Ringkasan Berita:
- Penutupan Bandara Radin Inten II akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membatalkan 25 penerbangan dan merugikan ribuan penumpang.
- Penutupan serupa juga melanda sejumlah bandara besar seperti Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara.
- Dekan FEB Unila Prof. Nairobi menekankan pentingnya mitigasi ekonomi, pengawasan harga pangan, bantuan tunai, serta relaksasi kredit bagi warga terdampak.
Infomalangraya.net, Lampung Selatan– Wati (29), menjadi satu dari ribuan calon penumpang pesawat yang terdampak sebaran debu abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau ( GAK ). Warga Kabupaten Mesuji, Lampung itu, sedianya terbang menuju Kuala Lumpur, Malaysia, untuk bekerja. Namun, jadwal penerbangan Wati rupanya termasuk dalam satu di antara pembatalan penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II Lampung pada Minggu (6/9/2026).
Bandara Radin Inten II Lampung ditutup sementara karena abu vulkanik akibat erupsi GAK. Penutupan bandara diumumkan General Manager Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti pada Minggu (6/9/2026).
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui sistem MAGMA ESDM, GAK mengalami erupsi sebanyak 2 kali pada Minggu (6/9/2026), yakni pada pukul 03.53 WIB dan pukul 07.10 WIB.
Penutupan Bandara Radin Inten II Lampung sempat diperpanjang beberapa kali. Yakni ditutup sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Lalu diperpanjang hingga pukul 14.00 WIB. Kemudian, diperpanjang lagi mulai pukul 14.07 WIB hingga pukul 18.00 WIB.
Penutupan sementara sejumlah bandara pada Minggu akibat dampak sebaran abu vulkanik erupsi juga terjadi di sejumlah bandara besar di Indonesia. Di antaranya yakni Bandara Soekarno-Hatta (CGK), ditutup mulai pukul 01.30 WIB (NOTAM resmi 02.08 WIB). Lalu, Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), ditutup mulai pukul 07.20 WIB;Â Bandara Budiarto Curug (RTO), ditutup mulai pukul 06.48 WIB; Bandara Pondok Cabe (PCB), ditutup mulai pukul 10.05 WIB; dan Bandara Husein Sastranegara (BDO), ditutup mulai pukul 12.07 WIB.
Akibat penutupan Bandara Radin Inten II Lampung, tercatat sebanyak 25 penerbangan dibatalkan, dengan total calon penumpang yang batal terbang mencapai ribuan orang.
Airport Operation, Services & Security Division Head Bandara Radin Inten II Lampung, Endro Hadi Saputra mengungkapkan, Bandara Radin Inten II memiliki kode IATA (International Air Transport Association) yaitu TKG dan melayani sekitar 3.000 penumpang setiap harinya.
Endro juga menyampaikan, tercatat ada enam maskapai yang beroperasional di bandara yang berlokasi di Jalan Alamsyah Ratu Perwiranegara, Desa Branti Raya, Natar, Lampung Selatan, tersebut.
Adapun frekuensi penerbangan dari dan ke Bandara Radin Inten II (TKG) Lampung mencapai rata-rata 20 hingga 24 pergerakan pesawat (penerbangan) per hari, pada kondisi operasional normal (mencakup penerbangan datang dan berangkat).
Satu di antara rute penerbangan tersebut merupakan rute internasional, Lampung-Kuala Lumpur, Malaysia, yang baru mulai operasional pada 24 Agustus 2026.
Bandara Radin Inten II bisa melayani rute internasional setelah statusnya dinaikkan kembali menjadi bandara internasional melalui Keputusan Menteri Perhubungan (Menhub) Nomor KM 37 Tahun 2025.
Bandara Radin Inten II sebelumnya pernah ditetapkan sebagai bandara internasional berdasarkan Keputusan Menhub Nomor KP 2044 Tahun 2018, terhitung mulai 18 Desember 2018. Namun hampir enam tahun kemudian, tepatnya pada 2 April 2024, status Bandara Radin Inten II diturunkan menjadi bandara domestik akibat penurunan aktivitas saat pandemi Covid-19. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menhub Nomor 31 Tahun 2024.
