Kalender Liturgi Katolik untuk Hari Raya Pentekosta
Hari raya Pentekosta adalah salah satu perayaan penting dalam kalender liturgi Katolik. Pada hari ini, warna liturgi yang digunakan adalah merah, yang melambangkan Roh Kudus dan semangat iman yang membara. Perayaan ini menandai hari ketika para murid Yesus menerima Roh Kudus, yang membawa mereka ke dalam pencerahan spiritual dan memberikan kekuatan untuk menyebarkan Injil.
Bacaan Hari Minggu
Bacaan-bacaan yang dibacakan pada hari Minggu ini mencakup beberapa kitab suci yang menggambarkan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah iman. Berikut adalah bacaan utamanya:
Bacaan Pertama: Kisah Para Rasul 2:1-11
Pada hari Pentekosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengar suara seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah. Mereka melihat lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap pada setiap orang. Mereka lalu penuh dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain. Saat itu, banyak orang Yahudi dari berbagai bangsa hadir di Yerusalem. Mereka kagum karena mendengar rasul-rasul berbicara dalam bahasa mereka sendiri, yaitu bahasa yang mereka gunakan di negeri asal masing-masing.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 104:1ab,24ac,29c-30,31,34
Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Tuhan, Allahku, Engkau sangat besar. Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan. Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Biarlah kemuliaan Tuhan tetap untuk selama-lamanya, biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-Nya! Renunganku manis kedengaran kepada-Nya. Aku hendak bersukacita karena Tuhan.
Bacaan Kedua: 1 Korintus 12:3b-7,12-13
Tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan diberi minum dari satu Roh.
Injil: Yohanes 20:19-23
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu, murid-murid Yesus berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang-orang Yahudi. Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka sambil berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika melihat Tuhan. Yesus berkata lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jika kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Bacaan Khotbah (BCO): Roma 8:5-27
Mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari daging. Mereka yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal yang dari Roh. Keinginan daging adalah maut, sedangkan keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah. Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi jika Roh Allah diam di dalam kamu, maka kamu bukan hidup dalam daging. Jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuhmu mati karena dosa, tetapi rohmu adalah kehidupan oleh kebenaran. Roh yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati akan menghidupkan tubuhmu yang fana itu. Kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita adalah ahli waris, orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah. Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Kita yang telah menerima karunia sulung Roh, juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak. Kita diselamatkan dalam pengharapan. Jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
