Sosok Ibu Atun yang Dihormati oleh Banyak Orang
Sosok Ibu Atun, seorang guru di SMA Negeri 1 Purwakarta, kini menjadi perhatian publik setelah video yang menunjukkan tindakan tidak pantas dari siswanya viral di media sosial. Meski begitu, banyak orang yang mengenalnya sebagai sosok yang luar biasa baik dan berkontribusi dalam masyarakat.
Peran Ibu Atun dalam Membantu Anak Yatim
Beberapa netizen mengungkapkan bahwa Ibu Atun tidak hanya dikenal sebagai guru yang baik, tetapi juga sebagai pendiri yayasan anak yatim bernama Daarul Aitam Pwk bersama beberapa alumni SMA Negeri 1 Purwakarta. Yayasan ini didirikan pada tahun 2011 dengan tujuan untuk menyantuni anak-anak yatim piatu.
“Bu Atun adalah pembina kami di @daarulaitampwk. Kami adalah organisasi non profit yang didirikan dari tahun 2011 oleh Bu Atun dan beberapa alumni. Karena bimbingannya, organisasi kami masih berdiri sampai hari ini,” tulis salah satu netizen.
Selain itu, banyak alumni SMA Negeri 1 Purwakarta yang pernah ikut serta dalam kegiatan santunan anak yatim piatu yang diadakan oleh yayasan tersebut. Netizen lain mengatakan bahwa Ibu Atun sering memberikan donasi dan membantu kegiatan-kegiatan tersebut.
“Iyaaaa dia itu baik banget, dulu aku pas sekolah sering banget ikut kalau ada acara santunan anak yatim piatu yang diselenggarakan oleh alumni SMA 1 Purwakarta, donaturnya termasuk Bu Atun ini. Saya ga akan pernah lupa sama jasa nya dan pas liat berita ini yaallah sakit hati banget,” tulis netizen tersebut.
Ketegasan Ibu Atun dalam Mengajar
Di kalangan alumni, Ibu Atun juga dikenal sebagai guru yang tegas saat mengajar. Keberanian dan ketegasannya dinilai sangat berguna bagi para siswa.
“Demi Allah kami seluruh muridnya bersaksi, beliau –semoga Allah selalu menjaganya di atas ketaatan dan kebaikan dalam keadaan sehat dan berbahagia– adalah salah satu guru yang baik bahkan satu-satunya guru terbaik yang pernah mengajar kami,” tulis salah satu netizen.
Netizen lain menambahkan bahwa Ibu Atun memiliki sifat yang baik di luar kelas. “Guru sosiologi ku, di dalam kelas beliau tegas, di luar kelas maasyaAllah baik banget. Semoga Allah memuliakan Bu Atun dunia akhirat. Dulu masuk smansa perjuangan luar biasa,” tulisnya.
Video Pelecehan yang Viral
Sebuah video yang menampilkan aksi tidak pantas dari beberapa siswa terhadap Ibu Atun viral di media sosial. Dalam rekaman berdurasi 31 detik tersebut, tampak beberapa siswa meledek dan mengolok-olok Ibu Atun saat berada di dalam kelas.
Terlihat seorang siswi berkerudung mengacungkan jari tengah ke arah belakang guru, bahkan menjulurkan lidah. Sementara itu, siswa lain tampak duduk sambil menggerakkan tangan ke arah belakang kepala sang guru.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengungkapkan bahwa para pelaku merupakan siswa kelas XI IPS. Kejadian berlangsung pada Kamis (16/4/2026), namun videonya baru viral dua hari kemudian.
Aksi pelecehan ini bermula tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) terkait pengolahan aneka makanan selesai dilaksanakan. Menurut Purwanto, aksi tersebut terjadi setelah kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran pengolahan aneka makanan selesai.
Tanggapan Gubernur Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyebut tindakan para siswa sebagai sesuatu yang ironis. Ia menilai perlu ada hukuman yang tepat untuk membentuk karakter para pelajar.
“Ironis dan harus diberikan hukuman untuk pembentukan karakter,” kata Dedi Mulyadi dikutip dari Instagramnya pada Sabtu (18/4/2026).
Namun demikian, Dedi tidak menyarankan agar para siswa diberikan sanksi skorsing. Ia justru mengusulkan bentuk hukuman yang bersifat edukatif melalui kerja sosial di lingkungan sekolah.
“Saya memberikan saran anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran,” katanya.
Ia menambahkan bahwa siswa sebaiknya diberikan tugas seperti membersihkan lingkungan sekolah hingga toilet agar memiliki rasa tanggung jawab.
“Berikan hukuman membersihkan halaman sekolah. Menyapu setiap hari dan membersihkan toilet. Ini yang saya sarankan,” ujarnya.
Dedi menegaskan bahwa hukuman yang diberikan kepada siswa harus bermanfaat dalam pembentukan karakter, bukan sekadar memberikan efek jera semata.
“Prinsip dasar adalah setiap hukuman yang diberikan harus hukuman yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter. Bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orangtua dan oleh gurunya,” kata Dedi Mulyadi.





