Perjalanan Prof. Dr. Ahmad Rajafi dalam Dunia Pendidikan dan Keagamaan
Prof. Dr. Ahmad Rajafi, M.HI., memiliki kisah inspiratif yang menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai seorang pengajar di bidang agama. Bagi beliau, menjadi seorang guru adalah panggilan hati. Dari kecil, ia sudah memiliki keinginan untuk menjadi seperti kakek dan ayahnya, yang sama-sama terlibat dalam dunia keilmuan Islam.
Kakeknya adalah seorang Kyai yang mengajarkan kitab-kitab klasik Islam, sedangkan ayahnya adalah seorang dosen. Hal ini membentuk fondasi awal bagi minat dan bakat Prof. Dr. Ahmad Rajafi dalam pendidikan dan keagamaan. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Pesantren La Tahzan, Banten. Di sana, ia bertemu dengan Apoy, gitaris Wali Band, yang merupakan kakak kelasnya.
Dalam sebuah podcast yang diadakan di Kantor Tribun Manado, Prof. Dr. Ahmad Rajafi berbagi kisah hidupnya secara lengkap. Ia menjelaskan bagaimana masa kecilnya di Provinsi Lampung pada tahun 1984, di mana ayahnya bekerja sebagai PNS dengan penghasilan yang tidak seberapa. Dari ibunya, ia mendapat pembelajaran langsung tentang ngaji. Bahkan, saudara-saudaranya masih aktif mengajar ngaji hingga usia 75 tahun.
Saat itu, ia ingin masuk pesantren sejak kelas 4 SD. Meskipun orang tua menginginkannya tetap tinggal di Lampung, akhirnya ia dipindahkan ke Pesantren La Tansa di Banten. Di sana, ia bisa menikmati pendidikan gratis selama enam tahun. Selain itu, ia juga kuliah di IAIN Lampung sambil mengajar di pesantren. Jarak antara pesantren dan kampus hanya sekitar 40 menit.
Filosofi “Mencuci Piring” dan Ambisi Besar
Salah satu filosofi yang paling membekas dalam diri Prof. Dr. Ahmad Rajafi adalah “mencuci piring”. Ini mengajarkan bahwa jika seseorang memulai sesuatu, ia harus menyelesaikannya dengan baik. Filosofi ini membentuk kepribadiannya sebagai seorang profesional. Ia percaya bahwa ilmu yang setengah-setengah bisa berbahaya, baik dalam bidang medis maupun agama.
Selain itu, ambisi besar Prof. Dr. Ahmad Rajafi adalah membawa IAIN Manado menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang menjadi pusat kajian moderasi beragama di Asia Tenggara. Ia ingin UIN Manado menjadi tempat yang menerima semua kalangan, termasuk non-Muslim, tanpa memaksa mereka untuk memahami keislaman, tetapi memberikan pemahaman tentang model pendidikan Islam.
Persiapan Menuju UIN dan Pembangunan Kampus
Persiapan IAIN Manado menuju UIN telah mencapai tahap akhir. Saat ini, seluruh berkas telah selesai. Harapan besar Prof. Dr. Ahmad Rajafi adalah agar UIN Manado dapat sah pada tahun 2026. Selain itu, pembangunan tiga kampus utama telah dimulai. Kampus pertama berada di Jalan Ring Road, kampus kedua di Wori, Minahasa Utara, dan kampus ketiga di Bolmong.
Selain itu, IAIN Manado juga sedang membangun gedung Fakultas Kesehatan dan Kedokteran. Prof. Dr. Ahmad Rajafi berharap proyek ini dapat selesai pada tahun 2027.
Legasi dan Harapan untuk Masa Depan
Dalam satu kalimat, legasi terbesar yang ingin ditinggalkan oleh Prof. Dr. Ahmad Rajafi adalah “majukan bersama”. Ia percaya bahwa keberhasilan tidak hanya datang dari dirinya sendiri, tetapi dari kebersamaan dan kerja sama. Ia ingin UIN Manado menjadi jalan kebersamaan yang tidak hanya milik orang Islam, tetapi juga milik seluruh masyarakat Sulawesi Utara.
Harapan besar Prof. Dr. Ahmad Rajafi adalah agar UIN Manado dapat menjadi pusat kajian moderasi beragama yang terimplementasi dalam kehidupan sosial. Ia percaya bahwa dengan SDM yang baik, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat Sulawesi Utara.





