Perkembangan Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) pada Kuartal I – 2026
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mengalami penurunan laba bersih pada kuartal pertama tahun 2026. Hal ini diduga terkait dengan kebijakan ekspor satu pintu yang dijalankan oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan ini dikhawatirkan berdampak pada kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Axell Ebenhaezer, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, menyoroti pembentukan DSI sebagai perantara dalam proses ekspor komoditas utama seperti batubara. Meskipun pemerintah menyatakan bahwa DSI hanya akan mengelola dan mengawasi proses ekspor untuk memperketat tata kelola, masih ada kekhawatiran bahwa model ekspor “satu pintu” ini dapat menimbulkan risiko serius, seperti monopoli perdagangan, inefisiensi operasional, dan potensi korupsi.
“Kebijakan ini berpotensi mengurangi daya saing batubara Indonesia di pasar internasional dan menekan margin keuntungan pelaku sektor swasta,” ujar Axell dalam risetnya pada 22 Juni 2026.
Fase Regulasi Ekspor dan Risikonya
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso, menjelaskan bahwa dua fase regulasi ekspor memiliki risiko yang berbeda. Pada fase transisi (1 Juni – 31 Agustus 2026), transaksi masih dilakukan langsung dengan pembeli luar negeri; hanya dokumentasinya yang disalurkan melalui DSI. Fase ini sebagian besar bersifat administratif dan tidak memengaruhi keuangan perusahaan.
Namun, pada fase kedua (1 September 2026 dan seterusnya), DSI diharapkan mengambil alih seluruh kontrak transaksi, menjadi pihak lawan langsung yang membeli dari produsen domestik dan menjual ke luar negeri.
“Kami melihat pemberlakuan harga batubara acuan (HBA) akan menaikkan harga jual rata-rata (ASP) ITMG, tetapi DSI kemungkinan akan mendapatkan margin. Kedua, pengalihan pembayaran melalui BUMN baru dapat mengubah waktu penyelesaian,” jelas Ryan dalam risetnya pada 25 Mei 2026.
Dinamika Pasar Batubara
Ironisnya, pasar batubara yang diangkut melalui laut telah menguat setelah konflik AS-Iran, yang mengganggu pasokan LNG dan meningkatkan permintaan substitusi batubara. Selain itu, ledakan di tambang batubara Liushenyu berpotensi memicu inspeksi keselamatan yang lebih ketat di provinsi penghasil batubara terbesar di China, mendukung permintaan batubara yang diangkut melalui laut.
“Meskipun demikian, fokus pasar secara bertahap bergeser melampaui perkiraan pendapatan dan momentum harga batubara, dengan investor sekarang lebih memperhatikan detail implementasi gerbang ekspor baru tersebut,” ucap Ryan.
Prospek Kinerja ITMG
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mengatakan bahwa prospek kinerja ITMG pada kuartal III – 2026 berpotensi solid. Hal ini didukung oleh relaksasi RKAB mulai Juli yang membuka ruang peningkatan volume produksi, harga batubara ekspor yang masih kondusif di US$ 120 – US$ 130 per ton, dan keunggulan cash cost terendah di industri yang menjaga margin tetap kompetitif.
Abida menyebutkan tiga tantangan utama yang dihadapi ITMG, antara lain normalisasi harga batubara global seiring permintaan China yang masih volatile, kewajiban DMO 25% – 30% pada harga US$ 70 per ton yang membatasi realisasi harga jual rata-rata (ASP) gabungan, dan pelemahan rupiah yang menaikkan biaya operasional meski sebagian dikompensasi pendapatan ekspor berdenominasi dolar.
“Implementasi ekspor terpusat Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang berpotensi mengurangi fleksibilitas negosiasi ASP dan risiko normalisasi permintaan dari akselerasi transisi energi global,” ucap Abida kepada Infomalangraya.net, Senin (6/7/2026).
Prediksi Performa ITMG
Sebelumnya, NH Korindo Sekuritas telah memodelkan produksi batubara hasil tambang sendiri milik ITMG yang menghadapi kontraksi signifikan sebagai akibat pengetatan produksi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batubara. Namun, apa yang ditunjukkan pada kuartal pertama tahun 2026 adalah bahwa infrastruktur perdagangan dan pencampuran ITMG — yang dibangun selama bertahun-tahun melalui pembelian batubara pihak ketiga — dapat secara kredibel mengisi sebagian besar kekurangan produksi. Sehingga memungkinkan volume penjualan total yang dilaporkan bertahan jauh lebih baik daripada yang disarankan oleh pembacaan sederhana dari pemotongan RKAB.
“Mengingat hal ini, kami telah menaikkan perkiraan volume penjualan tahun 2026 kami menjadi 24,8 juta ton,” ucap Axell.
Prediksi Pendapatan dan Laba Bersih
Axell memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih ITMG tahun 2026 masing-masing Rp 33,3 triliun dan Rp 3,54 triliun. Adapun pada tahun 2025, ITMG mengantongi pendapatan Rp 31 triliun dan laba bersih Rp 3,14 triliun.
Axell merekomendasikan overweight saham ITMG dengan target harga Rp 25.250 per saham. Sementara Ryan dan Abida merekomendasikan buy saham ITMG dengan target harga masing-masing Rp 34.200 per saham dan Rp 27.300 per saham.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Adapun risiko yang perlu dicermati adalah risiko ketidakpastian alokasi RKAB, penurunan harga batubara akibat de-eskalasi Timur Tengah dan implementasi ekspor melalui DSI.





