Kinerja dan Proyeksi EXCL di Tahun 2026
PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menghadapi tantangan dalam kinerja keuangan pada tahun 2025, namun perusahaan memiliki harapan besar untuk meningkatkan kinerjanya pada tahun 2026. Salah satu faktor utama yang diharapkan menjadi katalis pendorong adalah rencana ekspansi jaringan 5G.
Rencana Ekspansi Jaringan 5G
Gani, Equity Analyst OCBC Sekuritas, mencatat bahwa EXCL telah memperluas layanan 5G ke 33 kota dengan kecepatan internet hingga 500 Mbps. Jaringan saat ini beroperasi dalam kerangka kerja Non-Standalone (NSA) pada spektrum 2300 MHz. Hal ini membantu mengurangi risiko eksekusi sementara ekosistem teknologi masih berkembang.
Manajemen EXCL memperkirakan penetrasi perangkat 5G sekitar 20% di kota-kota peluncuran. Namun, peningkatan ini diharapkan terjadi melalui siklus penggantian normal. Dengan spektrum yang tersedia dan semakin banyaknya pilihan handset 5G yang terjangkau (mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 2 juta), EXCL dinilai memiliki posisi yang baik untuk mempercepat adopsi dan monetisasi layanan 5G.
Keunggulan Jaringan EXCL
Etta Rusdiana Putra, Analis Maybank Sekuritas, menyoroti keunggulan jaringan EXCL melalui paket Ultra 5G yang lebih cepat dan terjangkau dibanding layanan 4G atau fixed broadband (FBB). Keunggulan ini didukung oleh kapasitas spektrum, bandwidth backbone Axiata-Sinar Mas, serta efisiensi integrasi jaringan. Hal ini menjadikan EXCL kompetitif di pasar yang kini fokus pada kualitas jaringan.
“Transformasi jaringan 5G yang terus berjalan diharapkan mendukung pertumbuhan trafik data dan pendapatan ke depan,” ujar Etta saat dikonfirmasi Infomalangraya.net.
Proyeksi Pendapatan dan Belanja Modal
Aditya Prayoga, Analis Phintraco Sekuritas, menyampaikan bahwa manajemen EXCL memberikan panduan untuk tahun 2026 dengan pertumbuhan pendapatan yang diharapkan sejalan dengan industri. EBITDA diperkirakan tumbuh dua kali lipat dari pertumbuhan pendapatan, yang mencerminkan fokus pada ekspansi berkualitas tinggi dan leverage operasional pasca-integrasi.
Belanja modal yang disiapkan diproyeksikan mencapai sekitar Rp 15 triliun untuk mendukung penguatan jaringan dan peningkatan kualitas layanan. Selain itu, potensi sinergi merger diperkirakan sebesar US$ 250 – US$ 300 juta, terutama berasal dari konsolidasi jaringan dan efisiensi biaya sewa menara.
Namun, proses integrasi yang sedang berlangsung dapat terus membebani kinerja jangka pendek. Biaya terkait integrasi diperkirakan sekitar Rp 1 triliun untuk tahun 2026.
Proses Integrasi dan Peningkatan Kinerja
Gani menilai bahwa integrasi berjalan lebih cepat dari rencana. Hingga kuartal IV-2025, sekitar 70% situs telah dikonsolidasikan (sekitar 34.500 situs terintegrasi). Manajemen EXCL tetap mempertahankan target integrasi penuh pada semester I-2026.
Manfaat nyata sudah terlihat karena EXCL melaporkan kecepatan unduhan yang lebih cepat untuk semua pengguna, mungkin berasal dari basis pengguna Smartfren.
Perspektif Industri dan Risiko
Dari perspektif industri, Aditya melihat prospek tetap relatif positif meskipun ada tantangan seperti biaya integrasi yang diperkirakan akan berlanjut sepanjang 2026. Risiko utama termasuk biaya integrasi yang lebih rendah dari perkiraan, struktur industri yang lebih rasional, dan monetisasi pelanggan yang lebih kuat, terutama ARPU (Average Revenue Per User) yang melebihi proyeksi.
Gani mencatat bahwa ARPU meningkat dari Rp 38.900 pada kuartal III-2025 menjadi Rp 44.800 pada kuartal IV-2025. Peningkatan ini disebabkan oleh pergeseran komposisi pengguna ke segmen dengan pengeluaran lebih tinggi.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Etta menilai kesepakatan perdagangan Indonesia – Amerika Serikat (AS) sebagai tantangan bagi Indonesia dalam menerapkan jaringan 5G/6G dari Tiongkok. Menurut bagian 5.2 Agreement on Reciprocal Trade (ART), Indonesia perlu berkonsultasi dengan AS mengenai pemasok mana yang memenuhi standar. Saat ini, operator seluler Indonesia menggunakan jaringan hibrida, menggabungkan teknologi Tiongkok dan Barat.
EXCL berkomitmen untuk menggunakan ZTE dan Huawei sebagai vendor jaringan tunggal.
Proyeksi Finansial dan Rekomendasi
Gani memproyeksikan pendapatan EXCL tahun 2026 mencapai Rp 46,46 triliun, meskipun perusahaan masih diperkirakan mengalami rugi sebesar Rp 2,14 triliun. Pada tahun 2025, EXCL mencatat pendapatan Rp 42,44 triliun dengan kerugian sebesar Rp 4,42 triliun.
Gani dan Etta merekomendasikan Buy saham EXCL dengan target harga masing-masing Rp 3.300 per saham dan Rp 4.100 per saham. Sementara Aditya merekomendasikan Hold saham EXCL dengan target harga Rp 3.100 per saham.





