Peran InJourney dalam Mendorong Pariwisata Indonesia yang Berdaya Saing Global

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, yang merupakan holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, turut serta dalam dialog pemerintah bersama pelaku industri pariwisata di Bali pada Jumat (13/2). Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi sektor pariwisata di Bali beserta solusi yang ditawarkan. Partisipasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global.
Dialog ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, serta perwakilan kementerian dan lembaga, seluruh Bupati dan Wali Kota dari Provinsi Bali. Hadir juga para pelaku usaha sektor pariwisata yang mewakili berbagai asosiasi seperti PHRI (pariwisata), ARKI (jasa perjalanan wisata), GAHAWISRI (usaha wisata tirta), ASPERAPI, INCCA, IVENDO (penyelenggara kegiatan MICE), INACA (jasa transportasi wisata), GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia), dan lainnya.
Tujuan utama dari dialog ini adalah untuk menyerap aspirasi langsung dari pelaku usaha, sehingga langkah-langkah yang diambil dapat lebih tepat sasaran dalam memperkuat pariwisata Indonesia yang semakin maju dan berdaya saing.
Tantangan Utama Sektor Aviasi dan Pariwisata
Maya Watono menjelaskan tiga tantangan utama yang dihadapi sektor aviasi dan pariwisata Indonesia, yang perlu ditangani secara terintegrasi. Tiga prioritas utama ini meliputi konektivitas, infrastruktur dan akomodasi, serta pembangunan destinasi dan promosi.
1. Konektivitas
Dari sisi konektivitas, tantangan utama masih terlihat pada keterbatasan armada penerbangan domestik, terbatasnya penerbangan langsung internasional ke berbagai bandara di Indonesia, serta belum optimalnya skema insentif dan kemitraan untuk menarik dan mempertahankan rute maskapai internasional.
InJourney mengusulkan beberapa langkah untuk menjawab tantangan ini, termasuk evaluasi regulasi terkait konektivitas yang dapat meningkatkan inbound traffic di destinasi pariwisata prioritas. Selain itu, diperlukan pemberian insentif pembukaan rute baru yang dikombinasikan dengan program joint promotion bersama maskapai inbound.
2. Infrastruktur dan Akomodasi
Peningkatan trafik di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (DPS) belum sepenuhnya diimbangi dengan akses menuju bandara yang memadai. Selain itu, konektivitas darat antar destinasi prioritas masih dibatasi oleh infrastruktur jalan yang belum optimal.
Untuk mengatasi hal ini, InJourney menekankan pentingnya penyelarasan pembangunan transportasi intermoda terintegrasi sebagai akses utama menuju bandara. Percepatan peningkatan infrastruktur di destinasi prioritas seperti jalan, utilitas, dan alternatif aksesibilitas darat seperti water taxi, dukungan jalan tol serta aksesibilitas untuk kawasan pariwisata juga menjadi fokus utama.
3. Pembangunan Destinasi dan Promosi
Penguatan branding dan pemasaran destinasi, khususnya anchor attraction, masih membutuhkan dukungan promosi yang lebih kuat untuk menciptakan daya tarik berkelanjutan dan meningkatkan length of stay. Selain itu, skema pendanaan dan insentif untuk menarik dan mempertahankan event internasional berskala global masih terbatas.
InJourney mengusulkan pemberian insentif bagi travel agent sebagai katalis promosi dan pengembangan kawasan. Selain itu, pemberian insentif finansial untuk aktivitas eksternal yang mempromosikan destinasi utama seperti produksi film, kolaborasi dengan travel agent global, serta promosi berbasis industri kreatif. InJourney juga mendorong pembentukan Quality Tourism Fund sebagai dukungan pendanaan bagi event internasional seperti MotoGP, konser, dan berbagai global event lainnya.
Kolaborasi untuk Menciptakan Pertumbuhan Pariwisata yang Berkelanjutan
Melalui pemetaan isu-isu ini, InJourney menegaskan kebutuhan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar penguatan konektivitas, aksesibilitas, dan promosi destinasi berjalan dalam satu orkestrasi kebijakan. Target akhirnya adalah menciptakan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi ekonomi lokal dan nasional.

Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus bermitra erat dengan pelaku wisata dari berbagai sektor. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing global pariwisata Indonesia dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ketangguhan ekonomi bagi bangsa.






