Perang Ketupat Tempilang: Ritual Adat yang Mengikat Kehidupan dan Kepercayaan
Perang Ketupat Tempilang di Kabupaten Bangka Barat bukan sekadar festival, tetapi merupakan ritual adat turun-temurun sejak abad ke-19. Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai tolak bala, bersih kampung, dan mempererat silaturahmi menjelang Ramadan.
Pantai Pasir Kuning di Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, menjadi tempat yang kembali menjadi saksi hidupnya tradisi tua yang telah diwariskan lintas generasi. Ribuan warga dan pengunjung memadati kawasan pesisir untuk menyaksikan dan terlibat langsung dalam Festival Perang Ketupat. Acara ini digelar sebagai perayaan puncak tradisi bulan Ruwah atau Sya’ban, fase penting menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Tradisi Perang Ketupat tidak hanya sekadar perayaan rakyat, melainkan juga ritual spiritual, sosial, dan budaya yang mengandung nilai sejarah panjang masyarakat Bangka Barat. Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah dan unsur Forkopimda, seperti Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati Yus Derahman, Wakapolda Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda, serta para kepala OPD dan tokoh adat.
Asal Muasal Tradisi Perang Ketupat
Secara historis, Perang Ketupat pertama kali dilaksanakan pada era 1800-an, tepatnya di kawasan Benteng Kota Tempilang. Pada masa itu, masyarakat Tempilang masih hidup berdampingan dengan alam secara kuat dan mempercayai adanya keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan kekuatan spiritual.
Tradisi ini lahir sebagai ritual pembersihan kampung (bersih kampung) dan tolak bala. Leluhur masyarakat Tempilang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadan, kampung harus disucikan dari segala bentuk energi negatif, penyakit, perselisihan, dan marabahaya agar masyarakat dapat menjalani ibadah dengan tenang dan berkecukupan.
Makna Filosofis Ketupat
Meneruskan adat Perang Ketupat Tempilang, Keman menjelaskan bahwa ketupat dalam tradisi ini bukan sekadar lemparan simbolik, melainkan sarat nilai pendidikan karakter. Menurutnya, setiap huruf dalam kata “ketupat” mengandung makna:
- K melambangkan Kehidupan
- E berarti Etika
- T adalah Tradisi
- U mencerminkan Unsur kebersamaan
- P berarti Perilaku
- A adalah Agamis
- T kembali menegaskan nilai Tradisi
Nilai-nilai ini diwariskan kepada generasi muda agar tetap beradab, beretika, religius, serta menghargai tradisi leluhur.
Rangkaian Ritual Adat Sebelum Perang Ketupat
Perang Ketupat bukanlah acara tunggal, melainkan puncak dari rangkaian ritual adat yang telah disusun secara turun-temurun. Sebelum ketupat beterbangan di arena, masyarakat disuguhi berbagai pertunjukan adat yang sarat makna.
Acara diawali dengan tradisi Penimbongan, sebuah ritual adat yang dilakukan oleh tim adat Tempilang. Dalam ritual ini, dua orang ngambin batu taber memutari penimbong, lalu menuju pemangku adat sebelum menabur (naber) simbol keselamatan kepada para tamu. Selanjutnya ditampilkan Tari Serimbang oleh Sanggar Lima’e Purot, tarian khas Tempilang yang menggambarkan harmoni manusia dengan alam. Disusul Tari Kedidi, tarian yang juga telah diakui sebagai warisan budaya, menggambarkan kelincahan burung kedidi yang hidup di pesisir.
Rangkaian ritual semakin sakral dengan Seramo Adat, yakni pertarungan dua pendekar pencak silat dari perguruan Mawar Putih. Pertunjukan ini bukan untuk melukai, melainkan simbol kesiapsiagaan, keberanian, dan ketangguhan masyarakat dalam menjaga kampung. Sebelum perang dimulai, tim adat memanjatkan doa arwah dan doa selamat, memohon perlindungan Tuhan serta mendoakan para leluhur yang telah mewariskan tradisi ini.
Perang Ketupat: Riuh, Sakral, dan Penuh Kebersamaan
Puncak acara pun tiba. Puluhan pria berpakaian hitam berkumpul di tengah lapangan. Di hadapan mereka, tumpukan ketupat telah disiapkan. Begitu aba-aba diberikan, ketupat langsung diperebutkan dan dilemparkan satu sama lain. Suasana mendadak riuh. Sorak sorai penonton bercampur tawa para peserta. Ketupat beterbangan di udara, menghantam tubuh, lengan, hingga punggung peserta.
Meski terlihat seperti “perang”, tak ada amarah di sana yang ada hanya kebersamaan dan kegembiraan. Perang ketupat kemudian diikuti para tamu kehormatan, pejabat daerah, hingga masyarakat umum. Mereka ikut berbaur tanpa sekat, menegaskan bahwa tradisi ini adalah milik semua, tanpa memandang jabatan dan status sosial.
Dari Ritual Leluhur Menjadi Agenda Wisata
Bupati Bangka Barat Markus menegaskan bahwa Perang Ketupat kini telah berkembang menjadi agenda budaya dan wisata unggulan daerah, tanpa meninggalkan nilai sakralnya. Ia menekankan bahwa tradisi ini mengandung makna mendalam sebagai simbol rasa syukur, tolak bala, serta ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Ia juga menyebutkan bahwa Perang Ketupat telah diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) sejak 2014, bersama Tari Kedidi, Adat Taber Kampung (2015), dan Tari Serimbang (2019). Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi lokal Tempilang memiliki nilai penting bagi kebudayaan nasional.
Menjaga Warisan, Menatap Masa Depan
Hingga kini, Perang Ketupat tetap menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat Tempilang dan Bangka Barat. Lebih dari sekadar tontonan, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara adat, agama, dan kehidupan modern.
Para tokoh adat berharap generasi muda tidak hanya menyaksikan, tetapi juga memahami dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penambahan kesenian tradisional dan keterlibatan anak muda diharapkan dapat membuat tradisi ini terus hidup, relevan, dan tidak hilang ditelan zaman.
Di tengah arus modernisasi, Perang Ketupat Tempilang berdiri sebagai bukti bahwa warisan leluhur dapat terus bertahan, selama dijaga dengan cinta, pemahaman, dan kebersamaan.





