Perkembangan Terkini di Selat Hormuz
Selat Hormuz, jalur penting bagi lalu lintas minyak global, kembali menjadi perhatian internasional setelah Iran memberikan izin kepada sejumlah kapal negara sahabat untuk melintasi wilayah tersebut. Beberapa kapal yang telah diberi izin antara lain dari Thailand, China, India, Pakistan, dan terbaru Malaysia.
Kapal Pertamina, yang merupakan milik Indonesia, masih tertahan di Teluk Arab hingga 26 Maret 2026. Dua kapal tersebut adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia disebut masih berkomunikasi dengan otoritas Iran agar kapal-kapal ini dapat melewati selat.
Kapal Negara Sahabat Diizinkan Melintas
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan ucapan terima kasih kepada Iran setelah kapal tanker Malaysia diizinkan melintasi Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan diplomatik antara Malaysia dan Iran sedang membaik.
Sebelumnya, kapal minyak Thailand juga berhasil melintasi Selat Hormuz setelah Bangkok dan Iran melakukan koordinasi diplomatik. Menlu Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan bahwa kapal tanker milik Bangchak Corporation itu melintasi selat setelah membicarakan masalah keselamatan pelayaran dengan Duta Besar Iran untuk Thailand Nasereddin Heydari.
Pengawalan oleh angkatan bersenjata Iran diberikan kepada sejumlah kapal dari negara-negara yang dianggap sahabat, seperti China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Data pelayaran Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.
Rute Pelayaran yang Berubah
Beberapa kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz tampak memilih rute yang lebih panjang dari biasanya. Contohnya, data pelacakan sebuah kapal tanker berbendera Pakistan menunjukkan kapal itu berlayar lebih dekat ke pantai Iran pada 15 Maret, bukan menempuh jalur umum yang berada di bagian tengah selat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas. Ia menjelaskan bahwa selat tetap terbuka bagi pihak lainnya, asalkan mereka berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Nasib Kapal Pertamina
Hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker Pertamina milik Indonesia masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melewati Selat Hormuz. Kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi, sementara Gamsunoro berada di dekat pesisir Kuwait dan Irak.
Berdasarkan pernyataan Pertamina International Shipping, kapal Pertamina Pride mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional. Sedangkan Gamsunoro melayani pengangkutan untuk mitra pihak ketiga (non-Pertamina). Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas utama.
Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia saat ini masih melakukan komunikasi dengan otoritas Iran agar dua kapal Pertamina tersebut diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Tantangan Lalu Lintas Maritim
Analisis BBC menunjukkan sekitar sepertiga dari pelayaran terbaru di Selat Hormuz dilakukan oleh kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Di antaranya terdapat 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran serta sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran.
Sembilan kapal lainnya dimiliki perusahaan yang beralamat di China. Adapun enam kapal tercatat menjadikan India sebagai tujuan akhir. Kapal-kapal ini kini mengalihkan rute lebih ke utara, melewati perairan teritorial Iran di utara Pulau Larak, sehingga aparat Iran bisa memantau dan mengendalikan lalu lintas maritim.
