreatif Ekonomi Lokal
Di Galeri Rumah Batik Cikuya, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Banten, deretan kain batik berwarna cerah dan busana siap pakai tersusun rapi. Pameran ini digelar pada Minggu (19/4/2026), menampilkan berbagai motif yang indah dan penuh makna. Di balik keindahan tersebut, terdapat upaya pelestarian budaya sekaligus geliat ekonomi kreatif lokal yang berkembang pesat.
Motif-motif batik yang dipajang sangat beragam. Ada corak floral lembut dengan warna pastel, hingga motif klasik dengan dominasi warna gelap seperti cokelat dan hitam. Selain itu, kain batik dengan warna-warna terang seperti merah dan oranye juga menghiasi dinding galeri, menciptakan kesan hidup dan dinamis.
Khusus untuk kain batik di galeri ini, terdapat motif khas Kabupaten Tangerang. Contohnya adalah gambar monyet di Makam Keramat Solear, siluet gubuk di Tebing Koja, serta monumen Tigaraksa yang sarat akan kearifan lokal. Di sudut lain, sejumlah pakaian batik digantung berjajar di rak, menunjukkan transformasi batik dari sekadar kain tradisional menjadi produk fashion modern.
Desainnya pun mengikuti tren, dengan potongan yang simpel namun tetap mempertahankan identitas budaya. Berbagai koleksi batik yang dipajang cukup memikat, mulai dari kain lembaran hingga busana siap pakai seperti dress, kemeja, dan outer dengan ragam motif memanjakan mata.
Meski dipenuhi kain batik yang kaya akan motif memukau, siapa sangka galeri ini lahir dari kondisi sulit yang sempat menghantam masyarakat sekitar. Pengurus Rumah Batik Cikuya, Siti Nurrofiqoh menjelaskan bahwa inisiatif ini bermula dari keprihatinan terhadap kondisi ekonomi warga pasca pandemi Covid-19.
“Waktu itu kami melihat ekonomi warga tumbang. Banyak yang di-PHK, pedagang juga mengalami penurunan drastis. Dari situ kami berpikir harus ada penggerak ekonomi kreatif berbasis potensi lokal,” katanya.
Potensi lokal yang dimaksud bukan tanpa alasan. Wilayah Cikuya dan sekitarnya memiliki kekayaan budaya dan alam, seperti Tebing Koja, wisata religi Makam Keramat Solear, hingga ikon Tugu Tigaraksa. Semua itu kemudian dituangkan dalam motif batik sebagai bentuk pelestarian sekaligus inovasi.
Berangkat dari gagasan tersebut, Rumah Batik Cikuya mulai merekrut ibu-ibu di lingkungan sekitar untuk dilatih membatik sejak akhir 2022. Prosesnya tidak instan. Pelatihan dilakukan secara bertahap setiap minggu hingga 2024, mulai dari teknik dasar hingga proses produksi yang detail.
“Mulai dari nyanting, perebusan, sampai bagaimana membuat pola agar bisa menjadi produk fashion yang presisi, itu semua butuh proses panjang,” jelas Siti.
Dalam perjalanannya, mereka juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga pelatihan dan pemerintah daerah. Dukungan tersebut memperkuat kepercayaan para peserta untuk terus bertahan meski belum langsung menghasilkan.
Seiring waktu, perubahan mulai terasa. Dari yang awalnya hanya enam orang, kini sudah berkembang menjadi 16 orang, termasuk keterlibatan anak-anak muda yang mulai tertarik pada dunia batik.
“Awalnya mereka menganggap batik itu kuno. Tapi setelah mencoba, mereka melihat ini punya nilai seni, bahkan bisa jadi masa depan,” kata Siti.
Siti mengatakan Rumah Batik Cikuya tak hanya menjadi ruang produksi, namun juga menjelma sebagai ruang tumbuh bersama. Para perajin tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan kepercayaan diri.
Dari sisi ekonomi, geliat usaha ini mulai menunjukkan hasil. Produk batik dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp600.000 hingga Rp750.000 per lembar, tergantung motif dan tingkat kerumitan. Sementara untuk produk sederhana seperti syal, para perajin bisa mendapatkan upah sekitar Rp30 ribu per item.
“Untuk kain yang lebih kompleks, upah pengerjaan bisa Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Karena yang dijual itu bukan hanya kain, tapi nilai seninya,” jelas Siti.
Meski omzet masih fluktuatif, rata-rata pemasukan Rumah Batik Cikuya kini mencapai sekitar Rp5 juta per bulan. Pasarnya pun mulai meluas, tidak hanya di wilayah Tangerang, tetapi juga hingga luar daerah seperti Jakarta. Bahkan, sejumlah sekolah dan instansi pemerintahan mulai menggunakan batik Cikuya sebagai identitas lokal.
Menyesuaikan perkembangan zaman, pemasaran juga telah merambah platform digital. Produk Rumah Batik Cikuya kini sudah dapat dibeli melalui marketplace, membuka akses pasar yang lebih luas bagi para perajin lokal.
Lebih dari sekadar bisnis, Siti menilai Rumah Batik Cikuya mengusung konsep social enterprise, yakni usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjawab persoalan sosial di masyarakat.
“Kepercayaan itu yang paling penting. Ketika masyarakat percaya, didukung berbagai pihak, dari situ ekonomi bisa tumbuh,” tandasnya.





