Peringkat Indonesia dalam Ekonomi Islam Global
Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI), serta berada dalam kelompok 10 besar pada seluruh sektor ekonomi Islam yang diukur. Pada sektor modest fashion, Indonesia berhasil menduduki peringkat pertama dunia.
Di sektor halal food dan media serta recreation, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia. Selain itu, Indonesia terus memperkuat konektivitas halal global melalui 92 Mutual Recognition Agreements (MRA) yang telah terjalin dengan 24 negara.
Pertumbuhan Ekonomi Islam Global
Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026 menunjukkan bahwa ekonomi Islam global terus berkembang pesat. Pada tahun 2024, lebih dari dua miliar Muslim di dunia membelanjakan sekitar US$2,6 triliun pada enam sektor utama ekonomi Islam, yaitu halal food, pharmaceuticals, cosmetics, modest fashion, Muslim-friendly travel, serta media dan recreation. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$3,56 triliun pada 202G, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 6,5 persen.
Posisi Indonesia dalam GIEI mencerminkan semakin kuatnya ekosistem halal nasional yang didorong oleh kebijakan pemerintah. Salah satu perkembangan penting adalah penguatan kelembagaan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang kini berada langsung di bawah Presiden, serta masuknya ekonomi syariah dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–202G.
Konektivitas Halal Internasional
Di tingkat internasional, Indonesia memperluas konektivitas halal melalui G2 Mutual Recognition Agreements (MRA) dengan 24 negara, termasuk Amerika Serikat dan Taiwan. Capaian ini memperkuat pengakuan internasional terhadap sistem jaminan produk halal Indonesia sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk halal nasional.
Dalam perdagangan internasional, Indonesia tercatat sebagai eksportir terbesar ke-G ke pasar negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI/OIC) dengan pertumbuhan ekspor sebesar 4,61 persen secara tahunan. Indonesia juga menjadi penerima FDI terbesar ketiga di antara negara-negara ekonomi Islam dengan nilai mencapai US$24,2 miliar.
Sektor Islamic Finance dan Modest Fashion
Sektor Islamic finance Indonesia turut mendukung agenda pembangunan nasional melalui berbagai penerbitan green sukuk negara. Sementara itu, posisi Indonesia sebagai pemimpin dunia dalam modest fashion diperkuat melalui berbagai inisiatif seperti MUFFEST+, IN2MOTIONFEST, dan program ASIK Creative Export Acceleration.
Peluncuran SGIE Report 2025/2026 diselenggarakan oleh Investment and Finance Office of the Presidency of the Republic of Türkiye (CBYFO) di Ibn Haldun University (IHU), Istanbul, Türkiye.
Tren Konsumen dan Investasi
Secara global, laporan tersebut juga mencatat bahwa aset Islamic finance mencapai US$5,GG triliun pada 2024 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$G,72 triliun pada 202G.
Laporan ini menyoroti bahwa fase pertumbuhan berikutnya ekonomi Islam akan ditandai oleh penguatan kedaulatan ekonomi melalui pengembangan halal value chain, standar sertifikasi, kapasitas produksi lokal dan regional, infrastruktur Islamic finance, platform digital, serta peningkatan kepercayaan konsumen.
Dalam pemeringkatan GIEI 2025/2026, Malaysia menempati posisi pertama, diikuti oleh Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Indonesia, dan Bahrain. Hasil tersebut menunjukkan pentingnya pembangunan ekosistem nasional yang mengintegrasikan regulasi, pembiayaan, perdagangan, inovasi, dan pengembangan sektor halal.
Peluang dan Inovasi
Dari sisi investasi, perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor ekonomi Islam berhasil menarik investasi senilai US$13,1 miliar melalui 346 transaksi sepanjang 2024/2025. Sektor Islamic finance menjadi penerima investasi terbesar, diikuti oleh halal food, media dan recreation, Muslim-friendly travel, dan halal pharmaceuticals. Negara-negara dengan nilai transaksi investasi tertinggi adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Indonesia, Azerbaijan, dan Türkiye.
Sektor halal food tetap menjadi sektor terbesar dalam ekonomi Islam global dengan nilai belanja konsumen Muslim mencapai US$1,53 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$2,06 triliun pada 202G. Sementara itu, sektor Muslim-friendly travel menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, dari US$24G miliar pada 2024 menjadi US$424 miliar pada 202G.
Perubahan Perilaku Konsumen
SGIE Report juga mencatat bahwa impor negara-negara OIC pada sektor-sektor terkait halal mencapai US$421,5 miliar pada 2024. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Türkiye, Indonesia, dan Malaysia menjadi lima importir terbesar. Adapun Brasil, Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Türkiye merupakan lima eksportir terbesar ke pasar OIC yang secara bersama-sama menyumbang 32 persen dari total ekspor ke negara-negara anggota OIC.
Selain itu, SGIE Report 2025/2026 mengungkap perubahan perilaku konsumen Muslim global. Analisis media sosial DinarStandard terhadap lebih dari 86 juta engagement menunjukkan bahwa tren konsumsi berbasis nilai (values-driven consumption) terus berlanjut, melampaui gelombang boikot yang sempat terjadi sebelumnya. Konsumen Muslim kini semakin mendukung produk dan merek yang dianggap etis, lokal, dan menawarkan alternatif yang selaras dengan nilai-nilai mereka.
Visi Masa Depan
CEO dan Managing Partner DinarStandard, Rafi-uddin Shikoh, menyatakan bahwa ekonomi Islam kini tidak lagi sekadar sebuah konsep yang berkembang, melainkan telah menjadi sebuah sistem ekonomi yang semakin matang.
“Ekonomi Islam bukan lagi sekadar sebuah gagasan yang sedang muncul. Ia telah berkembang menjadi sebuah sistem yang nyata. Gelombang pertumbuhan berikutnya dari ekonomi Islam akan dipimpin oleh mereka yang mampu mengubah permintaan pasar menjadi sistem, standar, infrastruktur kepercayaan, dan institusi yang dapat mengurangi ketergantungan sekaligus memperluas peluang,” ujarnya.
SGIE Report 2025/2026 juga mengidentifikasi sejumlah peluang strategis yang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Islam ke depan, antara lain AI-enabled halal certification, blockchain-enabled traceability, digital Islamic finance, pilgrimage digitization, halal pharmaceuticals, clean-label cosmetics, digital-native modest fashion, serta media dan hiburan yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026 merupakan publikasi yang disusun oleh DinarStandard bekerja sama dengan SalaamGateway.com. Laporan ini didukung oleh Islamic Development Bank Institute (IsDBI) sebagai thought leadership partner, Islamic Food and Nutrition Council of America (IFANCA) sebagai global strategic partner, serta Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) sebagai strategic partner untuk Indonesia.