Erupsi GAK
Bandara Internasional Radin Inten II yang terletak di Branti, Kabupaten Lampung Selatan, berjarak sekitar 120 hingga 130 kilometer di sebelah utara-barat laut dari kawasan kompleks Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Namun, jika ditarik garis lurus (garis geodesik / as the crow flies), jarak dari Bandara Radin Inten II menuju Gunung Anak Krakatau adalah sekitar 95 hingga 100 kilometer.
Meski terpisah jarak lebih dari 100 kilometer, bandara yang didirikan pada tahun 1943 tersebut tetap masuk dalam kawasan terdampak sebaran abu vulkanik GAK. Kondisi ini dipicu oleh tingginya kolom semburan erupsi yang berpadu dengan dorongan angin kencang di lapisan atmosfer atas.
Pada Sabtu (5/9/2026) pukul 16.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung merilis peta sebaran abu vulkanik akibat erupsi GAK.
Sebaran abu vulkanik tersebut terpantau mencapai sejumlah kabupaten/kota di Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Barat di Pulau Sumatera. Sementara di Pulau Jawa, sebaran abu vulkanik mencapai Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat.
Selain ke arah barat, abu vulkanik juga terbang ke arah timur, yaitu Samudera Hindia.
Sebaran abu vulkanik berawal dari erupsi GAK yang berlangsung menerus dan disertai suara gemuruh.
Dalam siaran pers pada Minggu, 6 September 2026, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati mengungkapkan, berdasarkan rekaman instrumental, episode gempa erupsi menerus mulai tercatat sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suardi, mengonfirmasi jika PVMBG telah menaikkan status GAK dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Kamis (2/7/2026) pukul 16.30 WIB, setelah terdeteksi peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Perubahan status tersebut diberlakukan demi mengantisipasi lonjakan aktivitas seismik dan erupsi yang terus terjadi.
“Status Gunung Anak Krakatau saat ini naik menjadi Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Tercatat satu kali erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 200 meter dari puncak,” kata Andi Suardi, Jumat (3/7/2026).
Sejak statusnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 hingga 5 September 2026, GAK tercatat telah mengalami erupsi lebih dari 240 kali. Selama kurun waktu dua bulan tersebut, aktivitas vulkanik gunung api ini didominasi oleh lontaran material pijar, hembusan asap kawah yang pekat, serta rentetan gempa tremor yang berlangsung secara terus-menerus.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api yang lahir di Selat Sunda pasca-letusan katastropik Krakatau pada Agustus 1883. Setelah sebagian besar daratan pulau Krakatau hancur dan tenggelam akibat letusan dahsyat tersebut, aktivitas vulkanik di dasar laut kembali memunculkan daratan baru pada tahun 1927. Daratan muda yang terus tumbuh dari permukaan laut itulah yang kemudian dinamai Anak Krakatau.
Gunung ini terus mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu akibat tumpukan material letusan, menjadikannya salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang berada pada jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik).
Aktivitas Anak Krakatau berlangsung secara periodik, mulai dari erupsi skala kecil hingga letusan besar. Salah satu momen paling destruktif dalam sejarah modernnya terjadi pada 22 Desember 2018. Kala itu, erupsi memicu longsoran bawah laut akibat runtuhnya lereng gunung. Longsoran material tersebut seketika membangkitkan gelombang tsunami yang menerjang pesisir pantai Banten dan Lampung.
Tragedi tsunami 2018 tersebut menelan korban jiwa lebih dari 400 orang dan merusak ribuan bangunan di sepanjang pesisir. Keruntuhan sebagian tubuh gunung itu juga memangkas ketinggian Anak Krakatau secara drastis, dari semula sekitar 338 meter menjadi hanya sekitar 110 meter di atas permukaan laut.
Peristiwa kelam tersebut menjadi bukti nyata bahwa dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau memiliki potensi bahaya yang sangat besar. Oleh karena itu, hingga kini GAK terus berada dalam pengawasan ketat para ahli vulkanologi.
