Motor Klasik yang Tetap Berkesan
Honda Super Cub C700 menawarkan pengalaman berkendara yang berbeda dibandingkan tren motor modern dengan mesin besar dan fitur digital. Meskipun merupakan motor bebek lawas produksi awal 1980-an, C700 masih memiliki tempat tersendiri bagi para pecinta kendaraan klasik. Selain desainnya yang khas, motor ini juga membawa nilai historis yang kuat di baliknya.
Bagi Azhar Fathurrohman atau yang akrab disapa Aak, Super Cub C700 tahun 1981 bukan sekadar motor tua untuk digunakan harian. Baginya, motor ini menjadi simbol karakter dan kesederhanaan sekaligus bagian penting dari sejarah otomotif Indonesia. Aak memilih C700 karena menganggap motor tersebut memiliki identitas yang sangat khas Indonesia. Menurutnya, generasi Super Cub ini dirancang khusus untuk pasar Tanah Air dan tidak banyak ditemukan di negara lain.
“Setahu aku, C700 itu didesain khusus untuk Indonesia. Jadi menurutku ini bersejarah sih. Ini Indonesia banget,” ujarnya.
Evolusi Penting Keluarga Super Cub
Honda Super Cub C700 memang menjadi salah satu evolusi penting keluarga Super Cub di Indonesia pada awal 1980-an. Motor ini hadir dengan desain yang lebih modern dibanding generasi Cub sebelumnya. Bentuk lampu depan kotak, lampu senja khas di bagian tameng, serta garis bodi yang tegas membuat tampilannya mudah dikenali hingga sekarang.
Secara teknis, C700 dilengkapi mesin horizontal 70cc empat langkah yang terkenal sederhana dan tangguh. Konfigurasinya masih mempertahankan sistem pendingin udara dengan transmisi semi otomatis tiga percepatan. Karakter mesinnya mirip dengan Honda C70 atau yang populer disebut “Pitung”, termasuk penggunaan sistem pengapian platina yang menjadi ciri motor era tersebut.
Kondisi Motor yang Masih Baik
Meski usianya sudah lebih dari empat dekade, motor milik Aak masih dalam kondisi cukup baik saat pertama kali didapatkan. Ia mengaku tidak perlu melakukan restorasi besar karena sebagian besar komponen masih berfungsi normal.
“Pertama kali dapat tuh kondisinya sudah jadi seperti ini. Cuma ada masalah wajarnya C700 di bagian rumah klep,” katanya.
Menurut Aak, salah satu titik yang cukup dikenal di kalangan pengguna C700 adalah bagian dudukan rocker arm atau rumah klep yang masih menggunakan sistem tanpa bearing. Kondisi itu membuat komponen lebih mudah aus atau bergeser jika dipakai dalam jangka panjang.
Karena itu, penyesuaian yang dilakukan Aak pada sektor mesin terbilang cukup sederhana. Ia memilih mempertahankan spesifikasi standar dan hanya menambahkan bearing pada bagian rumah klep agar lebih awet serta nyaman digunakan untuk aktivitas harian.
Desain Orisinal yang Menarik
Selain faktor historis, daya tarik terbesar Super Cub C700 bagi Aak justru terletak pada desain orisinalnya. Menurutnya, karakter motor ini tidak hanya muncul dari bentuk bodi, tetapi juga detail-detail kecil yang kini jarang ditemukan pada motor modern.
“Yang spesial menurutku di C700 itu tetap di desainnya. Lampu depannya, lampu senjanya, sama tampilan belakangnya. Looks-nya itu yang khas,” ujarnya.
Nuansa klasik itu juga menjadi alasan Aak mempertahankan konsep orilook pada motornya. Meski saat ini masih menggunakan velg racing bawaan dari pemilik sebelumnya, ia mengaku suatu saat ingin mengembalikan tampilannya ke model jeruji seperti spesifikasi aslinya.
Pengalaman Berkendara yang Berbeda
Selain desain, pengalaman berkendara menjadi hal lain yang membuat Aak bertahan menggunakan motor lawas tersebut di jalanan Yogyakarta. Di tengah lalu lintas modern yang serba cepat, ia justru merasa motor ini mengajaknya menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih pelan.
Menurutnya, sensasi itu menghadirkan pengalaman berkendara yang lebih personal dibanding motor modern dengan tenaga besar.
“Ketika kita melambat, malah jadi lebih perhatian sama jalanan, sama motor kita sendiri, bahkan sama perasaan kita sendiri. Perasaan itu menurutku lebih berharga,” kata Aak.
Penyesuaian untuk Kebutuhan Modern
Meski demikian, bukan berarti motor ini tanpa kekurangan. Aak mengakui transmisi tiga percepatan bawaan C700 terkadang terasa kurang panjang untuk kondisi jalan saat ini. Karena itu, ia berencana melakukan penyesuaian dengan menambah rasio gigi menjadi empat percepatan agar karakter motor lebih nyaman digunakan di lalu lintas modern.
Namun di luar rencana penyesuaian tersebut, Aak tetap ingin mempertahankan karakter asli motornya. Bagi dirinya, Super Cub C700 bukan hanya soal kendaraan klasik, tetapi juga tentang cara menikmati perjalanan dengan lebih tenang dan penuh penghargaan terhadap waktu.
Di tengah gempuran motor baru yang semakin cepat dan agresif, Super Cub C700 justru hadir sebagai pengingat bahwa berkendara tidak selalu soal kecepatan. Kadang, perjalanan yang paling berkesan justru datang saat seseorang memilih melambat dan benar-benar menikmati jalan yang dilalui.




