Keterlibatan Guru dalam Proses SPMB 2026 di Wilayah 3T NTB
Menjelang pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, guru di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Nusa Tenggara Barat (NTB) turun langsung mendampingi orang tua dan calon peserta didik. Tujuannya adalah memastikan proses pendaftaran berjalan lancar, transparan, serta bebas dari pungutan liar (pungli). Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk menjaga integritas dan profesionalitas dalam sistem pendidikan.
Komitmen tersebut diperkuat melalui Surat Edaran Nomor 400.3/1666.UM/05/DIKPORA/2026 tentang Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang Bebas Pungli dan Gratifikasi. Dalam surat edaran tersebut, seluruh satuan pendidikan diminta memastikan pelaksanaan SPMB berlangsung objektif, profesional, transparan, dan akuntabel.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB, Syamsul Hadi, menegaskan bahwa seluruh proses SPMB harus dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Ia juga menyatakan bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan SPMB dilarang melakukan pungutan di luar ketentuan, menerima gratifikasi, maupun praktik percaloan dan titipan.
Selain itu, pengawasan internal diminta diperkuat agar seluruh panitia memahami dan menjalankan aturan sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk memastikan semua proses berjalan dengan baik dan tidak ada kecurangan yang terjadi.
Strategi Persiapan SPMB oleh Sekolah di Lombok Timur
Sekolah di Lombok Timur, khususnya SDN 1 Puncak Jeringo, telah melakukan berbagai persiapan untuk memastikan pelaksanaan SPMB 2026 berjalan tertib dan lancar. Menurut Kepala SDN 1 Puncak Jeringo, Agus Setiawan, persiapan dilakukan melalui koordinasi bersama guru dan tenaga kependidikan, termasuk pembentukan panitia hingga pembagian tugas teknis pelaksanaan.
“Alhamdulillah, sekolah kami sudah siap melaksanakan SPMB tahun ini. Kami telah mengadakan rapat bersama seluruh rekan guru, membentuk kepanitiaan, membagi tugas masing-masing, serta menyepakati teknis pelaksanaan dan strategi promosi untuk meningkatkan jumlah peserta didik baru tahun ini,” ujarnya.
Selain fokus pada pelaksanaan SPMB, SDN 1 Puncak Jeringo juga berencana membuka layanan PAUD Satu Atap guna memperluas akses pendidikan masyarakat di wilayah tersebut. Agus mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan terkait rencana pembukaan layanan PAUD tersebut.
“Saya sudah dua kali melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan, karena insya Allah tahun ini sekolah kami berencana mulai membuka jenjang PAUD Satu Atap di lingkungan sekolah. Hal ini menjadi langkah dan harapan besar bagi kami untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih lengkap dan berkelanjutan,” tutur Agus.
Strategi Sosialisasi dan Pendampingan Administrasi
Untuk meningkatkan jumlah peserta didik baru, pihak sekolah juga melakukan sosialisasi secara langsung maupun melalui media sosial. Bahkan, strategi jemput bola dilakukan dengan mendatangi rumah calon peserta didik usia sekolah.
Agus menegaskan sekolahnya berkomitmen menjaga proses penerimaan peserta didik baru tetap transparan dan bebas praktik gratifikasi. “Kami berkomitmen untuk menjaga proses SPMB tetap transparan dan memastikan tidak ada praktik gratifikasi dalam bentuk apa pun di sekolah kami, sehingga masyarakat dapat merasa nyaman dan percaya terhadap pelaksanaan penerimaan peserta didik baru tahun ini,” tegasnya.
Selain itu, sekolah juga berencana mengundang orang tua murid dalam kegiatan sosialisasi program sekolah dan pelaksanaan SPMB agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas terkait proses pendaftaran. “Langkah ini kami lakukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas tentang program sekolah serta semakin yakin untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah kami,” jelasnya.
Peran Guru dalam SPMB di Daerah 3T
Guru SDN Tangkampulit, Kabupaten Sumbawa, Yan Aryani, mengatakan keterlibatan guru dalam persiapan SPMB cukup besar, terutama dalam sosialisasi dan pendampingan administrasi kepada masyarakat. Menurutnya, di wilayah 3T masih banyak orang tua yang membutuhkan pendampingan langsung terkait alur pendaftaran dan kelengkapan dokumen.
“Guru dilibatkan cukup aktif dalam persiapan SPMB, terutama dalam sosialisasi kepada orang tua dan masyarakat, pendampingan pengisian berkas, serta membantu memastikan calon peserta didik memahami alur pendaftaran. Di daerah 3T, peran guru menjadi sangat penting karena masih ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan langsung terkait informasi dan administrasi SPMB,” ujarnya.
Yan menambahkan masyarakat secara umum menyambut baik pelaksanaan SPMB tahun ini karena dinilai lebih terbuka dan terarah. Meski demikian, sejumlah kendala teknis masih dihadapi sebagian wali murid, khususnya terkait administrasi dan pemahaman jalur penerimaan.
Beberapa wali murid masih menyampaikan kendala terkait pemahaman teknis administrasi dan kelengkapan dokumen yang diperlukan saat pendaftaran. Selain itu, ada juga orang tua yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai jalur penerimaan dan tahapan seleksi agar tidak terjadi kesalahpahaman selama proses SPMB berlangsung.
Pernyataan serupa disampaikan Guru SDN 1 Puncak Jeringo, Marwah. Ia mengatakan seluruh pendidik dilibatkan dalam proses SPMB, mulai dari verifikasi dokumen hingga penginputan data Dapodik. “Semua pendidik dilibatkan dalam verifikasi dokumen, sosialisasi ke orang tua, dan penginputan data Dapodik,” ungkapnya.
Marwah menilai pelaksanaan SPMB di daerahnya kini semakin transparan dan mendapat respons positif dari masyarakat. Namun, tantangan tetap ada, terutama persaingan antar sekolah dalam mendapatkan peserta didik baru di wilayah 3T. “Responsnya cukup baik karena pendaftaran di daerah kami lebih transparan. Tapi ada juga persaingan yang kami hadapi di daerah 3T,” pungkasnya.





