Evakuasi 9 WNI dari Misi Kemanusana Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0

Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya berhasil dievakuasi dan tiba di Istanbul, Turki, setelah ditangkap oleh militer Israel di perairan Siprus. Para WNI ini sebelumnya mengalami penahanan selama beberapa hari di wilayah Mediterania Timur.

Dua jurnalis asal Indonesia yang ikut dalam misi tersebut, yaitu Rahendro Herubowo dan Andre Prasetyo Nugroho, memberikan kesaksian tentang pengalaman mengerikan mereka selama masa penahanan. Mereka mengungkapkan bahwa mereka mengalami kekerasan fisik seperti dipukul, diinjak, hingga disetrum listrik oleh tentara Israel.

Pengalaman Pemukulan dan Penyiksaan Fisik

Rahendro Herubowo, seorang jurnalis lepas, menjelaskan bahwa dirinya sempat mengalami pukulan sebanyak empat kali pada bagian perut, dada, dan punggung. Ia juga mengatakan bahwa badannya pernah diinjak oleh tentara zionis Israel. Selain itu, ia juga mengalami penyiksaan dengan disetrum selama masa penahanan.

“Belakang juga saya diinjek dan terakhir disetrum. Sekarang ini kalau batuk angkat tangan itu kaya ketarik mudah-mudahan enggak apa-apa ya. Kita periksa disini misalnya disini harus ada pemeriksaan lanjutan di rumah sakit Indonesia lah kalau misalkan harus ada perawatan,” ujar Rahendro dalam sebuah video yang diterima Tribunnews.com, Jumat (22/5/2026).

Ia juga menyebutkan bahwa pemeriksaan kesehatan yang sedang dilakukan adalah untuk mengecek kondisi tubuhnya pasca-penyiksaan. “Ya Alhamdulillah sekarang kita sedang menjalani medical check up, tadi baru diambil darah,” tambahnya.

Kesaksian Andre Prasetyo Nugroho

Sementara itu, Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis Tempo TV, juga mengungkap pengalamannya selama ditahan. Ia mengatakan bahwa dirinya juga mengalami kekerasan fisik dari militer Israel, termasuk disetrum. Ia menunjukkan bagian kaki kirinya yang pernah terkena aliran listrik.

“Iya disetrum, saya juga kena setrum (nunjuk kaki bagian kiri) karena gua bagian terakhir kepala kita (disuruh sujud),” ujarnya.

Tiba di Istanbul dan Diterima oleh KJRI

Para WNI yang terdiri dari empat jurnalis dan lima relawan ini akhirnya tiba di Istanbul, Turki, setelah proses evakuasi berlangsung. Mereka disambut oleh Kepala Perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Darianto Harsono.

Darianto mengungkapkan bahwa sembilan WNI tersebut dalam kondisi sehat walafiat. Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan para WNI, mereka mengalami tindakan kekerasan selama penahanan di Pelabuhan Ashdod dan detensi imigrasi Israel. Tindakan kekerasan tersebut meliputi pemukulan hingga setrum listrik.

“Mereka selama tiga empat hari mengalami kekerasan fisik, ada yang ditendang, dipukul ataupun disetrum,” jelas Darianto.

Proses Repatriasi dan Persiapan Pulang ke Tanah Air

Menlu RI Sugiono menyampaikan bahwa pemerintah akan terus memastikan proses repatriasi para WNI berjalan lancar dan aman hingga mereka kembali ke tanah air. “Pemerintah Indonesia akan terus memastikan proses pemulangan seluruh WNI ke tanah air berjalan dengan lancar dan dapat tiba kembali dengan selamat dan sesegera mungkin,” kata Sugiono.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menjelaskan bahwa kepulangan para WNI ke tanah air bergantung pada seberapa lama proses administrasi di Istanbul. Mereka akan segera diterbangkan kembali ke Jakarta jika seluruh proses di Istanbul telah selesai.

“Untuk waktu kepulangan ke tanah air masih menunggu proses di Istanbul, yang pasti akan segera dipulangkan setelah prosesnya selesai,” tambah Heni.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version