
Industri keramik nasional mencatatkan peningkatan signifikan dalam tingkat utilisasi produksi pada tahun 2025. Angka tersebut mencapai 73 persen, meningkat dari 66 persen pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan kinerja positif sektor manufaktur yang terus berkembang meskipun menghadapi berbagai tantangan eksternal.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Edy Suyanto, menyatakan bahwa kenaikan utilisasi produksi secara langsung mendorong pertumbuhan volume produksi keramik nasional. Sepanjang tahun 2025, produksi keramik bertambah sekitar 62 juta meter persegi atau tumbuh sebesar 15 persen dibandingkan total produksi tahun 2024.
“Indonesia menjadi satu-satunya negara produsen keramik di Asia, Eropa, maupun Amerika yang berhasil mencatatkan pertumbuhan tingkat utilisasi produksi sekaligus peningkatan kapasitas produksi selama 2025,” ujar Edy dalam pernyataannya, Minggu (4/1).
Peningkatan utilisasi dan produksi industri keramik tidak lepas dari peran aktif pemerintah melalui kebijakan pro-industri. Beberapa kebijakan yang diterapkan antara lain kebijakan antidumping, safeguard keramik, serta pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk keramik. Menurut Edy, kebijakan tersebut dinilai efektif dalam menjaga daya saing industri dalam negeri di tengah tekanan global.
Edy juga mengapresiasi kebijakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang memberikan dampak positif bagi pertumbuhan sektor manufaktur, khususnya industri keramik. Kebijakan seperti perpanjangan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), penerapan SNI wajib untuk industri keramik, serta rencana kebijakan entry point untuk produk impor dinilai strategis dan pro-industri.
“Kebijakan-kebijakan yang diciptakan oleh beliau sangat tepat dan smart, serta memperhatikan keluhan sektor industri,” kata Edy.

Proyeksi Industri Keramik 2026
Memasuki tahun 2026, ASAKI memproyeksikan tingkat utilisasi produksi akan meningkat hingga 80 persen. Dengan target volume produksi sekitar 537 juta meter persegi, angka ini meningkat sebesar 13 persen dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 474,5 juta meter persegi.
Optimisme ini terlihat dari tren positif pada kuartal IV 2025. Tingkat utilisasi produksi terus meningkat, mulai dari 75 persen pada Oktober, meningkat menjadi 76 persen pada November, dan mencapai 78 persen pada Desember 2025.
ASAKI juga menaruh harapan besar pada realisasi Program 3 Juta Rumah pada 2026. “Jika program tersebut berjalan optimal, tingkat utilisasi produksi industri keramik nasional berpotensi melonjak signifikan dari target 80 persen menjadi 96 persen,” ungkap Edy.
Namun demikian, proyeksi pertumbuhan 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan serius. Salah satunya adalah gangguan pasokan gas. Hingga saat ini, industri keramik di Jawa Barat hanya memperoleh sekitar 60 persen pasokan gas, sementara di Jawa Timur berkisar 50–55 persen dengan harga HGBT USD 7 per MMBTU.
“Kekurangannya harus dipenuhi dengan skema surcharge yang mencapai USD 15,4 per MMBTU, yang menekan biaya produksi,” jelasnya.
Selain itu, ASAKI juga menyoroti lonjakan impor keramik sepanjang 2025, terutama dari India (naik 55 persen), Vietnam (32 persen), dan Malaysia (melonjak 210 persen). Untuk menghadapi tekanan ini, ASAKI akan bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) guna menginisiasi penyelidikan dumping terhadap produk keramik asal India pada semester pertama 2026, sekaligus mengumpulkan data indikasi transhipment produk China melalui Malaysia.
Tantangan lain yang tak kalah krusial adalah kelangkaan bahan baku tanah untuk produksi keramik, khususnya di Jawa Barat, menyusul pencabutan sejumlah izin tambang. ASAKI berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius agar kelancaran dan kecukupan bahan baku industri tetap terjaga.
“Dengan peluang besar sekaligus tantangan yang kompleks, tahun 2026 akan menjadi momentum krusial bagi industri keramik nasional untuk melangkah menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” tutup Edy.





