PSG Menjadi Juara Liga Champions untuk Kedua Kalinya Berurutan
Paris Saint-Germain (PSG) mencetak sejarah dengan menjadi juara Liga Champions untuk kedua kalinya secara berurutan. Setelah memenangkan kompetisi elite Eropa ini pada musim lalu, klub asal Prancis itu kembali mengangkat trofi setelah mengalahkan Arsenal melalui adu penalti 4-3 dalam final yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, pada hari Minggu (31/5/2026). Pertandingan berakhir imbang 1-1 setelah 120 menit pertandingan.
Kemenangan PSG ini menegaskan posisi mereka sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa. Di media sosial X, percakapan usai final tidak hanya seputar kemenangan PSG atas Arsenal, tetapi juga bagaimana warganet membandingkan kedua klub dalam konteks penjahan Zionis Israel terhadap bangsa Palestina, khususnya di Gaza. PSG dipuji karena sikap para fansnya yang selama ini konsisten membela Palestina, sementara Arsenal dinilai sebaliknya.
Aksi Fans PSG yang Viral
Fans garis keras PSG, Auteuil Kop, pernah viral lewat aksi mereka membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “Merdekakan Palestina” sebelum pertandingan Liga Champions melawan Atletico Madrid pada akhir November 2024. Pesan di bawah bendera tersebut menyampaikan pesan perdamaian, seperti “Perang di lapangan, tetapi perdamaian di dunia.” Selama pertandingan, Auteuil Kop juga menyampaikan pesan lain yang menusuk hati, yaitu, “Apakah kehidupan seorang anak di Gaza kurang berarti daripada yang lain?”
Setelah aksi tersebut, UEFA mengatakan bahwa PSG tidak akan menghadapi konsekuensi apa pun karena hanya melarang pesan-pesan politik yang dianggap menghina atau provokatif. PSG menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui rencana untuk menampilkan pesan semacam itu dan menekankan bahwa Parc des Princes adalah tempat berkumpulnya gairah sepak bola, bukan tempat untuk pesan politik.
Kasus Kitman Arsenal
Di sisi lain, Arsenal pernah menghadapi gugatan hukum setelah memecat Mark Bonnick, seorang kitman, menyusul unggahan media sosial yang menyatakan solidaritas dengan Palestina. Bonnick, yang telah bekerja selama lebih dari 20 tahun untuk klub tersebut, mengklaim bahwa ia dipecat bukan karena pelanggaran, tetapi karena pandangan politik pribadinya, khususnya penentangannya terhadap tindakan Israel di Gaza.
Gugatan yang diajukan oleh Bonnick didukung oleh European Legal Support Centre (ELSC), sebuah kelompok yang membela hak-hak mereka yang menyuarakan pembebasan Palestina. ELSC menilai bahwa pemecatan Bonnick terjadi karena kampanye kotor terkoordinasi oleh akun-akun X pro-Israel yang menuduhnya mengunggah konten antisemit. Namun, Arsenal menyatakan bahwa tidak ada bukti atas tuduhan tersebut.

Ekspresi pemain Arsenal seusai dikalahkan Paris Saint-Germain (PSG) pada final Liga Champions UEFA di Puskas Arena, Budapest, Hongaria, Sabtu (30/5/2026) waktu setempat. PSG berhasil mempertahankan gelar juara Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal melalui drama adu penalti dengan skor 4-3. – (EPA/ANNA SZILAGYI)
Kasus Oezil dan Isu Hak Asasi Manusia
Selain kasus Bonnick, Arsenal juga pernah bersinggungan dengan isu pembelaan terhadap kaum Muslim, yakni kasus Mesut Oezil. Pada April 2026, Oezil mengungkap alasan di balik kepergiannya dari Arsenal pada 2021 silam. Menurutnya, semua berawal dari ketika dirinya vokal menyoroti isu dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, China pada akhir 2019. Setelah komentarnya tentang Muslim Uighur, Arsenal kemudian “menutup pintu” baginya untuk masuk ke dalam tim utama klub London Utara.
Oezil akhirnya memutus kontrak di Stadion Emirates sebelum hengkang ke Fenerbache pada Januari 2021. Dalam wawancara dengan Football London, Oezil mengungkapkan bahwa ia merasa sangat menikmati bermain sepak bola dan merasa kehilangan sesuatu yang begitu penting baginya.





