Perbedaan Istilah Teknologi Hybrid dan Pentingnya Pemahaman Konsumen
Kehadiran berbagai istilah teknologi hybrid di pasar mobil Indonesia semakin memperkaya pilihan konsumen. Namun, hal ini juga berpotensi membuat masyarakat bingung karena setiap merek memiliki nama unik untuk menggambarkan sistem yang serupa.
Klasifikasi Resmi GAIKINDO
Berdasarkan klasifikasi resmi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), teknologi kendaraan elektrifikasi dibagi menjadi empat kategori utama:
- Kendaraan Bensin Konvensional: Mobil dengan mesin bensin tanpa sistem hibrida.
- Battery Electric Vehicle (BEV): Mobil yang sepenuhnya bergerak menggunakan tenaga listrik dari baterai.
- Hybrid Electric Vehicle (HEV): Mobil yang menggunakan kombinasi mesin bensin dan motor listrik, tetapi tidak bisa diisi ulang melalui colokan eksternal.
- Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV): Mobil yang memiliki baterai lebih besar dan dapat diisi ulang melalui colokan eksternal.
Namun, di lapangan, istilah-istilah tersebut sering disesuaikan dengan strategi pemasaran masing-masing merek.
Penamaan Berbeda untuk Teknologi Serupa
Di kelas PHEV, misalnya, beberapa merek seperti Chery, Jaecoo, Geely, BYD, Jetour, dan DFSK memiliki nama teknologi sendiri:
- Chery Super Hybrid (CSH)
- Super Hybrid System (SHS)
- Electric Module Intelligent (EM-i)
- Dual Mode (DM)
- Intelligent Dual Mode (i-DM)
- Smart Power System DE-i
Meskipun namanya berbeda, semua teknologi tersebut termasuk dalam kategori PHEV menurut klasifikasi GAIKINDO.
Penggunaan Nama Berbeda di Segmen HEV
Selain PHEV, perbedaan penamaan juga terjadi di segmen HEV. Contohnya:
- Suzuki Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS)
- Toyota Hybrid System (THS)
- Honda e:HEV
- Nissan e-POWER
- Daihatsu e-Smart Hybrid
Beberapa sistem seperti e-POWER dan e-Smart Hybrid bekerja dengan cara yang mirip, yaitu roda digerakkan oleh motor listrik, sedangkan mesin bensin hanya sebagai pembangkit listrik.
Munculnya Teknologi REEV
Selain itu, muncul pula teknologi Range Extender Electric Vehicle (REEV), yang diperkenalkan pada model Changan Deepal S05 dan iCAR V27. Meskipun REEV sering dianggap sama dengan PHEV, konsep kerjanya berbeda.
- REEV menggunakan skema series hybrid, di mana roda hanya digerakkan oleh motor listrik. Mesin bensin hanya berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk mengisi baterai ketika diperlukan.
- PHEV umumnya menggunakan sistem parallel hybrid, di mana mesin bensin dan motor listrik bisa menjadi sumber penggerak kendaraan.
Perbedaan ini membuat karakter berkendara REEV lebih mirip dengan mobil listrik murni, karena akselerasi berasal dari motor listrik, sedangkan mesin hanya bertugas menjaga suplai energi baterai.
Pentingnya Pemahaman Konsumen
Meski teknologi yang dibawa pabrikan terus berkembang dan nama sistemnya semakin beragam, klasifikasi resmi GAIKINDO tetap mengelompokkannya ke dalam kategori HEV atau PHEV sesuai sistem penggeraknya.
Karena itu, konsumen perlu memahami bahwa nama teknologi yang dipromosikan masing-masing merek belum tentu menunjukkan kategori kendaraan yang berbeda. Pemahaman yang baik akan membantu konsumen memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.





