Kondisi Cuaca di Kota Pontianak Menunjukkan Tren Positif
Kota Pontianak mengalami perbaikan kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir, dengan hujan yang turun secara merata dan cukup lebat. Perubahan ini memberikan dampak positif bagi masyarakat yang sebelumnya terganggu oleh polusi asap. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat telah membantu mengurangi ketebalan partikel udara yang sempat menyelimuti ruang publik dan mengganggu jarak pandang.
Penurunan suhu setelah hujan juga dinilai efektif dalam meminimalisasi dampak polusi. Upaya presipitasi alami ini disambut baik oleh berbagai kalangan, termasuk pemerintah kota yang rutin melakukan pengawasan terhadap kualitas udara.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan bahwa hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir telah membantu menurunkan suhu udara dan mengurangi dampak kabut asap di wilayah kota. Ia menjelaskan bahwa intensitas hujan tersebut secara perlahan mulai membersihkan udara dari partikel debu dan sisa pembakaran yang sebelumnya melayang di udara bebas.
“Kita di Pontianak sudah hujan kemarin cukup merata dan cukup lebat juga saya sudah senang. Sudah mendinginkan Kota Pontianak dan sekitarnya,” ujarnya, Kamis 20 Agustus 2026.
Nihil Titik Api di Wilayah Kota
Meski suhu udara mulai mendingin dan kelembapan meningkat, bayang-bayang kabut asap masih terlihat di langit Pontianak. Pada waktu-waktu tertentu, cuaca masih berkabut yang menandakan adanya partikel sisa polutan. Namun, berdasarkan hasil pengamatan BMKG, saat ini tidak ditemukan lagi kebakaran lahan di wilayah Kota Pontianak.
Hal ini sejalan dengan gencarnya upaya patroli, pembasahan, dan pencegahan dini yang dilakukan oleh Satgas Karhutla di tingkat kota. Meski demikian, kebakaran lahan masih terjadi di beberapa kabupaten sehingga asap masih terbawa ke Pontianak. Arah dan kecepatan angin menjadi faktor utama yang membuat kawasan perkotaan ini masih merasakan imbas dari pembakaran lahan di luar batas administrasi kota.
Kondisi topografis tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkot Pontianak, mengingat sumber titik panas bukan berada di wilayah pengawasan mereka. Fenomena polusi lintas batas administratif ini secara fluktuatif memengaruhi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah Pontianak.
“Tapi ternyata masih ada asap, tentu hasil dari pengamatan BMKG di Kota Pontianak tidak ada kebakaran lahan lagi, nol ya. Tapi di kabupaten masih terjadi. Nah ini yang dari kabupaten masih terjadi ini kiriman,” katanya.
Aktivitas Sekolah Tatap Muka Dipertahankan
Dinamika kualitas udara yang masih naik-turun membuat pemerintah daerah harus mengambil kebijakan yang cermat, terutama menyangkut kesehatan kelompok rentan seperti pelajar. Indikator pemantauan udara harian kini menjadi acuan utama dalam penentuan kebijakan sektoral.
Ia mengatakan kondisi kualitas udara di Pontianak masih berada pada kategori sedang pada pagi hari, meski pada malam hari sempat masuk kategori tidak sehat. Pergerakan partikel udara memang kerap memburuk di malam hari saat suhu permukaan tanah menurun.
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Pontianak masih memperbolehkan kegiatan belajar mengajar tatap muka berlangsung sambil terus memantau perkembangan kualitas udara. Pihak dinas pendidikan dan instansi terkait diminta untuk tidak lengah terhadap perubahan situasi secara mendadak.
Kebijakan mempertahankan sekolah tatap muka ini diambil dengan pertimbangan objektif bahwa kondisi udara di jam-jam produktif, yakni pagi hingga siang hari, masih tergolong pada batas toleransi aman untuk kegiatan di dalam kelas.
“Kita berharap hasil pantauan kualitas udara sedang, malam memang tidak sehat tapi paginya udah balik sedang, sementara anak-anak masih sekolah,” ungkapnya.
Evaluasi Bertahap dan Opsi Daring
Sebagai bentuk antisipasi ke depan, Pemerintah Kota Pontianak telah menyiapkan sejumlah instrumen kebijakan responsif. Skema mitigasi risiko, khususnya di sektor pendidikan, telah dikoordinasikan agar pengalihan metode pembelajaran dapat dieksekusi secara cepat tanpa kendala teknis.
Meski demikian, Edi menegaskan pemerintah akan mengambil langkah lanjutan apabila kondisi kualitas udara kembali memburuk, termasuk kemungkinan menerapkan pembelajaran secara daring. Evaluasi berkelanjutan mutlak dilakukan demi menjaga para siswa dari potensi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Jadi kita lihat lagi perkembangan, kalau semakin memburuk misalnya kita pembelajaran via online lagi,” tegasnya.
Untuk saat ini, otoritas terkait tetap mengimbau masyarakat agar tidak mengurangi kewaspadaan, termasuk dengan menggunakan masker pelindung saat beraktivitas di luar ruangan ketika udara terpantau kurang sehat.





