Penurunan Harga BBM Non-Subsidi Diesel di Indonesia
Pada tanggal 1 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) dan badan usaha niaga swasta memutuskan untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis diesel. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap dinamika pasar energi global dan kebutuhan masyarakat akan akses yang lebih terjangkau terhadap bahan bakar.
Dampak pada Biaya Logistik dan Ekonomi Masyarakat
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi menyambut baik penurunan harga BBM jenis diesel di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina dan swasta. Ia menekankan bahwa BBM jenis diesel banyak digunakan dalam transportasi logistik. Penurunan harga tersebut diharapkan bisa mengurangi biaya logistik, sehingga berdampak positif pada harga bahan pangan di tingkat konsumen akhir.
Selain itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Niti Emiliana juga menyampaikan harapan serupa. Ia berharap penurunan harga BBM jenis diesel, khususnya harga Dex Series, bisa menjadi bantalan bagi masyarakat. Apalagi, saat yang sama, Pertamina masih menjaga harga BBM non-subsidi Research Octane Number (RON) 92 alias Pertamax.
“Penahanan harga Pertamax 92 dan penurunan harga dexlite bisa menjadi bantalan bagi masyarakat. Jika Pertamax 92 ikut naik, efek dominonya terhadap daya beli masyarakat luas akan sangat terasa. Penurunan harga diesel juga bisa mengurangi biaya pengeluaran operasional kendaraan konsumen,” ujar Niti.
Perubahan Harga BBM Non-Subsidi
PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga Dex Series (Dexlite dan Pertamina Dex). Harga produk BBM jenis Dexlite (CN 51) mengalami penurunan sebesar Rp 3.000 per liter, dari Rp 26.000 menjadi Rp 23.000 per liter. Sedangkan harga Pertamina Dex (CN 53) turun sebesar Rp 3.100 per liter, dari Rp 27.900 menjadi Rp 24.800 per liter. Daftar harga tersebut merupakan acuan untuk harga BBM non-subsidi di SPBU Pertamina di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Di jaringan SPBU swasta, Shell dan BP juga ikut menurunkan harga BBM jenis diesel. Merujuk pengumuman terbaru di website resminya, harga Shell V-Power Diesel kini dibanderol sebesar Rp 24.490 per liter. Harga ini berlaku di wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Harga Shell V-Power Diesel mengalami penurunan sebanyak Rp 6.400 per liter, dari harga sebelumnya sebesar Rp 30.890 per liter.
Sedangkan di SPBU BP, harga BP Ultimate Diesel mengalami penurunan sebanyak Rp 4.830 per liter dari Rp 29.890 menjadi Rp 25.060. Harga ini berlaku untuk SPBU BP di daerah Jabodetabek maupun Jawa Timur.
Kenaikan Harga Pertamax Turbo
Pada saat yang sama, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi jenis gasoline, yakni pada produk Pertamax Turbo (RON 98). Berbeda dari penurunan harga di Dex Series, Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo sebesar Rp 850 per liter, dari Rp 19.900 menjadi Rp 20.750 per liter.
Soal kenaikan harga Pertamax Turbo, Tulus melihat dampaknya terhadap ekonomi masyarakat secara luas akan cenderung terbatas. Sebab, segmen pasar Pertamax Turbo merupakan kalangan menengah-atas hingga kelas atas yang punya daya beli lebih kuat.
“Kenaikan harga Pertamax Turbo tidak akan berdampak signifikan dari sisi pengguna, karena pengguna Pertamax Turbo umumnya kendaraan pribadi dengan cc besar, atau bahkan kendaraan mewah,” kata Tulus.
Sementara itu, YLKI memiliki catatan soal kenaikan harga Pertamax Turbo. Niti mengingatkan perlu ada antisipasi agar kenaikan harga bensin dengan RON tinggi ini tidak menimbulkan migrasi konsumsi ke BBM dengan RON lebih rendah.
“Tentu yang terdampak (kenaikan harga Pertamax Turbo) adalah konsumen kelas menengah atas. Peningkatan harga Pertamax Turbo berpotensi adanya migrasi pada BBM yang kualitasnya di bawah Turbo,” ungkap Niti.
Alasan Penyesuaian Harga BBM
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun mengatakan penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan antara lain dinamika harga energi global (harga pasar) dan formula harga sesuai ketentuan Pemerintah. Penyesuaian harga dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan daya beli, serta tetap menjadikan produk BBM non-subsidi dengan harga yang kompetitif di masyarakat pengguna.
“Penurunan harga Pertamina Dex, Dexlite, serta penyesuaian harga Pertamax Turbo dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika harga energi global serta parameter yang ditetapkan pemerintah melalui formula harga yang berlaku,” ujar Roberth dalam rilis yang disiarkan pada Senin (1/6/2026).
Pertamina Patra Niaga akan terus memantau perkembangan pasar energi global dan berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memastikan layanan energi yang andal, kompetitif, dan berkelanjutan bagi masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Untuk sektor diesel, dengan harga yang lebih kompetitif, kami berharap dapat memberikan manfaat yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi nasional,” kata Roberth.
Manajemen BP-AKR juga menyatakan terus memonitor perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta berbagai faktor operasional lainnya yang mempengaruhi bisnis distribusi BBM. “Terkait harga dan ketersediaan produk bahan bakar, BP-AKR terus melakukan evaluasi dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Termasuk kondisi pasar, operasional serta keberlanjutan layanan kepada pelanggan,” ungkap Manajemen BP-AKR melalui keterangan yang diterima Infomalangraya.net.co.id, Senin (1/6/2026).
Dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis, BP-AKR melakukan evaluasi dan penyesuaian operasional secara berkala, termasuk pengaturan distribusi secara aktif, guna menjaga keberlangsungan operasional dan kualitas layanan kepada pelanggan. Sebagai badan usaha niaga BBM, Manajemen BP-AKR menegaskan menjalankan kegiatan usaha sesuai ketentuan dan kebijakan pemerintah dalam tata kelola sektor energi.
“Kami meyakini pemerintah terus memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, ketahanan energi nasional, dan keberlangsungan iklim usaha yang sehat, sehingga seluruh pelaku industri dapat terus berkontribusi secara optimal,” pungkas Manajemen BP-AKR.





