Kasus Kekerasan terhadap Anak di Sukabumi Terungkap, Motif Ibu Tiri Menyebabkan Kematian
Kasus dugaan penganiayaan terhadap anak di Sukabumi mulai terungkap. Korban yang berinisial NS (12), seorang siswa asal Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diduga mengalami kekerasan dari ibu tirinya hingga meninggal dunia.
Pengakuan Korban dan Peristiwa Mencekam
Keterangan awal muncul dari paman korban yang sempat mendengar langsung cerita sang bocah mengenai perlakuan ibu tirinya. NS diduga mengalami luka bakar dan melepuh di seluruh tubuhnya, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, kondisi NS sangat memprihatinkan.
Ayah korban, Anwar Satibi, mengaku syok ketika melihat kondisi anak tunggalnya yang terluka parah. Sebelumnya, NS masih dalam keadaan sehat dan ceria saat liburan pesantren. Namun, setelah kembali ke rumah, ia tiba-tiba dalam keadaan parah.
“Ketika itu jelang masuk bulan puasa, libur dulu (dari pesantren) disuruh pulang ke rumah. Dalam jangka puasa mau 5 hari lagi itu anak masih sehat, jalan-jalan di mobil. Setelah itu bapaknya pergi ke Sukabumi, ibunya nelpon katanya anaknya sakit. Bapaknya pulang subuh-subuh, itu anaknya udah keadaan parah di rumah,” ungkap paman korban, Isep Mahesa.
Anwar dibuat tak menyangka usai mendengar penjelasan dari dokter bahwa NS terindikasi mengalami penganiayaan. “Kata ibunya itu bilangnya sakit panas, udah dibawa di rumah sakit. Tapi begitu di rumah sakit, ada dokter bilang kepada bapaknya bahwa ini ada indikasi ada penganiayaan.”
Pengakuan Korban dan Motif Pelaku
Setelah itu, Isep dan ayah korban bertanya langsung ke NS tentang siapa yang menganiayanya. Dengan sigap, NS menunjuk ibu tirinya sebagai pelaku penganiayaan dirinya. Diungkap NS, ia disuruh minum air panas oleh ibu tirinya serta mendapatkan kekerasan lainnya.
“Saya pribadi belum bisa menyebutkan siapa pelakunya, itu mungkin nanti dari penyidik, saya tidak mau menjadikan fitnah,” akui Isep. Meski begitu, Isep tak bisa meninggalkan sebuah fakta soal perangai temperamen dari ibu tiri terhadap korban.
Diceritakan oleh ayah korban yakni Anwar, putranya itu memang sempat ribut dengan anak angkat terduga pelaku yakni ibu tirinya. Selama ini NS kabarnya kerap diperlakukan tak adil oleh ibu tirinya. Ibu tiri tersebut bak pilih kasih dan lebih memilih sayang ke anak angkatnya ketimbang anak suaminya.
“Makanya saya arahkan, daripada ribet banyak masalah di rumah tangga, udah aja (korban) dimasukkan ke pesantren,” pungkas Isep.
Kronologi Kejadian
Awal kejadian: NS (12), bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Sukabumi, diduga mengalami kekerasan dari ibu tirinya berinisial TR.
Kondisi korban: NS ditemukan dalam keadaan luka bakar dan melepuh di sekujur tubuh, kemudian dibawa ke IGD RS Jampang Kulon.
Keterangan awal: Sang ibu tiri berdalih luka tersebut akibat demam tinggi, namun hasil pemeriksaan medis menunjukkan indikasi penganiayaan.
Pengakuan korban: Sebelum meninggal, NS sempat mengatakan kepada ayahnya bahwa ia dipaksa minum air panas oleh ibu tirinya.
Proses hukum: Polres Sukabumi memeriksa 16 saksi, termasuk keluarga, saksi TKP, dan tenaga medis. Hasil visum menunjukkan adanya luka lecet, lebam, serta luka bakar derajat 2A.
Akhir peristiwa: NS dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (19/2/2026) pukul 16.00 WIB, menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia.
Data Kekerasan terhadap Anak di Indonesia
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat 2.031 kasus pelanggaran hak anak di Indonesia. Angka ini menggambarkan masih tingginya persoalan perlindungan anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang publik dan digital.
Data tersebut biasanya dihimpun dari laporan masyarakat, pengaduan langsung, serta koordinasi dengan lembaga penegak hukum dan dinas terkait di daerah. Dari pola tahun-tahun sebelumnya, jenis pelanggaran yang paling banyak dilaporkan umumnya meliputi kekerasan fisik dan psikis, kekerasan seksual, perundungan (bullying), eksploitasi anak, penelantaran, hingga kejahatan siber terhadap anak.
Kasus di lingkungan pendidikan dan kekerasan seksual kerap mendominasi laporan. Selain itu, peningkatan penggunaan media sosial juga memicu bertambahnya kasus eksploitasi dan kekerasan berbasis daring yang menyasar anak-anak.




