Keroncong Stambul Fadjar: Warisan Budaya Tak Benda dari Pulau Mendanau
Musik yang mengalun dengan dentangan senar gitar, bas, dan tiga okulele serta gesekan biola menciptakan nuansa sendu. Diiringi suara penyanyi yang melantunkan pantun khas Melayu, terdengar kesan tradisional yang kental. Inilah Keroncong Stambul Fadjar, sebuah kesenian khas dari Pulau Mendanau, Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung.
Meskipun bukan asli dari Belitung, Keroncong Stambul Fadjar telah menjadi bagian dari budaya setempat melalui akulturasi. Dari settingan senar hingga ketukan musik dan melodi, semuanya telah disesuaikan sehingga menjadi ciri khas masing-masing daerah. Yang menarik, musik ini tidak memiliki lirik lagu, hanya menjadi pengiring syair pantun yang menjadi ciri khas Melayu.
Kata “Fadjar” dalam nama ini memiliki makna tersendiri. Dulu, musik ini dimainkan mulai tengah malam hingga menjelang pagi atau fajar terbit. Saat ini, Keroncong Stambul Fadjar terus dibawakan oleh kelompok musik bernama Pengekar Campo yang diketuai Suheman atau akrab disapa Jabing.
Jabing menjelaskan bahwa Keroncong Stambul Fadjar adalah sub genre dari keroncong yang berkembang di berbagai daerah dengan beberapa kemiripan. Meski ia tidak bisa menjelaskan asal usulnya secara pasti, ia menyatakan bahwa musik ini dibawa oleh para perantau ke Pulau Mendanau. Namun, kapan dan siapa yang membawa pertama kali, masih menjadi misteri.
Dulunya, Keroncong Stambul Fadjar digunakan sebagai penghibur bagi Mak Panggong (juru masak) dan rombongan dapur saat acara hajatan. Musik dimainkan menjelang tengah malam, saat sang juru masak mulai lelah. Ketika musik dimainkan, penyanyi mulai berbalas pantun dengan Mak Panggong atau rombongan dapur lainnya. Setelah itu, tuan murah mulai menghadirkan tambul (makanan ringan) untuk pemusik secara bertahap. Menu bubor timbok (bubur nasi) menjadi hidangan penutup yang menandai akhir hiburan musik.
“Sekarang, musik ini sudah berkembang menjadi hiburan hajatan umum,” kata Jabing. Ia memang bukan warga asli Pulau Mendanau. Sejak 2008, ia menikah dengan istri dan menetap di sana. Awalnya, ia hanya menonton pertunjukan musik Keroncong Stambul Fadjar di sana dan tertarik dengan irama serta lantunan syair pantunnya.
Kebetulan, rumah Jabing berdekatan dengan rumah Kek Mat, seorang pemain Keroncong Stambul Fadjar yang juga mahir bermain gitar dan okulele. Dari situlah awal terbentuknya kelompok Pengekar Campo yang membawakan musik Stambul Fadjar.
“Niat awalnya hanya sekadar iseng-iseng belajar karena saya hobi musik,” ungkap Jabing. Kemudian, ia bersama Kek Mat mulai mencari pemain alat musik lainnya. Didapatlah Kek Liyas almarhum pemain biola, Sepoy pemain bas, Ramfeli pemain okulele, dan Kik Miun penyanyi laki-laki Niar istri Jabing sebagai penyanyi perempuan.
Latihan musik dilakukan intensif meski dengan segala keterbatasan. Untuk melengkapi sound sistem, mereka belajar membuat sendiri dari internet dengan kondisi seadanya. Akhirnya, mereka sepakat memberi nama kelompok musik ini dengan sebutan Pengekar Campo.
Pengekar Campo mulai dipanggil untuk mengisi hiburan hajatan di Pulau Mendanau. Bahkan, panggilan bermusik ke luar Pulau Mendanau mulai bermunculan hingga nama mereka mulai dikenal. Tahun 2013, gabungan pecinta alam Belitung (Gapabel) datang ke Pulau Mendanau dan membantu mempromosikan Pengekar Campo melalui video dokumenter. Video berdurasi 11 menit itu viral dan membuat Jabing Cs kian dikenal.
Viralnya video tersebut juga mendatangkan mahasiswi dari Stanford, Amerika bernama Hannah Standiford untuk meneliti musik Stambul Fadjar. Hannah meneliti bersama Dewan Kesenian Belitung selama tiga minggu di Desa Suak Gual. “Waktu itu dia tertarik karena ada kemiripan dengan keroncong Jawa yang pernah dia teliti juga,” katanya.
Keunikan musik Keroncong Stambul Fadjar kian dilirik masyarakat. Akhirnya, Pengekar Campo diundang Pemkab Belitung untuk mengisi acara gawai urang Belitong di Malaysia sekitar tahun 2019. Semenjak itu, mereka rutin diajak mengisi acara formal di beberapa kota seperti Surabaya dan lainnya.
Setelah beberapa tahun berkarya, kelompok Pengekar Campo akhirnya mencapai puncak atas pengakuan Keroncong Stambul Fadjar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kemdikbudristek tahun 2021. “Alhamdulillah sudah sejauh ini, kami juga tidak menyangka. Padahal niat awalnya hanya mengisi keheningan malam di Suak Gual,” katanya.
Jabing berharap Keroncong Stambul Fadjar dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. Meski tidak mudah, seiring perkembangan musik kekinian, keroncong juga perlahan tergerus zaman. Oleh sebab itu, Jabing berharap semua pihak ikut terlibat menjaga Keroncong Stambul Fadjar tetap abadi sebagai warisan budaya tak benda dari Pulau Mendanau.
“Kata warisan ini kan tidak mudah, makanya kami berharap semua pihak, ayo sama-sama kita jaga tidak hanya kami dari Pengekar Campo saja,” ujar Jabing.





