Kinerja Emiten Penambang Emas pada Kuartal I-2026
Pada kuartal pertama tahun 2026, kinerja sektor emas di Indonesia menunjukkan berbagai variasi. Beberapa faktor seperti volatilitas harga emas global, risiko produksi, serta kebijakan domestik menjadi penentu utama bagi performa sektor ini.
Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas, menjelaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi sektor emas adalah fluktuasi harga emas global. Meskipun harga emas saat ini masih tinggi, tekanan dari penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi AS, dan ekspektasi The Fed yang tidak segera memangkas suku bunga dapat memberikan tekanan terhadap harga emas dalam jangka pendek.
Selain itu, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed menjelang akhir tahun. Suku bunga tinggi biasanya menjadi tekanan bagi emas karena emas tidak memberikan yield. Hal ini membuat investor cenderung mencari aset lain yang lebih menguntungkan secara finansial.
Risiko Produksi dan Biaya Operasional
Tantangan kedua yang dihadapi sektor emas adalah risiko produksi dan biaya operasional. Kenaikan harga emas tidak otomatis meningkatkan laba jika volume produksi turun, kadar bijih melemah, terjadi gangguan cuaca, atau biaya bahan bakar dan kontraktor naik.
Thoriq mencontohkan kasus PT Bumi Resources Minerals (BRMS), di mana harga jual emas naik tajam, tetapi volume penjualan emas pada kuartal I-2026 turun lebih dari 30% secara year on year (YoY). Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak selalu berdampak positif pada kinerja perusahaan.
Risiko Kebijakan Domestik
Tantangan ketiga adalah risiko kebijakan domestik. Pemerintah Indonesia sedang mendorong kebijakan kontrol lebih besar atas ekspor komoditas, termasuk rencana sentralisasi ekspor komoditas tertentu serta kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam di bank BUMN mulai 1 Juni 2026.
Kebijakan ini dapat mendukung stabilitas rupiah, tetapi dalam jangka pendek berpotensi menambah ketidakpastian bagi eksportir, terutama dari sisi mekanisme harga, administrasi, dan fleksibilitas pengelolaan kas valas.
Valuasi Saham dan Sentimen Pasar
Tantangan keempat adalah valuasi saham. Beberapa saham emas telah mengalami kenaikan signifikan sehingga valuasinya menjadi lebih sensitif terhadap koreksi harga emas. Contohnya, BRMS diperdagangkan dengan PER yang tinggi, sementara PT Merdeka Gold Resources (EMAS) masih berada pada fase awal produksi dan masih memiliki risiko eksekusi ramp-up.
Sentimen utama yang perlu diperhatikan adalah arah harga emas global, terutama terkait konflik geopolitik, ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, dan yield US Treasury. Selama ketegangan Timur Tengah, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian global masih tinggi, emas masih mendapat dukungan sebagai aset safe haven.
Namun, jika dolar AS terus menguat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin mundur, harga emas berpotensi mengalami koreksi lanjutan.
Permintaan Bank Sentral dan Investor Asia
Sentimen berikutnya adalah permintaan bank sentral dan investor Asia. World Gold Council mencatat bank sentral membeli 244 ton emas pada kuartal I-2026, naik 17% secara kuartalan, dengan pembelian tetap kuat di tengah ketidakpastian geopolitik. Permintaan emas berbentuk bar dan coin juga naik 42% YoY menjadi 474 ton, menunjukkan minat investor terhadap emas fisik masih kuat.
Adapun, dari domestik, sentimen rupiah juga penting. JISDOR BI pada 22 Mei 2026 berada di Rp 17.717 per dolar AS. Pelemahan rupiah dapat mengangkat harga emas dalam rupiah dan mendukung pendapatan emiten yang memiliki harga jual berbasis dolar atau mengikuti harga emas global.
Rekomendasi Investasi
Thoriq merekomendasikan buy saham ANTM di area 3.100 – 3.120 dengan target harga Rp 3.300 per saham dan stoploss jika ke level 2.880. Ia juga merekomendasikan buy saham BRMS di area 630-635 dengan target harga Rp 700 per saham dan stoploss jika ke level 505.
Wafi merekomendasikan buy saham ANTM dengan target harga Rp 4.250 per saham, buy saham BRMS dengan target harga Rp 820 per saham, buy saham ARCI dengan target harga Rp 1.550 per saham, dan wait and see saham MDKA.
Sementara Adrian melihat ANTM sebagai salah satu emiten yang menarik untuk diperhatikan. Saham ini memiliki potensi menuju target terdekat di area Rp 3.280 per saham.





