KTT dengan Presiden Cina, Trump Mengangkat Nasib Tahanan Politik
Dalam pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Cina Xi Jinping bulan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan perhatian terhadap nasib dua tahanan politik, yaitu pendeta Kristen Ezra Jin Mingri dan taipan media Hong Kong Jimmy Lai. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa isu kemanusiaan dan kebebasan beragama tetap menjadi prioritas dalam hubungan diplomatik antara kedua negara.
Pendeta Ezra Jin Mingri dan Kasus Gereja Protestan Zion
Ezra Jin Mingri adalah pendiri Gereja Protestan Zion, salah satu gereja bawah tanah terbesar di Cina, yang ditangkap pada 2025. Ia bersama 17 anggota gereja lainnya ditahan di Guangxi sejak pemerintah Cina menangkap 29 orang pada Oktober 2025. Jin didakwa “menggunakan jaringan informasi secara ilegal” karena berkhotbah secara daring dalam gereja yang tidak terdaftar dan beroperasi di luar pengawasan pemerintah.
Menurut Grace Jin Drexel, putri pendeta Jin, kondisi ayahnya “tidak dalam kondisi yang baik di penjara” dan ia menderita diabetes. Meski demikian, Drexel tetap bersikap “optimis dengan kehati-hatian” setelah Trump menyebut bahwa Xi mempertimbangkan pembebasan pendeta tersebut. Drexel juga mengungkap bahwa Jin telah menyampaikan kepada otoritas Cina bahwa ia bersedia pensiun dari gereja dan pindah ke Amerika Serikat (AS) jika dibebaskan.
Jimmy Lai dan Tuduhan Kolusi Asing
Sementara itu, Jimmy Lai dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada bulan Februari atas tuduhan kolusi asing dan penghasutan terkait kepemilikannya atas surat kabar prodemokrasi Apple Daily yang kini telah ditutup. Lai telah ditahan sejak penangkapannya pada 2020 dan menjadi salah satu tokoh paling menonjol yang dipenjara berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional Cina yang membungkam perbedaan pendapat di Hong Kong.
Putri Lai, Claire Lai, mengucapkan terima kasih kepada pemerintahan Trump atas “komitmennya untuk membebaskan ayah saya”, saat menerima Freedom Award untuk ayahnya dari Freedom House pekan lalu.
Perkembangan yang Lambat dan Harapan Masa Depan
Setelah pertemuan tersebut, keluarga Jin dan Lai menyampaikan terima kasih kepada Trump dan Gedung Putih atas dukungan yang diberikan dalam pertemuan penting tersebut. Namun, sejak pernyataan Trump tersebut, belum ada perkembangan baru dari Washington maupun Beijing.
Mark Clifford, Presiden Committee for Freedom in Hong Kong dan mantan direktur Next Digital, mengatakan bahwa para aktivis sangat memperhatikan kunjungan Xi Jinping ke Gedung Putih pada September mendatang. Ia menilai bahwa meskipun Trump mencoba meredam ekspektasi, hal itu tidak mustahil.
Clifford juga meyoroti kemungkinan Jimmy Lai menjadi bagian dari pertukaran tahanan, merujuk pada kasus eksekutif Huawei Meng Wanzhou yang terhindar dari ekstradisi ke AS pada 2021. Hal ini dianggap secara luas sebagai pertukaran tidak langsung dengan dua warga Kanada yang ditahan di Cina, meskipun Beijing membantah keterkaitan tersebut.
Tekanan Diplomatis dan Ekonomi
Aleksandra Bielakowska, manajer advokasi Reporters Without Borders untuk Asia-Pasifik, menilai kunjungan Xi ke Washington pada September sebagai peluang untuk kembali mendorong pembebasan Lai karena keputusan semacam itu dapat diumumkan selama pertemuan. Ia juga menekankan bahwa Jimmy Lai adalah warga negara Inggris, sehingga Inggris seharusnya berbuat lebih untuk membebaskannya.
Jared Genser, pengacara HAM yang pernah menjadi penasihat hukum pro bono bagi peraih Nobel Liu Xiaobo, menyerukan dukungan lebih luas selain yang diberikan AS. Ia menilai bahwa tekanan harus datang dari lebih banyak negara, bukan hanya Amerika Serikat.
Bielakowska menambahkan bahwa pengaruh utama AS dan Eropa terhadap Cina terletak pada perdagangan dan bisnis. Ia menekankan bahwa hubungan dagang Cina dengan negara lain tetap krusial dan menjadi titik yang rentan.