Mitigasi Ekonomi
Berada di wilayah potensi bencana seperti Provinsi Lampung, yang berdekatan dengan GAK, menuntut kesiapsiagaan menghadapi risiko kerugian ekonomi secara berkelanjutan.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Prof. Dr. Nairobi, mengatakan, erupsi gunung api perlu dipandang bukan hanya sebagai persoalan keselamatan dan lingkungan, melainkan juga sebagai risiko ekonomi yang wajib diantisipasi.
Untuk meminimalisasi kerugian, penanganan bencana tidak boleh hanya berhenti pada tahap evakuasi dan perlindungan fisik semata.
Mitigasi harus memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk bertahan secara finansial, sebab bencana dapat meningkatkan biaya hidup, merusak modal produksi, dan memperlemah perekonomian lokal secara drastis.
“Terhentinya operasional penerbangan di Bandara Radin Inten II Lampung selama sehari akibat potensi sebaran abu vulkanik GAK menjadi gambaran nyata bagaimana gangguan satu sektor transportasi dapat merembet secara luas (multiplier effect).”
“Bagi maskapai, penundaan, pembatalan, atau pengalihan rute penerbangan demi keselamatan langsung menimbulkan kerugian operasional. Sementara bagi masyarakat dan penumpang, penutupan bandara mengakibatkan kehilangan waktu kerja, kesempatan bisnis, hingga jadwal perjalanan penting,” kata Nairobi, Minggu (6/9/2026).
Lebih lanjut, Nairobi menyampaikan, efek domino ini berlanjut pada ekonomi daerah, seperti kunjungan wisatawan merosot, pendapatan hotel dan restoran tergerus, serta sektor usaha kuliner, jasa transportasi lokal, pedagang kecil, hingga pekerja informal yang menggantungkan pendapatan dari mobilitas masyarakat turut mengalami penurunan omzet secara tajam.
Guna menahan laju tekanan ekonomi saat bencana terjadi, lanjut Nairobi, langkah mitigasi yang berfokus pada perlindungan roda ekonomi warga sangat mendesak untuk dijalankan.
“Pemerintah daerah perlu memiliki pemetaan data kelompok ekonomi paling rentan, seperti nelayan, petani, pekerja harian, pedagang kecil, pelaku UMKM, dan pekerja pariwisata di kawasan pesisir Selat Sunda, agar alokasi dukungan tepat sasaran,” ujar Nairobi.
Langkah konkret lainnya, kata Nairobi, adalah penyediaan dana kontinjensi bencana yang cepat cair untuk pemenuhan kebutuhan dasar, seperti masker, air bersih, obat-obatan, dan logistik pangan. Di samping itu, terusnya, penyediaan jalur logistik alternatif untuk moda darat, laut, maupun udara mutlak disiapkan, agar rantai pasok kebutuhan pokok tetap berjalan lancar dan tidak menghentikan arus perdagangan.
Dalam meminimalisasi serta menghindarkan masyarakat dari kerugian ekonomi yang lebih dalam, tutur Nairobi, pemerintah harus hadir mengambil peran strategis secara komprehensif.
“Pertama, pemerintah wajib melakukan pengawasan ketat terhadap harga pangan, masker, air bersih, dan obat-obatan guna mencegah penimbunan serta lonjakan harga spekulatif di pasar. Kedua, skema bantuan sosial tunai atau bantuan modal sementara perlu disalurkan kepada warga yang kehilangan pendapatan harian, seperti nelayan yang tidak dapat melaut,” ucap Nairobi.
Ketiga, imbuhnya, pada masa pemulihan, pemerintah disarankan menggelar program padat karya, seperti pembersihan abu vulkanik dan perbaikan fasilitas umum, yang dapat memberi penghasilan langsung bagi warga terdampak
“Terakhir, guna membangkitkan dunia usaha pascabencana, pemerintah harus menyediakan dukungan relaksasi ekonomi berupa penyediaan modal kerja, kredit berbunga rendah, penundaan angsuran, bantuan alat produksi, serta promosi wisata secara bertahap setelah kawasan dinyatakan aman,” tandas Nairobi.
( Infomalangraya.net/ Bayu Saputra / Dominius Desmantri Barus / Noval Andriansyah )




